Peran Amerika dalam Menghilangkan Pengaruh Komunisme di Indonesia

Share the idea

Indonesia memproklamirkan kemerdekaannya pada 17 Agustus 1945 bersamaan dengan menyerahnya balatentara Jepang kepada kekuatan sekutu pada bulan itu juga. Menurut perjanjian internasional, seluruh wilayah Asia Pasifik yang dikuasai Jepang akan dikembalikan kepada pemerintahan kolonial sebelumnya, maka Indonesia akan dikembalikan kepada Belanda yang pada tahap awal akan diwakili oleh wali Belanda yaitu Inggris. Upaya ini rupanya diketahui oleh pihak Indonesia sehingga menimbulkan perlawanan baik terhadap Inggris maupun Belanda. Kuatnya perlawanan memaksa Amerika untuk terjun ke Indonesia namun yang ada hanyalah perlawanan rakyat Indonesia yang tiada henti terhadap segala kekuatan penjajah.

Kondisi Indonesia di bawah kekuasaan Soekarno yang mencanangkan konsep berdikari tentu saja merepotkan para penguasa dunia; Amerika Serikat, Uni Soviet, dan Inggris. Inggris sangat bernafsu menguasai Indonesia dengan mendukung kembalinya kekuasaan kolonial Belanda. Upaya Inggris yang bekerjasama dengan RRC mendukung imigrasi besar-besaran etnis Tionghoa serta ‘menutup mata’ pada pertumbuhan Komunisme di Indonesia.

Meskipun berupaya membendung komunisme di seluruh dunia, Amerika Serikat juga ‘menutup mata’ pada apa yang dilakukan oleh intelejen Inggris pada Indonesia. Amerika Serikat sendiri bersama Uni Soviet berupaya mengakhiri semua penguasa klasik di Asia Tenggara, mereka berdua berhasil mengakhiri kekuasaan Prancis di Indochina atau Vietnam. Kini tiba giliran mengakhiri kekuasaan Inggris di Asia Tenggara. Untuk hal ini Amerika dan Uni Soviet berpura-pura mendukung Indonesia dalam upayanya melawan Belanda yang didukung Inggris.

Amerika Serikat menekan Belanda melalui dewan keamanan PBB sedangkan Uni Soviet menyuplai persenjataan Indonesia dalam upaya merebut Irian Barat. Mereka berdua melalui agen-agennya seperti Gamal Abdel  Nasser, Joseph Broz Tito, dan Jawaharlal Nehru berhasil menggandeng Soekarno untuk membentuk Gerakan Non Blok yang misi utamanya adalah untuk memukul Inggris di seluruh wilayah jajahannya.

Inggris membalas hal tersebut dengan membentuk Federasi Malaysia dan menciptakan konflik dengan Indonesia. Indonesia sendiri pada akhirnya masuk ke dalam jejaring permainan para penguasa dunia, yaitu Amerika Serikat, Uni Soviet, dan Inggris. Tiongkok atau Cina sendiri masuk dalam permainan ini sebagai alat untuk menekan Indonesia sekaligus tameng bagi para penguasa andai terjadi chaos di Indonesia.

Pada akhirnya pemerintahan Soekarno yang merepotkan harus diakhiri. Inggris dalam hal ini kelelahan dalam upayanya menguasai Indonesia, namun dia berhasil setidaknya mengamankan wilayah jajahannya yaitu Malaysia dan Singapura dari cengkeraman Amerika Serikat (meskipun pada akhirnya Singapura membelot ke kubu Amerika). Inggris juga berhasil menanam bom waktu yang besar di Indonesia yaitu gerakan Komunis yang didukung oleh RRC.

Kini saatnya Amerika Serikat mengosongkan panggung politik Indonesia dan menempatkan Indonesia secara sepenuhnya dalam kendalinya. Amerika Serikat mulai mendukung gerakan anti komunis di Indonesia. Uni Soviet yang terikat perjanjian dengan Amerika akan ‘menutup mata’ pada upaya yang dilakukan oleh Amerika terhadap gerakan Komunis di Indonesia.

Pada akhirnya kegaduhan politik yang diciptakan Amerika Serikat sejak awal dekade 60-an mencapai puncaknya pada 30 September 1965. PKI berhasil diprovokasi dan selanjutnya membawa implikasi pada jatuhnya pemerintahan Soekarno dan jatuhnya Indonesia kepada era penjajahan baru ala Amerika Serikat. Yang paling terpukul selain Indonesia adalah RRC dan etnis Tionghoa, digunakan sebagai senjata pada akhirnya dialah pion pertama yang harus dikorbankan.

Maka hari ini apabila muncul pertanyaan apakah CIA terlibat G30S/PKI? jawabannya adalah iya. Tidak perlu repot-repot karena pada era yang sama terjadi peristiwa yang serupa dengan Indonesia yaitu di Kamboja dan Chili, siapa dalangnya? Siapa lagi kalau bukan Amerika. []

Sumber :

Beggy Rizkiansyah, dkk. 2017. Dari Kata Menjadi Senjata : Konfrontasi Partai Komunis Indonesia dengan Umat Islam. Penerbit Jurnalis Islam Bersatu (JITU): Jakarta.

Salim Haji Said. 2015. Gestapu 65: PKI, Aidit, Sukarno, dan Soeharto. Mizan Pustaka. Bandung.

Taqiyuddin An-Nabhani. 2005. Mafahim Siyasiyah li Hizbit Tahrir (Edisi Mu’tamadah).

Share the idea

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *