Bagaimana Penjahat Perang Aceh Dihormati di Belanda?

Share the idea
Joannes Benedictus van Heutsz (tengah) dalam penyerangan Belanda ke Batèë Iliëk, Aceh.
12 Maret 1901.

Karena berjasa besar dalam mengakhiri Perang Aceh yang berlangsung tak kurang dari 30 tahun itu, van Heutsz sang pembantai penduduk Aceh dipromosikan menjadi Gubernur Jenderal. Ia pun dijulukan sebagai “Pacificator of Aceh”.

Sumber gambar: koleksi Tropenmuseum
Tahun 1924 tak hanya menjadi tahun duka bagi umat Islam karena kehilangan Khilafah. Baik Lenin di Soviet maupun van Heutsz, keduanya menemui ajal di tahun yang sama.

Meski tak seramai dan tak semewah Mustafa Kemal Ataturk, besarnya makam dan khidmatnya proses pemakaman van Heutsz cukup menggambarkan betapa ia adalah pahlawan yang sangat dihormati pemerintah Belanda.

Sumber gambar utama: Geheugen van Oost
Tak hanya makam. Pemerintah Belanda juga membuatkan banyak patung hingga monumen khusus untuk mengenang jasa van Heutsz.

Sebagai pemersatu wilayah jajahan Belanda di Nusantara, nampak van Heutsz yang berdiri tegak di puncak dan dicitrakan sebagai sang pencipta perdamaian dan kemakmuran: pelindung Hindia-Belanda yang terbentang dari Aceh hingga Papua.

Sumber gambar: nobodycorp
Monumen yang diresmikan pada 23 Agustus 1932 di Gondangdia ini, ternyata berakhir tragis. Tak hanya sosok van Heutsz yang raib bak ditelan bumi, pada foto yang diambil pada Oktober 1945 ini juga terlihat wujud kekesalan masyarakat yang dilampiaskan pada tembok-tembok monumen. Jawatan Pekerjaan Umum Kotapraja Jakarta Raya kemudian membongkarnya pada Januari 1953 karena “merusak pemandangan”.

Sumber gambar: koleksi Nationaal Museum van Wereldculturen
Monumen van Heutsz lainnya terletak di Amsterdam. Diresmikan oleh Ratu Wilhelmina pada 1935, monumen yang sengaja didedikasikan untuk van Heutsz ini senantiasa memunculkan protes dan kontroversi, termasuk karena pengagungan pada kelicikan van Heutsz yang membantai ribuan rakyat Aceh. Saat ini, monumen yang disebut sebagai Monument Indië-Nederland, telah direnovasi dengan menghilangkan penyantuman van Heutsz.

Sumber gambar utama: Blog indonesia-zaman-doeloe
Pada 1932, Belanda juga membangun patung van Heutsz di Kuta Raja, Banda Aceh. Pasca Indonesia merdeka, patung ini dipindah ke Bronbeek, Belanda, dan diberi penghormatan setinggi-tingginya. Sumber gambar utama: koleksi Tropenmuseum
Berbicara tentang Bronbeek, terdapat museum yang menyimpan Meriam Lada Sicupak. Tatkala Aceh kalah dari Belanda, mereka merampas meriam tersebut. Setelahnya, di meriam yang pada awalnya masih terdapat nama Khalifah ‘Utsmani sebagai tanda bantuan Khilafah, ditimpa dan diganti dengan nama Raja Willem III. Penindihan nama tersebut adalah simbol, bahwa Belanda berhasil menaklukkan kesultanan terkuat di Asia Tenggara, yaitu Aceh.

Sumber gambar: statusaceh.net
Share the idea

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *