Sejarah

7 Fakta Tersembunyi Abdul Hamid II: Perjuangan Melawan Penjajahan Eropa

Share the idea

SULTAN KE-34 DINASTI ‘UTSMANI

Di usia 34 tahun, ia menjadi sultan ke-34 dari wangsa ‘Utsmani dan memerintah sekitar 32 tahun. Ia naik takhta menggantikan kakaknya yang hanya memerintah selama 93 hari, yakni Sultan Murad V yang menggantikan paman Abdul Hamid, yakni Sultan Abdul Aziz.

Laporan dari kelompok ‘Utsmani Muda menyatakan bahwa Sultan Abdul Aziz meninggal karena bunuh diri. Laporan tersebut membuat Sultan Murat V menjadi gila. Akhirnya, secara terpaksa kelompok ‘Utsmani Muda mencopot Sultan Murat V dari kursi kesultanan dan menggantinya dengan saudaranya, Abdul Hamid II pada 31 Agustus 1876.

NAIK TAKHTA DENGAN PENUH TEKANAN

Pengangkatan Murad V sebagai Khalifah oleh kelompok ‘Utsmani Muda dimaksudkan untuk memudahkan penegakan konstitusi Barat di internal Khilafah. Hal ini karena Murad memang dikenal menjalin hubungan dekat dengan tokoh-tokoh liberal.

Curiga dengan bunuh diri pamannya, Sultan Abdul Hamid II pada 1881 mengadakan pengadilan untuk menyelesaikan kasus terbunuhnya Sultan Abdul Aziz. Pengadilan memutuskan, bahwa Sultan Abdul Aziz tidaklah mati bunuh diri, melainkan dibunuh atas perintah Midhat Pasha dan Huseyin Avni Pasha.

Sultan Abdul Hamid II yang dikenal cerdas itu mengatakan, “Bagaimana mungkin seseorang yang bunuh diri dapat memutus dua pembuluh darah dua lengannya sekaligus?”

MENGAKHIRI ERA KONSTITUSI BARAT

Sang penguasa baru, Abdul Hamid II, tidak sudi ditekan oleh kelompok yang telah membunuh pamannya. Ia berupaya melawan mereka semaksimal mungkin dengan membersihkan pengaruh dan kekuasaan mereka.

Untuk alasan itulah, setelah dua tahun berkuasa Sultan Abdul Hamid II membubarkan parlemen yang dikendalikan oleh ‘Utsmani Muda sekaligus mengakhiri era Tanzimat, yakni upaya ‘Utsmani meniru sistem Pemerintahan Eropa, termasuk mengadopsi berbagai undang-undang yang mengandung pemikiran dan nilai-nilai Barat.

MENCAMPAKKAN DEMOKRASI

Dalam pandangan Abdul Hamid II, paham demokrasi sebagai dasar dari sistem parlementer yang ditawarkan ‘Utsmani Muda “tidak cocok bagi semua keadaaan suatu bangsa”.

“Pada awalnya,” tutur Abdul Hamid II dalam catatan hariannya, “Aku yakin bahwa demokrasi tidak bermanfaat. Akan tetapi sekarang aku yakin dengan dampak buruknya.”

Karena itulah ia mengasosiasikan demokrasi dengan suatu imperialisme yang menghinakan, yang menjadi alat bagi Eropa untuk mengendalikan kedaulatan Khilafah.

DIHORMATI DI JEPANG

Momen besar yang mengenalkan hubungan Turki dan Jepang adalah kala terjadinya peristiwa tenggelamnya kapal Fregat Ertuğrul (Ottoman Frigate Ertuğrul) pada 1890 yang menewaskan 550 tentara ‘Utsmani dan hanya menyisakan 69 awak yang selamat. Saking terkenalnya, peristiwa ini sampai dibuat monumen dan filmnya.

Kapal itu merupakan kunjungan balasan dari pihak Sultan Abdul Hamid II yang sebelumnya dikunjungi oleh Pangeran Komatsu pada 1887. Sebagai bentuk hormat pada sang sultan, pangeran memberi hadiah berupa medali “Bintang Krisantemum” (Krizantem Nişanı) yang hanya diberikan kepada anggota keluarga kerajaan dan kepala negara.

Theodor Herzl dan anak-anaknya. Sekitar tahun 1900.

MENGINJAK HARGA DIRI SANG ZIONIS

Sultan Abdul Hamid II selaku penguasa tertinggi umat Islam saat itu, menolak mentah-mentah proposal Theodor Herzl, tokoh penting zionis yang melakukan berbagai siasat demi merebut Palestina.

“Nasihati Dr. Herzl agar ia tidak mengambil langkah yang baru pada perkara ini. Aku tidak bisa melepaskan wilayah ini meskipun hanya sejengkal. Sebab tanah tersebut bukan milikku, melainkan milik umat Islam yang telah berjihad untuk mendapatkannya dan menyirami tanah tersebut dengan darahnya…”

Seorang pria Tunisia, Muhammad al-Hasyimi (memakai fez di ujung kiri) sedang mengajarkan seni bela diri di Alatas School, Tanah Abang, Batavia.

Alatas School adalah sekolah modern pertama yang memadukan pendidikan Islam dan pendidikan Barat di Batavia dan didirikan oleh Sayyid ‘Abdullah al-‘Attas, menantu dari Sayyid ‘Abd al-Aziz al-Musawi al-Bagdadi, konsul kehormatan pertama ‘Utsmaniyyah di Batavia.

MENGANGKAT KONSUL DI BATAVIA

Sebagai salah satu bentuk bantuan Khilafah kepada umat Islam di Hindia-Belanda dalam menghadapi kejamnya kolonialisme Eropa, adalah pengangkatan konsul resmi Khilafah oleh Sultan Abdul Hamid II.

Keberadaan para konsul ini betul-betul mengganggu para penjajah. Salah satunya, yakni Mehmet Kamil Bey (mulai bertugas pada 1897), yang menjadi musuh bebuyutan Snouck Hurgronje dan banyak berkonfrontasi dengannya.

Kebijakan Sultan Abdul Hamid II untuk melawan kolonialisme Eropa terhadap kaum muslimin, ditunjukkan melalui politik “Pan-Islamisme” yang digaungkannya. Menariknya, pengaruh Pan-Islamisme itu dibahas dengan sangat rinci dalam buku “Khilafah dan Ketakutan Penjajah Belanda” karya Nicko Pandawa (sutradara dan penulis naskah film JKDN),

Karya ini adalah paket komplit. Selain mengungkap eratnya hubungan Hindia-Belanda dan ‘Utsmaniyyah di masa penjajahan, buku yang merupakan hasil penelitian serius penulis ini juga menjabarkan pengaruh pemikiran Barat terhadap kemunduran ‘Utsmaniyyah dan situasi politik Khilafah menjelang dan pasca keruntuhannya.

554 halaman: 891 catatan kaki. Klik https://linktr.ee/kli.books

Share the idea

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *