One Piece Review: Apa Sih Maksud Anarkisme yang Diserukan oleh Kaidou?

Share the idea

Ada sebuah fenomena menarik dari chapter terbaru manga “One Piece”. Pada chapter 1049, Kaidou selaku antagonis utama dari arc (cerita) negeri Wano, dalam flashback nya menyatakan (baca dari kanan ke kiri),

Bagi siapapun yang tertarik mendalami komparasi antar ideologi maupun cabang-cabangnya, ungkapan Kaido adalah slogan khas yang biasa digaungkan oleh kalangan anarko, yakni para pendukung anarkisme.

Sebagai pengantar, anarkisme merupakan salah satu gerakan kiri yang menggunakan berbagai pemikiran Karl Marx (selaku pengusung komunisme) sebagai bagian dari basis perjuangan mereka, meski jika dirinci secara khusus, masing-masing aliran anarkisme tentu akan memiliki pendapat yang berbeda (bahkan bertentangan) dengan pemikiran Karl Marx itu sendiri.

Anarkisme selama ini seringkali disalahartikan sebagai suatu prinsip yang hanya identik dengan hal-hal yang bernuansa destruktif dan chaotic. Padahal, kritik maupun perjuangan mereka pada dasarnya diarahkan kepada otoritas yang selama ini disebut sebagai “negara”.

Menurut mereka, otoritas politik (khususnya yang dibentuk oleh kapitalisme) hanya akan menghasilkan penindasan, eksploitasi, perbudakan, serta degradasi manusia yang mewujud dalam apa yang kita sebut sebagai “negara”. Maka, mereka ingin memusnahkan otoritas yang bernama “negara” tersebut.

Ekspresi kebencian para anarko terhadap “negara”, salah satunya ditunjukkan dalam panel berikut, (baca dari kanan ke kiri)

Manusia dianggap mampu memberi manfaat terbaik bagi masyarakat jika tidak diperintah oleh belenggu otoritas. Sebab, menurut anarkisme, manusia merupakan makhluk sosial yang pada dasarnya baik, dan secara alamiah mampu hidup secara harmoni dan bebas tanpa diikat oleh intervensi kekuasaan. Maka, kehidupan manusia selayaknya dibangun berdasarkan solidaritas.

Bentuk “negara” yang ditentang oleh anarkisme, dapat kita pahami melalui pernyataan Mikhail Bakunin (1814-1876) selaku salah satu tokoh sentral anarkisme,

“Saya bukanlah seorang komunis, karena komunisme mempersatukan (memaksa) masyarakat dalam negara dan menyebabkan konsentrasi kekayaan di dalam negara. Sedangkan saya ingin memusnahkan negara, (yaitu) pemusnahan semua prinsip otoritas dan kenegaraan, yang dalam kemunafikannya ingin membuat manusia bermoral dan berbudaya, tetapi sampai sekarang selalu memperbudak, mengeksploitasi, dan menghancurkan mereka.”

Maka, negara yang ditolak oleh anarkisme bukan dalam artian “administrasi sistem politik”, melainkan penolakan tegas terhadap gagasan tentang suatu tatanan berkuasa yang menuntut, memaksa, menindas, dan menghendaki kepatuhan warganya (kalau perlu nyawa warganegaranya) dalam otoritas sentral yang disakralkan dalam wujud negara. Jadi, anarkisme tetaplah membutuhkan sebuah negara, namun apa yang diinginkan adalah sebuah perubahan sistem tanpa penindasan.

Anarkisme kemudian berusaha melenyapkan struktur-struktur yang menindas dan eksploitatif dalam masyarakat (seperti yang kapitalisme lakukan), dan bercita-cita membangun tatanan masyarakat di mana semua orang memiliki keterlibatan yang bebas, setara, dan tanpa paksaan dalam membuat keputusan untuk mempengaruhi kehidupan mereka.

Namun, realita sejarah berkata lain. Rangkaian peristiwa yang melatarbelakangi bergesernya sistem politik Rusia dan Tiongkok, hanya memperjelas utopia gerakan kiri: bahwa pada akhirnya, mereka hanya akan menjadi elit birokrat yang korup dan senantiasa melayani kapitalis. Mereka harus menelan ludah mereka sendiri.

Hal ini semakin menguatkan kritik seorang sosialis Inggris, George Orwell, yang kecewa dengan realisasi pemerintahan sosialis Soviet yang di luar dugaan, berujung pada totalitarisme. Kritik atas gerakan-gerakan sejenis kemudian ia sampaikan dalam novel satire berjudul, “Animal Farm”.

Satire dari novel “Animal Farm” kemudian menyiratkan, bahwa mereka (gerakan-gerakan kiri) hanyalah sekumpulan manusia yang hanya bermodal semangat untuk melepaskan diri dari ketertindasan, namun tidak diiringi oleh metode dan konsep alternatif yang jelas.

Walhasil, siklus yang sama akan berulang, bahwa mereka hanya keluar dari penindas yang satu menuju penindas baru yang lain. Revolusi sosialisme telah mencapai puncak, tapi justru dikhianati oleh kebijakan kapitalis yang mereka lakukan sendiri di kemudian hari.

Kritik serupa juga disampaikan Franz Magnis Suseno dalam buku “Dari Mao ke Marcuse” yang mengutip pertanyaan Charles Taylor dalam buku “A Secular Age”. Mereka mempertanyakan,

“Bagaimana mungkin cita-cita Marx dan Lenin yang ingin membebaskan umat manusia dari ketertindasan, penghinaan, eksploitasi, dan keterasingan dapat melahirkan suatu sistem penindasan tanpa tara, dengan puluhan juta orang terbunuh dan tersiksa serta terhancurkan dalam gulag-gulag?”

Kontradiksi inilah yang juga justru dilakukan oleh Kaidou ketika berhasil menguasai Wano. Alih-alih menerapkan cita-cita anarkisme, ia justru menciptakan penindasan lain yang tak jauh berbeda dengan apa yang dilakukan oleh pemerintah dunia.

Pada akhirnya, gerakan kiri harus menelan ludahnya sendiri. Sebab, hasil revolusi yang mereka lakukan ternyata tak lebih baik (bahkan lebih parah) dari kapitalisme yang selama ini mereka kritik.

Polarisasi dua kutub antara “ideologi” (mabda’) kapitalisme dan komunisme hanya menghasilkan paradoks. Kita tentu tak menginginkan kapitalisme yang individualis, menindas, merusak, dan menghasilkan jurang kesenjangan. Namun, ternyata komunisme yang sering digadang-gadang menjadi solusi itu, nasibnya juga berakhir sama dengan kapitalisme, hanya melalui cara yang berbeda.

Begitulah kita. Bahkan sejak awal, Allah memang sudah menjamin bahwa manusia memang makhluk yang senantiasa berbuat kerusakan. Itulah mengapa, manusia memang tidak diperkenankan untuk membuat aturan hidupnya sendiri. Aturan itu, ternyata mutlak harus berasal dari Allah: dzat yang menciptakan dan tentu saja, derajatnya lebih tinggi dari manusia.[]

Sumber dan Rekomendasi Bacaan:

Tulisan ini disarikan dari 4 artikel analisis Komunitas Literasi Islam yang terkait dengan komunisme dan anarkisme, yakni:
1. Layakkah Komunisme Digunakan Sebagai Aturan Hidup Manusia? https://literasiislam.com/layakkah-komunisme-digunakan-sebagai-aturan-hidup-manusia/
2. Apa Sih yang Sebenarnya Diinginkan oleh Anarkisme? https://literasiislam.com/apa-sih-yang-diinginkan-oleh-anarkisme/
3. Para Babi Komunis Itu, Nyatanya Berubah Juga Menjadi Kapitalis https://literasiislam.com/para-babi-komunis-itu-nyatanya-berubah-juga-menjadi-kapitalis/
4. Siasat Oligarki di Wano Kuni https://literasiislam.com/siasat-oligarki-di-wano-kuni/

Share the idea

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.