Strategi Rasulullah Menaklukkan Yahudi

Share the idea

Nubuat. Itulah alasan mengapa bangsa Yahudi berpindah dari Syam menuju Jazirah. Menurut Hushain bin Salam (nantinya namanya diganti oleh Rasulullah menjadi Abdullah bin Salam), bangsanya berpindah dari Syam menuju Jazirah karena nubuat yang tertera dalam kitab suci Taurat yang menyatakan bahwa Nabi terakhir akan muncul di kota yang banyak ditumbuhi pohon kurma. Hunian bangsa Yahudi kemudian berpusat di tiga tempat: Yastrib, Khaibar, dan Wadi al-Quro’. Di sana, mereka membangun hunian, pasar, dan benteng-benteng yang kuat.

Penampakan Benteng Khaibar

Ketika gelombang migrasi bangsa Arab dari Yaman berlangsung, bangsa Yahudi telah terlebih dahulu mendiami dan berkuasa atas Yastrib. Mereka berkuasa dengan dzalim dan lalim, hingga memicu kudeta bangsa Arab yang dibantu oleh kerajaan Arab Ghassan yang berkuasa di utara Jazirah. Kudeta itu mengakhiri kekuasaan Yahudi atas Yastrib, tapi secara de facto mereka masih menguasai pasar-pasar di Yastrib dan memiliki perbentengan yang kuat di dalam dan luar kota. Persaingan antara dua suku Arab, Aus dan Khazraj digunakan oleh bangsa Yahudi untuk merongrong kekuasaan Arab di Yastrib hingga kedatangan Islam.

Bangsa Yahudi dengan jeli memanfaatkan persaingan tersebut dan menjadi pemicu beberapa peperangan antara Aus dan Khazraj, salah satunya adalah perang Buats. Mereka juga sering menekan sekutu Arabnya dengan ancaman atas datangnya seorang Nabi yang akan membela mereka dan membantai orang-orang musyrikin Arab. Pada umumnya bangsa Yahudi memiliki watak sombong yang menganggap ajaran Yahudi hanya untuk bangsa Yahudi dan merasa bahwa bangsa mereka lebih tinggi dibandingkan bangsa Arab.

Rasa benci, hasad dan dengki mereka semakin menjadi-jadi sejak datangnya Rasulullah dan penegakan Daulah Islam di Madinah. Terlebih, ketika Islam ternyata berhasil menyatukan dua kaum yang senantiasa berseteru, Aus dan Khazraj.

Dengan terpaksa, mereka mengikat perjanjian dengan Daulah Islam. Namun, ternyata mereka merencanakan makar terhadap kaum muslimin dan mengobarkan perang pemikiran yang semakin menunjukkan permusuhan mereka. Misalnya pasca perang Badr al-Kubro, orang-orang Yahudi mengejek bahwa kemenangan kaum muslimin terhadap musyrikin Mekkah adalah karena orang-orang Mekkah tidak jago dalah berperang. Dengan sombongnya mereka menyatakan bahwa merekalah, bangsa Yahudi, yang paling jago perang.

Mereka juga memicu kekacauan dengan melakukan pelecehan kepada seorang muslimah dan membunuh seorang muslim yang membela muslimah tersebut. Akibat ulah mereka ini, umat Islam yang awalnya bersepakat dalam perjanjian damai dan menganggap mereka sebagai kafir dzimmi, mengubah status mereka menjadi kafir harbi yang wajib diperangi dan ditumpas oleh Daulah Islam.

Dimulai dari pengusiran Bani Qainuqa karena memicu kerusuhan, kemudian pengepungan dan pengusiran Bani Nadhir akibat upaya pemberontakan terhadap Daulah dan pembunuhan terhadap Rasulullah. Selanjutnya adalah pengepungan dan pemenggalan terhadap Bani Quraidzhah akibat penghianatan atas perjanjian damai mereka pada perang Ahzab yang nyaris memusnahkan eksistensi umat Islam. Terakhir adalah pertempuran Khaibar, dimana pasukan Daulah Islam memusnahkan kantong Yahudi terbesar di Jazirah Arab. Sejak saat itu, hilanglah eksistensi Yahudi dan redalah perlawanan mereka.

Bentuk strategi perang Rasulullah terhadap Yahudi adalah dengan memahami psikologi mereka yang terkenal pengecut dan sangat mencintai harta. Dengan pemahaman yang mendalam terhadap sifat dan tingkah polah mereka, Rasulullah melancarkan serangan non konvensional dan konvensional kepada Yahudi.

Serangan non konvensional digunakan untuk meruntuhkan moril Yahudi. Serangan itu berupa penculikan dan pembunuhan para petinggi Yahudi baik di Madinah maupun di Khaibar. Berikutnya, Rasulullah melakukan perang konvensional dengan melakukan pengepungan benteng-benteng Yahudi.

Pengepungan ketat dan taktis rupanya mampu menggulung serta mematahkan mitos terkait kekuatan pertahanan kaum Yahudi. Ada catatan luar biasa dalam strategi Rasulullah, yaitu penggunaan serangan kilat ketika melakukan serbuan ke Khaibar. Strategi di pertempuran Khaibar inilah yang pada nantinya menginspirasi strategi blitzkrieg Jerman pada PD II, dimana Jerman menginvasi Polandia ketika penduduknya masih terlelap tidur.

Saat ini Israel sebagai entitas negara Yahudi menunjukkan dirinya sebagai negara yang paling siap berperang dengan kaum muslimin khususnya negara-negara Arab di sekelilingnya. Kemenangan demi kemenangan yang Israel raih atas koalisi Arab pada beberapa dekade silam membuatnya menjadi pemain penting pada perpolitikan kawasan Timur Tengah. Terlebih pasca kekalahan dengan Israel, negara-negara Arab seperti Mesir, Yordania termasuk Turki memilih menjalin hubungan diplomatik dengan Israel dan meninggalkan bangsa Palestina sendirian.

Kondisi Israel saat ini seperti kondisi Yahudi sebelum kedatangan Islam di Yastrib. Dengan senjata nasionalisme dan sekularisme, mereka sukses melakukan intrik dan makar di kawasan Timur Tengah.

Dengan kekuatan sekitar 170 ribu tentara aktif, 465 ribu tentara cadangan, 8000 personel paramiliter, serta didukung alutsista modern dan canggih seperti pesawat F-15, F-16, F-35, helikopter Apache, hingga tank Merkava. Militer Israel juga didukung unit-unit pasukan khusus dan intelejen terbaik di dunia seperti Mossad, Shin Bet, atau Brigade Golani. Itu semua ditambah dengan industri militer serta konsep perang semesta yang dianut oleh Israel dimana semua warga negaranya baik pria maupun wanita adalah angkatan perang tentu membuat banyak negara tetangganya bergidik ngeri.

Inilah yang sebenarnya diinginkan Israel dan para sekondannya seperti Amerika Serikat dan Inggris: membuat takut kaum muslimin sehingga mereka tak mengganggu agenda penjajahan di negeri-negeri kaum muslimin. Walau jika kita teliti secara mendalam, sebenarnya kaum Yahudi tidak pernah mengubah strategi dan gaya pertempuran mereka. Karena yang  berubah hanyalah teknologi perang mereka.

Mulai dari beladiri Krav Maga hingga teknologi Iron Dome memperlihatkan bahwa sesungguhnya mereka bangsa defensif. Penguasaan media, lobi Yahudi, hingga pengendalian keuangan dunia adalah alat Yahudi untuk mengesankan dirinya kuat, berkuasa, dan tidak bisa dikalahkan. Masalahnya, hingga saat ini tidak ada satupun negeri kaum muslimin yang berani berhadapan secara ‘serius’, berperang dengan Israel. Hanya HAMAS, intitusi sekelas ormas yang dengan gagah berani berhadapan muka dengan Israel. Mereka dengan percaya diri menerapkan strategi perang Rasulullah ketika mengahadapi Yahudi dan efeknya membuat Israel ketar-ketir.

Kataib Izzuddin Al-Qassam, pasukan paramiliter HAMAS beberapa kali berhasil menyusup ke Israel dan melakukan serangan-serangan di pos militer terdekat. HAMAS juga secara simultan membombardir Israel dengan roket buatan tangan mereka. Tidak terbilang beberapa kali Israel melancarkan serangan besar-besaran di Palestina. Tidak terhitung sejak masa Imad Aqil, Yahya Ayyash, Abdul Aziz Al-Rantisi, hingga Syekh Ahmad Yassin, pemimpin sekaligus pendiri HAMAS yang dibunuh secara keji oleh Israel. Juga jebakan demokrasi tak kunjung pula memadamkan perlawanan HAMAS yang dibantu oleh kaum muslimin Palestina.

Hari ini Israel sedang jumawa-jumawanya sehingga dengan seenaknya melakukan tidakan adigang-adigung-adiguna. Namun seandainya ada sebuah institusi negara yang secara serius menghadapinya pasti dengan cepat, Israel tentu gulung tikar. Terbukti, menghadapi institusi sekelas ormas saja mereka tidak mampu memusnahkan.

Pertanyaannya, negara muslim mana yang mau menghadapi Israel jika negara-negara tersebut masih berkubang pada demokrasi, kapitalisme, nasionalisme, dan liberalisme yang merupakan senjata ampuh Israel untuk membungkam kekuatan kaum muslimin? []

Para pemimpin Islam berfoto dalam acara OKI (Organisasi Kerjasama Islam)

Sumber dan Rekomendasi Bacaan

Mahmud Syeit Khaththab. 2002. Rasulullah Sang Panglima. Al Alaq Pustaka. Solo.

Mustafa Kamal Wasfi. 1992. Strategi Rasulullah Menghadapi Ulah Yahudi. Pustaka Mantiq. Solo.

Prof. Dr. Muhammad Rawwas Qal’ahji. 2006. Sirah Nabawiyah: Sisi Politis Perjuangan Rasulullah SAW. Al Azhar Press. Bogor.

Taqiyuddin an-Nabhani. 2002. Daulah Islam (Cetakan ke-7). Daar al-Ummah.

Klik linktr.ee/kli.books

dan tetap terhubung

dengan seluruh media sosial Komunitas Literasi Islam

Share the idea

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *