Pesan-Pesan Menggugah Umar Bin Abdul Aziz

Share the idea

“Inna lillaahi wa inna ilaihi rooji’uun”

Adalah pesan pertama yang ia ucapkan ketika mendengar dirinya diangkat menjadi Khalifah. Ia begitu menyadari, bahwa kekuasaan itu hanyalah sebuah titipan yang kelak akan berakhir dan harus dipertanggungjawabkan. Seketika, ia berubah dari dari seorang pemuda yang gemar berfoya-foya menjadi pemimpin yang zuhud.

Sekembalinya Umar dari mengurus jenazah Sulaiman bin Abdul Malik (Khalifah sebelumnya), raut wajahnya terlihat cemas. Seorang pembantunya berkata, “Apakah karena jabatan ini engkau cemas?”, Umar menjawab, “Celaka kamu! Bagaimana aku tidak cemas, karena tidak ada seorang pun dari penduduk di barat dan di timur, melainkan mereka akan menuntut kepadaku hak-haknya, baik tertulis ataupun tidak.” Dalam riwayat yang lain, Umar menjawab, “Orang dalam posisi sepertiku ini sudah seharusnya bersedih dan berwajah cemas. Sungguh, aku ingin mengembalikan semua hak umat ini tanpa mereka harus menulis surat permohonan kepadaku.”

Ungkapan tersebut betul-betul menunjukkan kesadarannya atas tanggung jawab seorang pemimpin, sehingga menjadikan dirinya sebagai “pelayan” yang senantiasa mendahulukan kepentingan rakyatnya.

Umar mengakui, bahwa ia tak pernah menginginkan untuk menjadi Khalifah, “Demi Allah, sungguh aku tak pernah satu kali pun memohon perkara ini kepada Allah.”

Dalam pidato pengangkatannya sebagai Khalifah, ia menyampaikan bagaimana hakikatnya seorang pemimpin di dalam sistem Islam – yaitu sebagai pelaksana syariat, dan bukan pembuat syariat, “Saudara-saudara hadirin, sesungguhnya tidak ada kitab suci setelah Al-Qur’an dan tidak ada nabi setelah Muhammad. Ketahuilah, bahwa aku bukanlah pembuat undang-undang, melainkan hanya pelaksana. Aku bukan pula pembuat ajaran-ajaran baru (bid’ah), melainkan hanya pengikut. Aku bukan orang yang terbaik di antara kalian, tetapi justru akulah yang memikul beban demikian berat. Sesungguhnya, seseorang yang melarikan diri dari penguasa yang dzalim bukanlah orang yang dzalim. Ketahuilah, bahwa tidak ada ketaatan kepada makhluk jika ia bermaksiat.”

Ia sangat memerhatikan orang-orang yang bekerja bersamanya. Sang Amirul Mukiminin senantiasa menutup celah-celah suap, korupsi-kolusi-nepotisme dan berbagai perbuatan yang condong kepada pemanfaatan jabatan demi kepentingan golongannya.

Salah satu upaya tersebut dengan mencukupi seluruh kebutuhan pegawai pemerintah. Ia mengatakan, “Jika kebutuhan mereka telah tercukupi, mereka hanya akan disibukkan dengan mengurus kaum muslimin.” Tak lupa, Umar pun senantiasa berpesan kepada pegawai pemerintahnya untuk mengingat karunia Tuhannya, “Jauhilah kesibukan kalian jika datang waktu shalat”.

Ketika para bawahannya menulis surat kepada Umar untuk memberikan dana bagi perbaikan kota dan membacanya sebagai upaya penyalahgunaan dana dan berbuat dzalim, Umar membalas surat tersebut, “Setelah kalian membaca surat ini, jagalah kota dengan cara bersikap adil dan bersihkanlah jalannya dari kedzaliman, sebab itulah sebenar-benar perbaikan.”

Untuk itu, Umar telah memberikan teladan penuh untuk senantiasa menjadi pemimpin yang zuhud dan qona’ah, yang bahkan ia lakukan sejak pertama kali ia menjabat sebagai Khalifah. Ketika orang-orang membawakan kendaraan khusus bagi Khalifah, Umar berkata, “Kirim kendaraan-kendaraan itu ke pasar untuk dijual lalu simpan hasil penjualannya di baitul maal. Aku cukup naik kendaraanku sendiri.”

Jarrah bin Abdillah, Gubernur Khurasan, pernah menulis surat kepada Khalifah, “Sungguh, penduduk Khurasan adalah orang-orang bandel dan sulit diatur, kecuali dengan pedang dan cemeti. Jika Amirul Mukminin mengizinkan aku untuk memerintahkan mereka dengan pedang dan cemeti, niscaya akan kulakukan dengan senang hati.”

Umar pun membalas, “Telah sampai surat yang kau kirimkan kepadaku, yang menyatakan bahwa penduduk Khurasan tidak bisa diatur, kecuali dengan pedang dan cemeti. Namun, aku yakin bahwa apa yang kau katakan itu bohong belaka. Mereka pasti bisa diatur dan diperbaiki dengan keadilan dan kebenaran. Oleh karena itu, sebarkanlah hal itu di antara mereka.”

Salah seorang penduduknya memuji prestasi Umar dan mengatakan, “Semoga Allah membalas kebaikanmu karena telah berbuat baik untuk Islam.” Lalu Umar menjawab, “Tidak, tetapi Allah telah memberikan bagiku dari Islam ini sebuah kebaikan.”

Umar tidak pernah merasa puas atas prestasinya. Sekali lagi, hal ini adalah karena kesadaran penuh atas beratnya pertanggungjawaban ketika yaumul hisab telah tiba. Berkaitan dengan hal inii, Fatimah (istri Umar bin Abdul Aziz), senantiasa melihat suaminya beribadah kepada Rabbnya dengan bergelimang air mata yang membasahi jenggotnya. Fatimah berkata, “Wahai Amirul Mukminin, segala sesuatu itu baru adanya.” Umar menjawab, “Wahai Fatimah, sesungguhnya aku memikul beban umat Muhammad dari yang hitam sampai yang merah. Aku memikirkan masalah orang yang fakir dan yang kelaparan, orang yang sakit dan yang terlantar, orang yang tak punya pakaian dan yang tersisihkan, orang yang teraniaya dan yang terintimidasi, yang terasing dan yang ditawan, yang tua dan yang jompo, yang punya banyak kerabat tetapi hanya punya sedikit harta, dan orang-orang yang serupa dengan itu di seluruh pelosok negeri. Aku sadar dan tahu bahwa Tuhanku akan menanyakannya kelak pada hari kiamat. Aku khawatir, saat itu aku tidak punya alasan buat Tuhanku. Jadi, menangislah aku.”

Kesadaran tersebut telah terikat kuat dalam dirinya bahkan sejak sebelum menjadi Khalifah. Ketika sedang wukuf di Arafah, Umar pernah memberikan nasihat kepada Khalifah Sulaiman bin Abdul Malik, selaku Khalifah yang saat itu sedang menjabat, “Mereka semua adalah rakyatmu hari ini dan engkau akan dimintai pertanggungjawaban terhadap nasib mereka nanti.” Dalam riwayat yang lain, Umar mengatakan, “Mereka akan menjadi musuhmu kelak di hari kiamat.”

Ia senantiasa mengamalkan apa yang pernah ia ucapkan, “Banyak-banyaklah mengingat mati. Kalau berada dalam kesempitan hidup, engkau akan merasa lapang dengan mengingatnya. Kalau berada dalam kelapangan hidup, engkau akan merasa sempit dengan mengingatnya.”

Termasuk juga, dengan ucapannya yang membuka tabir kesuksesannya sebagai Khalifah, “Perbaikilah perbuatan kalian yang tersembunyi, niscaya perbuatan yang terlihat akan menjadi baik. Berbuat baiklah untuk akhiratmu, maka Allah akan mencukupkan kebutuhan duniamu.”

Seorang lelaki pernah berkata kepada Umar, “Wahai Amirul Mukminin, berilah aku nasihat.” Umar berkata, “Kunasihatkan, handaknya engkau bertakwa kepada Allah dan mendahulukan Allah di atas semua kepentinganmu, niscaya Allah menjadikan bebanmu terasa ringan dan engkau akan ditolong oleh-Nya.”

Menjelang wafatnya, Umar hanya meninggalkan harta sebanyak 400 dinar, sangat jauh dibandingkan sebelum ia menjadi Khalifah, yaitu 40 ribu dinar. Anak-anak Umar ditinggalkan dalam keadaan faqir. Umar pun berkata seraya mengutip ayat dari Surat Al-A’raf 195, “Sesungguhnya pelindungku adalah Allah, yang menurunkan Al-Kitab, dan Dia melindungi orang-orang yang shaleh”. Demi Allah, aku tidak memberikan hakku kepada mereka dalam urusan harta, akan tetapi mereka berada di antara dua pijakan; jika mereka shaleh, maka Allahlah yang akan menjadi pelindung bagi orang-orang shaleh. Dan jika mereka tidak shaleh, maka aku tidak bisa menolong atas kefasikannya.”

Terhadap pemimpin umat Islam penerusnya, Yazid bin Abdul Malik, Umar bin Abdul Aziz mewasiatkan, “Semoga keselamatan selalu tercurah kepadamu. Sesungguhnya, aku hanya melihat apa yang ada pada diriku sendiri. Karena itu, kuingatkan engkau, jagalah umat Muhammad sebab engkau akan meninggalkan dunia (kekayaan dan kekuasaan) kepada orang-orang yang sama sekali tidak akan memujimu. Engkau akan menghadap kepada dzat yang tidak akan memberimu ampunan. Wassalam.” []

Sumber :

Hepi Andi Bastoni. 2008. Sejarah Para Khalifah. Pustaka Al-Kautsar: Jakarta.

Imam As-Suyuthi. 2015. Tarikh Khulafa’: Sejarah Para Khalifah. Qisthi Press: Jakarta.

Tim Riset dan Studi Islam Mesir. 2013. Ensiklopedi Sejarah Islam. Pustaka Al-Kautsar: Jakarta.  

Share the idea

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *