One Piece Review: Menguak Tragedi Pembakaran Arsip Kesultanan di Nusantara

Share the idea

Melalui bab 1065 dan 1066 manga One Piece, kita diingatkan tentang salah satu misteri terbesar di era bajak laut: bahwa ratusan tahun yang lalu, pernah ada kerajaan adidaya yang kekuatannya sengaja dilenyapkan oleh Pemerintah Dunia.

Keberadaan kerajaan ini (yang kita sebut saja sebagai “The Great Kingdom”) sangatlah tabu dan membahayakan Pemerintah Dunia. Maka, selain menutupi sejarah atas eksistensi peradaban tersebut, Pemerintah Dunia tak ragu untuk melenyapkan siapa saja yang berani meneliti dan menyebarluaskan informasi mengenai The Great Kingdom.

Inilah yang terjadi pada Ohara, sebuah pulau yang berinisiatif melakukan penelitian atas peradaban tersebut. Mengetahui hal itu, Pemerintah Dunia membombardir seisi pulau (yang diisi oleh para peneliti maupun data-data hasil penelitian The Great Kingdom) dengan meriam. Tentu saja, ini dilakukan agar jejak maupun ideologi dari peradaban terlarang itu tak diketahui oleh publik.

Kejadian ini mengingatkan kita dengan Baghdad di masa ‘Abbasiyyah. Saat itu, Baghdad merupakan pusat ilmu pengetahuan dunia. Namun, kekayaan intelektualnya harus hilang karena dibakar dan dibuang ke sungai oleh tentara Mongol yang berhasil menaklukkannya. Riwayat populer bahkan mengatakan, bahwa sungai Tigris berubah menjadi hitam karena banyaknya tinta yang terbuang ke sana.

Selain Baghdad, peristiwa Ohara juga mengingatkan kita atas apa yang terjadi pada Aceh. Sebagaimana Pemerintah Dunia yang melenyapkan khazanah sejarah dan intelektual Ohara; maka pasukan van Swieten (Jenderal tertinggi Belanda yang berhasil merebut Istana Kesultanan Aceh pada tahun 1874) membakar seluruh Istana Kesultanan berikut isinya yang tak ternilai harganya itu. Termasuk di antara yang sengaja dibakar adalah, Balai Darul Atsar, yakni kantor arsip Kesultanan yang mencatat berbagai aktivitas kenegaraan maupun kebijakan Kesultanan Aceh, baik yang mencakup politik dalam maupun luar negerinya.

Bahkan sebagian arsip kesultanan yang diselamatkan Tengku Qadhi Malik al-‘Adil dan dibawa ke rumahnya di Peunayong, ikut dibakar pula oleh Belanda.

Lantas, mengapa peristiwa pembakaran kantor arsip kesultanan itu begitu penting?

Sebab, di dalam kantor arsip kesultanan itu, juga terdapat surat-surat yang berisikan jejak hubungan antara Kesultanan Aceh dengan Khilafah ‘Utsmaniyyah, institusi politik tertinggi umat Islam yang sangat dibanggakan oleh Kesultanan Aceh dan tentu saja, sangat ditakuti oleh Belanda.

Informasi mengenai keberadaan kantor arsip kesultanan yang menyimpan jejak hubungan antara Aceh dengan ‘Utsmaniyyah ini, bisa kita temukan dalam surat Sultan ‘Ala’uddin Manshur Syah, Sultan Aceh ke-29 kepada pemimpin tertinggi umat Islam saat itu, Khalifah Abdul Majid I.

Dalam suratnya yang dikirim pada tahun 1850 (24 tahun sebelum kejadian pembakaran itu), Sultan ‘Ala’uddin Manshur Syah mengatakan,

“… Bahwa sesungguhnya kami seluruh penduduk negeri Aceh, bahkan seluruh penduduk pulau Sumatra tergolong ke dalam rakyat Daulah ‘Aliyyah ‘Utsmaniyyah, dari generasi ke generasi, semenjak masa junjungan kami al-Marhum Sultan Salim Khan bin al-Marhum junjungan kami Sultan Sulayman Khan bin al-Marhum junjungan kami Sultan Salim Abu’l-Futuh Khan —semoga terlimpah rahmat dan ridha Allah ke atas mereka semuanya. Dan itu telah tercantum dalam arsip kesultanan (Dafatir Sulthaniyah).

Para Khalifah ‘Utsmani yang disebut dalam surat Sultan Manshur Syah. Dari kiri ke kanan: Sultan Selim I, Sultan Sulayman al-Qanuni, dan Sultan Selim II. Dalam surat, Sultan Selim I bahkan sudah disebut dengan Abul Futuh (bapak penaklukan).

Sebab, Sultan Selim I menjadi Khalifah pertama ‘Utsmaniyyah pasca penaklukan Mamluk pada 1517 M. Artinya, pada masa tersebut, peristiwa besar ini bahkan sudah diindera oleh Kesultanan Aceh yang jaraknya ribuan kilometer dari Istanbul. Sebuah kesadaran atas situasi politik internasional yang sungguh luar biasa.

Ternyata, dalam surat tersebut Sultan Manshur Syah tak hanya menyebut Balai Daarul Atsar dengan sebutan Dafatir Sulthaniyah (Arsip Kesultanan), namun juga mengurai kapan persisnya Kesultanan Aceh melakukan ba’iat kepada Khilafah sehingga mereka (dan bahkan seluruh penduduk pulau Sumatra) menjadi rakyat ‘Utsmaniyyah.

Arsip-arsip kesultanan inilah, yang sengaja dibakar oleh Belanda pada 1874.

Jika arsip kesultanan tersebut sudah dibakar, lantas mengapa surat yang dikirim Sultan Manshur Syah tertanggal 27 Maret 1850 itu masih ada?

Surat dari pemimpin tertinggi Kesultanan Aceh, yakni Sultan ‘Ala’uddin Manshur Syah, kepada sosok pemimpin yang lebih tinggi darinya, yakni Khalifah Abdul Majid I yang menjadi pemimpin tertinggi umat Islam sedunia.

Isi, arti, dan penjelasan surat ini bisa dilihat dalam buku “Dafatir Sulthaniyah”

Sebab, arsip dari surat tersebut (termasuk sebagian besar arsip-arsip lainnya tentu saja), ternyata masih tersimpan rapi di Istanbul, bekas ibukota Khilafah. Bukan di Indonesia, apalagi di Inggris dan Belanda.

Bukti-bukti itu, kemudian dibukukan oleh para peneliti, misalnya dalam buku, “Ottoman-Southeast Asian Relations: Sources from the Ottoman Archives” yang dieditori Ismail Hakki Kadi, A.C.S. Peacock, dan 8 peneliti lainnya sebagai kontributor. Dalam buku yang memuat arsip berbahasa Arab, Turki, Inggris, hingga Thailand itu, diungkaplah relasi antara Asia Tenggara dengan ‘Utsmaniyyah.

Untuk meneliti dan menyusun 2 jilid buku dengan tebal > 1000 halaman itu, ternyata juga membutuhkan waktu yang tidak sebentar: yakni hingga 11 tahun!

Buku “Ottoman-Southeast Asian Relations: Sources from the Ottoman Archives” (kiri), dijual seharga $321.06 atau sekitar 4,7 juta rupiah.

Buku lain yang mengumpulkan arsip hubungan tersebut, misalnya buku “Turki Utsmani-Indonesia: Relasi dan Korespondensi Berdasarkan Dokumen Turki Utsmani” yang dicetak terbatas oleh Hitay Holding, perusahaan energi Turki yang membuka cabang di Indonesia. Di Tokopedia, ada yang iseng menjual buku yang seharusnya tidak diedarkan ke publik itu dengan harga 20 juta.

Untuk itulah, penulis (Nicko Pandawa) menyusun buku “Dafatir Sulthaniyah”, yang merupakan intisari pilihan dari ribuan halaman arsip-arsip tersebut.

Selain sudah diterjemahkan dan dijelaskan dengan bahasa yang lebih mudah dipahami, buku ini dibuat mewah dan berwarna, dengan harga yang tentu saja juga jauh lebih murah dari 2 buku sebelumnya.

Spoiler lainnya dari isi buku “Dafatir Sulthaniyah”

Mumpung lagi promo, ambil buku “Dafatir Sulthaniyah” melalui link berikut:

https://linktr.ee/kli.books

Share the idea

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *