Rand Corporation: Rencana Penghancuran Umat Islam

Share the idea

“The problem of Islamic radicalism — its manifestations, its underlying causes, and its propensity to meld with other social and political conflicts — makes this an extremely complex issue. There is no one correct approach or response, and there certainly is not one identifiable ‘fix’.”

(Cheryl Benard) – “Civil Democratic Islam: Partners, Resources, and Strategies”

Pada tahun 2004, Daniel Pipes, pendiri Middle East Forum yang juga dikenal sebagai tokoh kunci industri Islamophobia menulis sebuah artikel berjudul “Rand Corporation and Fixing Islam”. Dalam tulisannya tersebut, Pipes mengaku senang. Cita cita besarnya untuk “mengotak-atik” ajaran Islam berhasil disusun sebagai sebuah strategi besar oleh Cheryl Benard.

“Tujuan jangka pendek dari perang ini haruslah untuk menghancurkan Islam militan, namun tujuan jangka panjang dari perang ini adalah modernisasi Islam.” (Daniel Pipes).

Misi besar ini kemudian disebut sebut dengan istilah religious building, yaituupaya untuk membangun agama Islam alternatif. Benard mengakui bahwa misi ini sangat berbahaya dan kompleks, jauh lebih menakutkan dibanding misi nation building.

“For many Western opinion leaders, the goal of opposing terrorists, of preventing the conflict from turning into a “clash of religions,” and of discrediting the radicals’ interpretation of Islam, made it seem all the more advisable to support the more benign strains within Islam—but which ones, exactly, and with what concrete goal in mind? Identifying the elements that should be supported, choosing appropriate methods, and defining the goals of such support is difficult. “

“It is no easy matter to transform a major world religion. If “nation-building” is a daunting task, “religion-building” is immeasurably more perilous and complex. Islam is neither a homogeneous entity nor a simple system. Many extraneous issues and problems have become entangled with religion, and many of the political actors in the region deliberately seek to “Islamize” the debate in a way that they think will further their goals.”

 Sedangkan Pipes menganalogikan misi ini sebagai upaya untuk masuk ke dalam wilayah yang “belum terpetakan”. “Ini adalah sesuatu yang belum pernah dicoba sebelumnya,”

There is no one correct approach or response, and there certainly is not one identifiable “fix.” Instead, what is called for is a mixed approach that rests on firm and decisive commitment to our own fundamental values and understands that tactical and interest-driven cooperation is simply not possible with some of the actors and positions along the spectrum of political Islam but that possesses a sequence of flexible postures suitable to different contexts, populations, and countries.

This approach seeks to strengthen and foster the development of civil, democratic Islam and of modernization and development. It provides the necessary flexibility to deal with different settings appropriately, and it reduces the danger of unintended negative effects. The following outline describes what such a strategy might look like.

RAND menyatakan bahwa, dalam program ini, tangan Amerika harus disembunyikan, sementara boneka Muslim yang dipilih dengan hati-hati harus berada di garis terdepan untuk mengantarkan Islam versi baru ini. Pertanyaannya, “Siapa yang akan membawa Islam versi baru ini?”

  1. Support the modernists first, enhancing their vision of Islam over that of the traditionalists by providing them with a broad platform to articulate and disseminate their views. They, not the traditionalists, should be cultivated and publicly presented as the face of contemporary Islam.
  2. Support the secularists on a case-by-case basis.
  3. Encourage secular civic and cultural institutions and programs.
  4. Back the traditionalists enough to keep them viable against the fundamentalists (if and wherever those are our choices) and to prevent a closer alliance between these two groups. Within the traditionalists, we should selectively encourage those who are the relatively better match for modern civil society. For example, some Islamic law schools are far more amenable to our view of justice and human rights than are others.
  5. Finally, oppose the fundamentalists energetically by striking at vulnerabilities in their Islamic and ideological postures, exposing things that neither 48 Civil Democratic Islam: Partners, Resources, and Strategies the youthful idealists in their target audience nor the pious traditionalists can approve of: their corruption, their brutality, their ignorance, the bias and manifest errors in their application of Islam, and their inability to lead and govern.

Some additional, more-direct activities will be necessary to support this overall approach, such as the following:

  1. Help break the fundamentalist and traditionalist monopoly on defining, explaining, and interpreting Islam.
  2. Identify appropriate modernist scholars to manage a Web site that answers questions related to daily conduct and offers modernist Islamic legal opinions.
  3. Encourage modernist scholars to write textbooks and develop curricula.
  4. Publish introductory books at subsidized rates to make them as available as the tractates of fundamentalist authors.
  5. Use popular regional media, such as radio, to introduce the thoughts and practices of modernist Muslims to broaden the international view of what Islam means and can mean.

Melihat pemaparan poin 1-5, maka tak heran jika hari ini kita melihat, berbagai tokoh muslim cendekiawan dan intelektual mulai dimunculkan untuk membelokkan berbagai ajaran Islam. Amat disayangkan, tokoh-tokoh ini justru menjadi sumber rujukan masyarakat.

Menurut RAND, mitra ideal untuk menjalankan pekerjaan ini adalah Muslim dari ‘dalam’ komunitas umat Islam yang akan bekerja untuk kepentingan Amerika. RAND melabeli mereka sebagai kaum ‘modernis/moderat’. Ciri dari kelompok modernis ini, menurut Benard, adalah keinginan untuk “memodernkan dan mereformasi Islam, agar sejalan dengan zaman”. RAND merekomendasikan agar Muslim yang memahami Islam sejati dan ingin menerapkan Syariat Islam disingkirkan, dengan melabelinya sebagai fundamentalis dan ekstremis, pengecut dan pengacau.

Untuk strategi jangka panjang, RAND menyarankan agar para boneka modernis ini mampu membuat para pemuda Islam memeluk sekularisme, bangga dengan sejarah non-Islam dan pra-Islam, melalui kurikulum sekolah dan media lainnya.

Dengan demikian, konsep mengenai Syariat, jihad, dan khilafah yang benar akan rusak dalam pikiran para pemuda Islam, bahkan membuat mereka benci dan menjauhinya. Untuk mencapai tujuan tersebut, RAND juga menyarankan agar pemerintah AS mendukung pengembangan ormas yang bisa dimanfaatkan.

Maka tidak heran, ketika hari ini kita melihat adanya “pertentangan” antar sesama umat Islam, modernist vs fundamentalist. Di sisi lain, mulai dimunculkan berbagai pembelokan penafsiran terhadap ajaran-ajaran Islam. Sebagai contoh, munculnya “monsterisasi” makna jihad. Jihad, sebagai salah satu strategi politik luar negeri Khilafah, dikesankan sebagai sebuah tindakan kekerasan tak beradab dan mengaitkannya dengan aksi terorisme. Maka, muncullah sentimen, bahwa Islam dibesarkan dengan kekerasan, pedang, dan darah. Di saat yang sama, jihad mengalami pengerdilan makna, yang diartikan hanya secara bahasa, “bersungguh-sungguh”. Makna jihad sebagai metode penyebaran agama Islam, seakan “dikubur” dan dijauhkan dari umat Islam, demi mencegah umat dari kebangkitannya.

Hal yang sama pun terjadi pada “monsterisasi” makna Khilafah. Maka muncul lah berbagai sentimen, seperti “sahabat gurun”, “Islam radikal”, “pemecah belah bangsa”, dan berbagai istilah lainnya. Umat dengan kesadaran politik yang rendah pada akhirnya mengalami kebingungan, sehingga sulit menyadari dan mendeteksi adanya campur tangan musuh-musuh Islam dalam berbagai usaha ini. Tujuannya, tentu saja adalah “mencegah kebangkitan umat Islam.” []

Sumber:

Aziz, Abdul, 2016. Islam versus Demokrasi. Jakarta: PT Saadah Pustaka Mandiri. 

Azra, Azyumardi, dkk. 2017. Jihad, Khilafah dan Terorisme Bandung: Mizan Media Utama.

Benard, Cheryl. 2003. Civil Democratic Islam, Partners, Resources, and Strategies. California, Santa Monica: RAND Corporation.

Fouda, Farag, 2012, KEBENARAN YANG HILANG: Sisi Kelam Praktik Politik dan Kekuasaan dalam Sejarah Kaum Muslim, Jakarta: Democracy Project Yayasan Abad Demokrasi

Sastra, Ahmad, 2019, KHILAFAH: KEWAJIBAN DAN KEBUTUHAN, Tim Follback Dakwah

Sastra, Ahmad, 2019, NARASI ABSURD SANG PEMBENCI KHILAFAH, Tim Follback Dakwah

Share the idea

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *