Investasi Jepang Di Republik Para Wibu

Share the idea

Penulis: Muhammad Fatkhurrozi

Proyek Pelabuhan Patimban yang tahap awalnya diresmikan pada 20 Desember lalu, akan mulai melaksanakan tugasnya sebagai hub impor-ekspor pendukung Pelabuhan Tanjung Priok yang tak lagi efisien. Sebagai bagian dari proyek strategis nasional (PSN)[1] yang direncanakan menjadi pelabuhan terakbar di Indonesia, Patimban juga diharapkan mampu meringankan sengkarut logistik dan underinvestment sektor infrastruktur Indonesia yang menyebabkan minus 1 persen angka pertumbuhan GDP (tahun 2004 hingga 2014)[2]. Selain itu, pelabuhan baru ini juga ditargetkan mampu membuka hingga 4,3 juta lowongan kerja dalam 15 tahun ke depan serta pertumbuhan ekonomi hingga 14 persen[3].

Sumber pendanaan pelabuhan yang diperkirakan mencapai Rp 43,2 triliun[4] itu diperoleh melalui pinjaman dari pemerintah Jepang (terhitung sebagai dana APBN) dan skema Kerjasama Pemerintah Badan Usaha (KPBU) agar tidak bergantung pada APBN[5, 6]. Pemerintah Jepang membiayainya lewat The Japan International Cooperation Agency (JICA), sebuah badan bantuan untuk negara-negara yang ‘perlu’ dibantu. Di berbagai negara berkembang (termasuk Indonesia), JICA (dan pemerintah Jepang) telah lama berkiprah melalui program yang dinamakan official development assistance (ODA).

Kerjasama tersebut sudah diinisiasi sejak tahun 1950an dengan pengiriman berbagai pelajar ke Negeri Sakura. Kurun tahun 1950-1960an, Jepang berperan dalam pembangunan beberapa bendungan besar, seperti Bendungan Karangkates (Blitar), Kali Konto (Kediri), dan Riam Kanan (Banjar). Di masa sekarang, Jepang juga membantu proyek ambisius pemerintah dalam pembangunan mass rapid transit (MRT), jalan layang, sistem anti banjir, dan jalan tol[7].

Pada tahun 1990an, JICA membantu pengembangan berbagai kampus besar di Indonesia, seperti pembangunan gedung-gedung megah, taman indah, dan peralatan laboratorium di ITB dan UGM. Di bidang sosial, JICA pernah hadir dalam program Keluarga Berencana di tahun 1960an.

Besarnya bantuan tersebut membuat hubungan Indonesia-Jepang terus terbina. Dalam laporan The Overseas Economic Cooperation Fund (OECF), Indonesia merupakan negara resipien ODA  terbesar dari tahun 1966 hingga 1992. Di sisi lain, Jepang merupakan pemberi pendonor bilateral terbesar bagi Indonesia, mencapai 62% dari total pinjaman hingga 1991 (Wie, 1994)[8].

Hubungan Jepang-Indonesia juga nampak dalam urusan perdagangan. Jepang merupakan salah satu tujuan ekspor terbesar batubara Indonesia. Porsinya mencapai 30% dari total ekspor 500 juta ton per tahun[9]. Jepang juga menempati urutan ketiga negara tujuan ekspor, dengan nilai 13,75 miliar dollar AS pada 2019[10].

Dalam hal investasi, Jepang bahkan rutin menduduki posisi empat besar sebagai negara asal penanam modal terbesar di Republik ini. (Gambar 1).

Gambar 1. Penanaman modal asing dari tahun 2015-2020* untuk empat besar asal negara (BKPM). *Periode 2020 hanya Januari-September

Bantuan-bantuan tersebut tidak bisa dipandang dengan naif sebagai perilaku altruistik. Hasegawa (1975), sekubu dengan Nester (1992) and Carnoy (1974), berpendapat bahwa bantuan luar negeri cenderung digunakan untuk memperkuat kepentingan negara pemberi bantuan.

KEPENTINGAN JEPANG

Di Tanah Air, negeri samurai adalah penguasa otomotif yang juga menjadi tulang punggung ekonominya. Pabrik mobil dan sepeda motor Jepang yang tersebar di seluruh dunia mencerminkan betapa vital posisi industri tersebut.

Indonesia merupakan salah satu negara pabrikan dan pasar yang besar bagi banyak merek sepeda motor dan mobil asal Jepang. Data dari Gabungan Industri Kendaraan Bermotor Indonesia (Gaikindo) pada 2017, menyebut bahwa merek-merek Jepang menguasai 98% pasar mobil di Indonesia. Dari 1,079 juta penjualan mobil pada 2017, sebanyak 1,060 juta adalah merek Jepang[11]. Di Indonesia, 8 besar merek mobil terlaris adalah berlabel Jepang[12]. Untuk sepeda motor, data pada semester I 2018 misalnya, sepuluh besar penjualan didominasi model dan merek Jepang dengan total 1,41 juta unit[13].

Sejak awal, ide pembangunan pelabuhan Patimban adalah ide dari pemerintah Jepang [14]. Negeri Sakura tersebut berkepentingan untuk mendukung berbagai industri dari negerinya, terutama industri otomotif, yang banyak bermarkas di Bekasi dan Karawang (Gambar 2).

Gambar 2. Lokasi pelabuhan Patimban di Kabupaten Subang dan berbagai pabrik-pabrik otomotif investasi Jepang di sekitar Bekasi dan Karawang.

Indikasi tersebut juga menguat ketika kita membaca laporan “Preparatory Survey on Patimban Port Development Project in The Republic of Indonesia – final report”. Di dalam bab 2 laporan tersebut, disebut bahwa salah satu alasan perlunya Pelabuhan Patimban adalah karena perusahaan-perusahaan otomotif Jepang telah banyak berinvestasi untuk mengembangkan kapasitas produksi:

In recent years, major Japanese automakers have invested several billions of Japanese Yen in new plant development to expand production capacity. New plants are constructed in Karawang and Purwakarta.

Laporan itu juga memuat peta lokasi berbagai industrial estate di Jabodetabek dan Karawang, yang dipenuhi dengan investasi Jepang.

Pada beberapa tahun ke depan, beberapa pabrik otomotif tersebut berencana melakukan ekspansi. Tak main-main, Toyota akan menggelontorkan 28,8 T untuk pengembangan mobil listrik di Indonesia[15]. Sedangkan perusahaan lain seperti Mitsubishi Chemical, Denso, Sagami, dan Panasonic juga turut berpartisipasi dengan kucuran dana mulai 400an miliar hingga 2 triliunan[16]. Pada Mei 2019, dalam kunjungannya ke Jepang, Menteri Perindustrian Airlangga Hartarto membidik berbagai kesempatan investasi oleh perusahaan-perusahaan Jepang. Ada perusahaan di bidang petrokimia, baja, dan logistik[17].

Bagi Jepang, Indonesia adalah partner penting dalam industri otomotif yang harus diamankan walau dengan harga yang mahal. Dalam percobaan dan peresmian pelabuhan pada November dan Desember 2020, beberapa produsen mobil asal Jepang juga turut hadir. Ada pesan seolah-olah si pemilik pekerjaan ingin melihat hasil kerja anak-buahnya.

Maka kita jadi tak heran, jika Jepang jor-joran mengucurkan dana ke berbagai proyek di Tanah Air. Dalam kasus Patimban, Jepang malah hadir sejak awal pada kegiatan pra-studi kelayakan, studi kelayakan, hingga detail desain. Pelabuhan Patimban, yang hanya ‘beberapa langkah’ dari Bekasi dan Karawang, akan menjadi ‘halaman belakang’ bagi pabrik-pabrik otomotif Jepang. Harapannya jualan mobil dan motor pabrikan Negeri Sakura akan semakin mulus.[]

Referensi Bacaan:

[1] Berdasarkan Peraturan Presiden nomor 58 tahun 2017

[2] The Economist (25/02/2016) The 13466 island problemhttps://www.economist.com/special-report/2016/02/25/the-13466-island-problem

[3] Kompas.com (20/12/2020) Jokowi Resmikan Pengoperasian Perdana Pelabuhan Patimbanhttps://nasional.kompas.com/read/2020/12/20/14270401/jokowi-resmikan-pengoperasian-perdana-pelabuhan-internasional-patimban?page=all

[4] KPPIP. Pembangunan Pelabuhan Patimban. https://kppip.go.id/proyek-prioritas/pelabuhan/pembangunan-pelabuhan-patimban/

[5] Setkab RI. Ini Penjelasan-menhub-soal-pembangunan-pelabuhan-patimban-secara-makrohttps://setkab.go.id/ini-penjelasan-menhub-soal-pembangunan-pelabuhan-patimban-secara-makro/

[6] Kontan.co.id (22/09/2020) Investasi Capai Rp 43,2 Triliun, Patimban akan Masukkan Skema KBUhttps://nasional.kontan.co.id/news/investasi-capai-rp-432-triliun-patimban-akan-masukkan-skema-kpbu

[7] JICA. Pembangunan Indonesia dan Kerjasama Jepang: Membangun Masa Depan Berdasarkan Kepercayaan. Booklet. 2018.

[8] Wie, T. K. (1994). Interactions of Japanese aid and direct investment in Indonesia. ASEAN Economic Bulletin, 25-35.

[9] Kumparan.com (20/02/2020) APBI: Jepang Ancam Setop Impor Batu Bara dari Indonesiahttps://kumparan.com/kumparanbisnis/apbi-jepang-ancam-setop-impor-batu-bara-dari-indonesia-1ssRx7pHpo3

[10] Kompas.com (16/01/2020) Ekspor RI Sepanjang 2019 Tembus Rp 2.345 T, Ini Daftar Komoditasnyahttps://money.kompas.com/read/2020/01/16/083100826/ekspor-ri-sepanjang-2019-tembus-rp-2345-t-ini-daftar-komoditasnya?page=all

[11] Gaikindo.or.id (2017) Merek Jepang Kuasai 98 Persen Penjualan Mobil Indonesiahttps://www.gaikindo.or.id/merek-jepang-kuasai-98-persen-penjualan-mobil-indonesia/

[12] Gaikindo.or.id (2020) 10 Merek Mobil Terlaris Indonesia 2019, Buatan Jepang Terlalu Perkasahttps://www.gaikindo.or.id/10-mobil-terlaris-indonesia-2019-buatan-jepang-terlalu-perkasa/

[13] Antaranews.com (12/07/2018) 10 Sepeda Motor Terlaris Paruh Pertama 2018https://otomotif.antaranews.com/berita/726182/10-sepeda-motor-terlaris-paruh-pertama-2018

[14] Bisnis.com (11/12/2014) Proyek Pelabuhan Cilamaya Masih Terbentur Masalah Amdalhttps://ekonomi.bisnis.com/read/20141211/98/381679/proyek-pelabuhan-cilamaya-masih-terbentur-masalah-amdal

[15] Bisnis.com (08/12/2020) Toyota Investasi Mobil Listrik Setara Rp28,28 Triliunhttps://ekonomi.bisnis.com/read/20201208/9/1328187/toyota-investasi-mobil-listrik-setara-rp2828-triliun

[16] Katadata.co.id (04/11/2020) Tentakel Investasi Jepang di Indonesiahttps://katadata.co.id/ariayudhistira/infografik/5fa203c68469b/tentakel-investasi-jepang-di-indonesia

[17] Kemlu.go.id (29/05/2019) Kunjungan Menteri Perindustrian R.I. ke Jepanghttps://kemlu.go.id/tokyo/id/news/1317/kunjungan-menteri-perindustrian-ri-ke-jepang

Share the idea

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *