Romantisme Kisah Cinta Para Pejuang Islam

Share the idea

“Jodoh mah ga akan ke mana… Kita aja yang ke mana-mana!”

Ketika berbicara tentang cinta, kita akan senantiasa dibuat kagum dengan berbagai ‘kisah cinta dalam perjuangan’ yang disuguhkan oleh Nabi Muhammad dengan Khadijah, generasi sahabat, maupun para ulama. Kisah perjuangan yang dibangun oleh kaum muslim pun tentu bukan sebuah jalan yang mulus. Bahkan, hampir semua perjuangan itu ternyata adalah bagian dari perlawanan atas ‘mainstream gerak’ yang bertentangan dengan zona nyaman. Maka, sangatlah wajar jika tidak semua pihak rela ikut serta dalam barisan perjuangan.

Berusaha memahami fenomena itu, mengantarkan kita pada pertanyaan menggelitik, “Mengapa mereka mau berjuang? Bahkan jiwa dan raga siap digadaikan demi sebuah Surga yang bahkan mereka pun belum pernah melihatnya, apalagi memasukinya?

Apa sebenarnya yang membuat mereka rela melakukan itu semua? Mengapa mereka tak seperti manusia pada umumnya yang mencari ‘jalan tengah’ untuk ‘jaminan keamanan’ atas kehidupan dan penghidupan yang sesaat di dunia ini?

Mungkin, ini karena bentuk cinta mereka kepada Allah dan Rasul-Nya. Ya, ini karena cinta! Cukup sederhana jika dibandingkan dengan pengorbanan yang telah mereka lakukan. Maka, yang menjadi pertanyaan selanjutnya adalah, “lantas, makna cinta itu sebenarnya apa?”.

Tentu bukan mengikuti titah para penyair percintaaan ala barat dan korea. Sungguh tak beradab berbicara cinta dengan mereka. Layaklah kita merujuk pada syair-syair indah para ulama, yang ternyata telah lama berbicara tentang cinta. Salah satunya adalah apa yang diungkapkan oleh Ibnu Qayyim Al-Jauziyah dalam kitabnya Raudhatul Muhibbin,

“Cinta itu menyucikan akal, menghilangkan kekhawatiran, memunculkan keberanian, mendorong berpenampilan rapi, membangkitkan selera makan, menjaga kemuliaan akhlak, membangkitkan semangat, mengenakan wewangian, memperhatikan pergaulan yang baik, serta menjaga adab dan kepribadian. Di sisi lain, cinta juga menjadi ujian bagi orang-orang yang shaleh dan cobaan bagi ahli ibadah”

Ternyata dengan ketinggian cinta, seorang mujahid dapat menjadikan akalnya suci dan rasional, menghilangkan kekhawatiran yang muncul dari lubuk hatinya, serta memunculkan keberanian yang berlipat-lipat. Tentu saja, kisah cinta ini bukanlah cinta biasa, namun sebuah kisah cinta hakiki antara seorang hamba dengan Sang Pencipta yang sangat dirindukannya untuk segera berjumpa.  Hal inilah yang selayaknya dilakukan oleh seorang muslim, sebagaimana yang disampaikan dalam hadits dari Abu Hurairah yang diriwayatkan oleh Imam Muslim. Rasulullah bersabda,

Sungguh kelak di hari kiamat Allah akan berfirman, “Di mana orang-orang yang saling mencintai karena keagungan-Ku? Pada hari ini Aku akan memberikan naungan kepadanya dalam naungan-Ku ketika tidak ada naungan selain naungan-Ku.”

Cinta ini pula yang menjadi landasan keberanian bagi seorang muslim untuk mempertaruhkan jiwa dan raganya, karena ia berharap atas manisnya iman, seperti yang disampaikan dalam hadits dari Anas bin Malik yang diriwayatkan oleh al-Bukhari. Rasulullah bersabda,

“Siapapun tidak akan merasakan manisnya iman, hingga ia mencintai seseorang tidak karena yang lain kecuali karena Allah semata”

Oleh karena itu, tidaklah heran jika kerasionalan itu tidak dapat dirasakan oleh orang-orang yang tidak menjadikan Islam sebagai aqidah. Karena sejatinya, kekuatan cinta dalam perjuangan ini hanya dapat dirasakan atas sebuah keyakinan yang sangat kuat terhadap Islam. Dan tentu, cinta hakiki antara seorang hamba kepada Sang Pencipta membutuhkan pembuktian. Hal ini tak cukup dengan kita ‘membaikkan’ diri. Tidak cukup diri kita saja yang baik, tapi pembuktian ini membutuhkan perjuangan untuk membersamai kebaikan di tengah tengah umat. Tak lain dan tak bukan adalah dengan melakukan aktivitas dakwah, sebagai sebaik-baik perkataan,

“Siapakah yang lebih baik perkataannya daripada orang yang menyeru kepada Allah, mengerjakan amal yang shalih dan berkata: “Sesungguhnya aku termasuk orang-orang yang berserah diri?“ (TQS Fushilat [41]: 33)

Maka, tidak bisa tidak, bahwa wujud  kecintaan dalam perjuangan yang seharusnya ditempuh oleh seorang muslim adalah dengan meleburkan diri dalam aktivitas berdakwah. Wallahu a’lam.[]

Sumber :

Ibnu Qayyim Al-Jauziyyah. 2011. Raudhatul Muhibbin: Taman Orang-Orang yang Jatuh Cinta dan Memendam Rindu. Qisthi Press: Jakarta.

Share the idea

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *