Bagaimana Cara Rasulullah Mencegah Hoaks?

Share the idea

Penulis : Khafidoh Kurniasih

Sebagai seorang Muslim, sudah sepatutnya kita senantiasa merujuk pada ajaran Islam dalam menyikapi segala sesuatu. Dalam QS. Al Isra’ [17] ayat 36, Allah berfirman yang artinya “Dan janganlah kamu mengikuti apa yang kamu tidak mempunyai pengetahuan tentangnya. Sesungguhnya  pendengaran, penglihatan, dan qalbu, semuanya akan dimintai pertanggungjawaban”.

Al Maraghi (guru besar tafsir, mantan rektor Al Azhar, Mesir) menjelaskan bahwa ayat ini memberi tuntunan agar tidak mengikuti sesuatu yang tidak diketahui, baik berupa perkataan maupun perbuatan. Dengan kata lain, ayat ini menuntut kita untuk melakukan verifikasi atas setiap informasi yang diperoleh sebelum mengambilnya.

Ibnu Katsir pun mengingatkan bahwa Allah melarang berbicara tanpa ilmu yakni berbicara hanya dengan persangkaan yang merupakan perkiraan dan khayalan. (Tafsir Al Quran Al-Azhim surat Al Isra’ [17]: 36)

Dr. Muhammad Ali al Hasan dan Abdurrahim Faris Abu ‘Ulbah dalam Tafsir Surat An Nur, ketika menjelaskan peristiwa haditsul ifki (hoaks yang menimpa Sayyidah ‘Aisyah r.a. dan Shafwanbi Mu’aththal As Sulami r.a.), beliau mengutip firman Allah, “(Ingatlah) saat kamu menerima berita bohong itu dari mulut ke mulut, dan kamu katakan dengan mulutmu apa yang tidak kamu ketahui sedikit pun, dan kamu menganggapnya sesuatu yang ringan saja. Padahal dia di sisi Allahadalah besar

(TQS. An Nuur [24]: 15) dan QS Al Isra [17]:36.

Menurut beliau, ayat-ayat tersebut bersifat umum, kendati asbabun nuzul-nya berkaitan dengan peristiwa tertentu (misal QS. An Nuur [24]: 15 berkaitan dengan ‘Aisyah r.a). Dalam hal ini berlaku kaidah ushul yang berbunyi “Yang menjadi acuan dalam memahami sebuah nash adalah keumuman lafazh, bukan kekhususan sebab”. Dengan demikian, ayat-ayat tersebut dapat dijadikan acuan dalam menerima informasi apa pun.

Al Quran mengajarkan manusia untuk bersikap kritis dengan cara menggunakan pendengaran, penglihatan, dan akal. Islam pun melarang manusia bersikap taqlid buta, yakni mengikuti sesuatu tanpa mengetahui dasar pijakannya. Dari ayat ini dapat diambil pelajaran agar kita tidak asal memutuskan, bicara, atau bertindak sebelum memiliki pengetahuan yang benar.

Dalam surat yang lain, Allah pun memperingatkan “Hai orang-orang yang beriman! Jika datang kepadamu orang fasik membawa suatu berita, maka periksalah dengan teliti agar kamu tidak menimpakan suatu musibah kepada suatu kaum tanpa mengetahui keadaannya yang menyebabkan kamu menyesal atas perbuatanmu.” (QS. Al Hujurat [49]: 6).

Menurut Jawad Mugniah dalam At Tafsir al Mubin, ayat ini menunjukkan tentang keharaman mengambil berita dari orang fasik tanpa melakukan klarifikasi (tabayun). Al Mushtafawi dalam at Tahqiq fi Kalimatil Quran mengartikan fasaqa sebagai keluarnya sesuatu dari hal-hal yang disepakati baik secara agama, akal, maupun hukum alam. Sehingga, fasiq adalah orang yang keluar dari ketentuan akal sehat, adab, sopan santun, dan agama.

Melalui ayat ini, Allah menuntun kita agar bersikap hati-hati, tidak gegabah dan tidak tergesa-gesa dalam menerima dan menyampaikan sebuah berita. Ayat ini juga mendorong kita untuk senantiasa melakukan klarifikasi informasi apalagi jika informasi tersebut tampak janggal.

Allah juga memperingatkan dampak dari ketidakhati-hatian dalam menerima dan menyebarkan informasi, yakni “…agar kamu tidak menimpakan suatu musibah kepada suatu kaum tanpa mengetahui keadaannya yang menyebabkan kamu menyesal atas perbuatanmu.

Selain klarifikasi informasi yang datang dari orang fasik, verifikasi informasi juga diperlukan meskipun berita tersebut datang dari orang shalih. Hal ini karena orang shalih bisa saja keliru, atau salah informasi, atau tidak betul-betul memahami ilmu tentang apa yang dia katakan. Sebuah pelajaran berharga dapat kita petik dari respon Rasulullah terhadap pengakuan Ma’iz bin Malik r.a.

Dalam Sunan Abu Dawud Kitab Hudud (Nomor Hadist 3836) dikisahkan,

“….Ma’iz lantas berkata, “Wahai Rasulullah, aku telah berzina, maka laksanakanlah hukum Kitabullah terhadapku!” Beliau berpaling darinya. Maka Ma’iz mengulangi lagi, “Wahai Rasulullah, aku telah berzina, maka laksanakanlah hukum Kitabullah terhadapku!” Beliau berpaling. Ma’iz mengulanginya lagi, “Wahai Rasulullah, aku telah berzina, maka laksanakanlah hukum Kitabullah terhadapku!” Ia ulangi hal itu hingga empat kali. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam kemudian bersabda: “Engkau telah mengatakannya hingga empat kali, lalu dengan siapa kamu melakukannya?” Ma’iz menjawab, “Dengan Fulanah.” Beliau bertanya lagi: “Apakah menidurinya?” Ma’iz menjawab, “Ya.” beliau bertanya lagi: “Apakah kamu menyentuhnya?” Ma’iz menjawab, “Ya.” beliau bertanya lagi: “Apakah kamu menyetubuhinya?” Ma’iz menjawab, “Ya.” Akhirnya Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam memerintahkan untuk merajamnya.”

Sedangkan dalam Shahih Al Bukhari No. 6324 kitab Hudud diceritakan, “Telah menceritakan kepada kami Abdullah bin Muhammad Al Ju’fi telah menceritakan kepada kami Wahb bin Jarir telah menceritakan kepada kami Ayahku ia mengatakan; aku mendengar Ya’la bin Hakim dari ‘Ikrimah dari Ibnu ‘Abbas radliallahu ‘anhuma mengatakan; ‘Ketika Ma’iz bin Malik menemui Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam, Nabi bertanya: “bisa jadi kamu hanya sekedar mencium, meremas, atau memandang!” Ma’iz menjawab; ‘Tidak ya Rasulullah!’ beliau bertanya lagi; “apakah kamu benar-benar menyetubuhinya?” -beliau tidak menggunakan bahasa kiasan.- maka pada saat itu dia pun dirajam.”

Dalam Shahih Muslim No. 3208 Kitab Hudud bahkan disebutkan Rasulullah sampai memastikan apakah Maiz bin Malik bisa berfikir dengan benar atau tidak. Disebutkan “….Lalu Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam mengutus seseorang untuk menemui kaumnya dengan mengatakan: “Apakah kalian tahu bahwa pada akalnya Ma’iz ada sesuatu yang tidak beres yang kalian ingkari?” mereka menjawab, “Kami tidak yakin jika Ma’iz terganggu pikirannya, setahu kami dia adalah orang yang baik dan masih sehat akalnya.”

Perhatikan! Sebelum mengambil keputusan, Rasulullah sampai harus memastikan berkali-kali. Apakah sang pembawa berita itu akalnya berfungsi dengan baik? Setelah dipastikan akalnya berfungsi dengan baik, Rasulullah pun memastikan apakah sang pembawa berita benar-benar memahami apa yang dia katakan? Apakah dia benar-benar memahami apa itu zina? Jangan-jangan salah paham. Setelah dipastikan informasi tersebut benar, barulah Rasulullah mengambil tindakan.

Demikian pula dengan informasi-informasi kesehatan yang beredar. Bisa jadi memang yang membawa informasi tersebut adalah orang yang baik, orang shalih, dia memang tidak bermaksud berbohong. Akan tetapi mungkin saja dia tidak memahami apa yang dia sampaikan. Misalnya seorang ustadz mengatakan ramuan X berkhasiat untuk detoks rahim. Kita boleh berhusnuzhzhan bahwa dia tidak bermaksud berdusta apalagi menipu. Namun, kita tetap harus memastikan apakah dia benar-benar memahami apa yang dia katakan. Apakah dia memahami apa itu detoks? Bagaimana mekanisme detoks? Apakah dia memahami apa itu rahim? Di mana letak rahim? Apa fungsi rahim?

Atau seorang seorang ustadzah mengatakan bahwa herbal Y dapat digunakan untuk mengobati COVID-19. Sekali lagi, kita patut berhusnuzhzhan bahwa dia tidak bermaksud berdusta apalagi menipu. Akan tetapi kita tetap harus memastikan apakah dia memahami apa itu COVID-19? Apa itu virus? Bagaimana virus tersebar dan bereplikasi? Apakah dia memahami bagaimana perjalanan virus di dalam tubuh inangnya? Bahkan harus pula dipastikan, apakah dia memahami perbedaan makna kata “berpotensi” dan “terbukti”?

Mari tundukkan diri pada ajaran Ilahi. Jadikan Al Quran dan As Sunnah sebagai panduan dalam menjalani kehidupan, termasuk panduan dalam menyikapi informasi. Al Quran dan As Sunnah telah mengajari kita untuk bersikap kritis terhadap setiap informasi yang datang. Mari amalkan panduan tersebut, bangunlah kemampuan dan kebiasaan berpikir kritis dalam menerima informasi sehingga dengannya insya Allah kita mampu membangun kembali peradaban Islam yang gilang gemiliang. Wallahu a’lam []

Sumber:

Al-Hassan dan Abu Ulbah. 2011. Tafsir Surat An Nur. Pustaka Thariqul Izzah: Bogor.

https://www.hadits.id/
Share the idea

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *