Mengapa Rupiah Bisa Tembus 16 Ribu/USD?

Share the idea

Sederhananya, nilai tukar mata uang ditentukan oleh konsep demand (permintaan) dan supply (penawaran). Kenaikan harga dapat terjadi apabila permintaan dan penawaran itu tidak seimbang.

Ketika penawaran (ketersediaan barang) lebih sedikit dari permintaan pasar, maka harga akan naik. Sebaliknya, ketika ketersediaan barang lebih banyak dari permintaan pasar, maka harga akan turun.

Contoh mudahnya adalah ketika musim durian, stok durian melimpah dan cenderung lebih banyak daripada permintaan pasar. Walhasil, harga durian ketika musimnya tiba, cenderung lebih murah. Namun ketika musim durian selesai, maka penawaran (ketersediaan barang di pasar – yaitu durian) menjadi sedikit. Jika permintaan atas durian tinggi, maka harga pun akan naik.

Konsep tersebut juga terjadi dalam menentukan nilai mata uang suatu negara. Agar lebih sederhana, dalam pembahasan kali ini akan digunakan perbandingan antara Indonesia dengan rupiahnya dan Amerika Serikat (AS) dengan dolarnya.

Bagaimana dolar dapat menguat terhadap rupiah? Hal ini terjadi ketika banyak orang ingin menukar rupiah menjadi dolar, namun stok dolar yang tersedia lebih sedikit dari permintaan. Walhasil, harga dolar naik, sehingga dolar menguat terhadap rupiah. Contohnya, pada awalnya 1 dolar senilai dengan 15 ribu rupiah. Ketika dolar menguat terhadap rupiah, maka 1 dolar dapat senilai dengan 15.500, 16.000, dan seterusnya. Sebaliknya, ketika stok dolar lebih banyak dari permintaan, maka harga rupiah naik dan rupiah menguat terhadap dolar. Contohnya, pada awalnya 1 dolar senilai dengan 15 ribu rupiah. Ketika rupiah menguat terhadap dolar, maka 1 dolar senilai dengan 14.500, 14.000, dan seterusnya. Kalaupun permintaan dolar meningkat namun stok dolarnya banyak sehingga bisa mengimbangi permintaan, maka harga dolar cenderung tidak naik.

Maka, ketersediaan dolar itu penting. Semakin banyak stok dolar di pasar, maka rupiah pun semakin menguat. Sebaliknya, semakin sedikit stok dolar di pasar, rupiah pun semakin melemah.

Kapan momen banyak orang ingin menukar rupiah menjadi dolar dan menukar dolar menjadi rupiah bisa terjadi? Setidaknya, hal ini disebabkan oleh 4 hal, yaitu prospek investasi, perdagangan ekspor impor, konsensus bersama, dan hutang.

1. Prospek Investasi

Semakin baik prospek investasi sebuah negara, semakin banyak orang ingin “menanam” uangnya di negara tersebut, baik dalam bentuk saham, obligasi, bisnis riil, infrastruktur, deposito bank, join dengan BUMN, dan lain sebagainya. Jika ada investor asing (sebutlah investor dari AS) ingin menanam kekayaannya di Indonesia, agar berbagai transaksi dapat dilakukan, maka ia harus menukar uangnya menjadi rupiah. Walhasil, permintaan terhadap rupiah akan naik, sehingga nilai tukar rupiah terhadap dolar pun naik. Dalam kasus ini, rupiah akan menguat terhadap dolar. Hal sebaliknya juga berlaku terhadap kasus dolar menguat terhadap rupiah, yaitu ketika banyak investor yang menanam kekayaannya di AS, sehingga kebutuhan terhadap dolar naik.

Kapan suatu negara disebut layak investasi? Yaitu ketika pertumbuhan ekonominya baik. Kapan pertumbuhan ekonominya baik? Yaitu ketika angka PDB (Produk Domestik Bruto) relatif stabil atau bahkan terus naik. Angka PDB yang stabil bahkan terus naik, menunjukkan bahwa roda perputaran uang dan bisnis di negara tersebut berjalan dengan baik, sehingga banyak investor yang menanam kekayaannya di sana.

Modal yang beredar di Indonesia sebagian besar adalah modal asing, sehingga investasi asing sangat mempengaruhi nilai rupiah. Beberapa aspek yang mempengaruhi kepercayaan investor adalah keamanan suatu negara dari konflik, krisis, dan bencana. Sebagai contoh adalah kala Indonesia mulai terkena Covid-19. Meski berbagai negara dunia telah terkena wabah, berbagai aksi “santuy” pemerintah Indonesia selama Januari-Februari adalah untuk menjaga dana para investor agar tidak lari ke negara lain.

Namun, sikap “santuy” ini justru menimbulkan celaka. Korban wabah di Indonesia dari hari ke hari terus bertambah, bahkan telah menentuh mortality rate lebih dari 8 persen. Walhasil, justru banyak investor yang menarik dananya dari Indonesia. Maka, pemerintah terus menerus berusaha menurunkan angka mortality rate ini, termasuk dengan menekan jumlah pasien positif dengan mempertahankan penggunaan metode serologi dan PCR sekaligus (yang lebih lama dan berbelit). Hal yang sama juga melatarbelakangi diambilnya kebijakan PSBB dan menyingkirkan opsi lockdown, karena lockdown otomatis akan membuat roda bisnis terhenti, sehingga dana investor pun lari.

Contoh kasus lainnya adalah pencabutan BHP HTI dan upaya pembungkaman FPI dengan merusak citra imam besarnya di hadapan publik. Bagi pemerintah, HTI dan FPI merupakan ancaman bagi investasi, karena berbagai aksinya di masa depan (jika tidak dihentikan) dapat memunculkan ketidakstabilan politik berkepanjangan yang dapat merusak kepercayaan investor (di samping menjadi ancaman bagi elektabilitas politisi yang berafiliasi dengan petahana, seperti dalam kasus Pemilihan Gubernur DKI 2017). Alasan yang sama juga melatarbelakangi ditunjuknya menteri agama dengan agenda utamanya dalam menangkal radikalisme. Semakin banyak isu yang dipolitisasi, sebuah negara cenderung tidak stabil.

Aspek lain yang mempengaruhi kepercayaan investor adalah suku bunga bank. Jika di suatu negara suku bunga nya tinggi, maka investor akan tertarik menanamkan uangnya di bank negara tersebut, sehingga mendapatkan keuntungan yang semakin besar dari bunga bank. Secara global, hal ini dipengaruhi oleh kondisi negara dengan ekonomi kuat, seperti AS dan Tiongkok. Penguatan ekonomi AS dan pelemahan ekonomi Tiongkok (perlu diingat, bahwa saat ini Indonesia lebih banyak bermitra dengan Tiongkok ketimbang AS), menyebabkan Bank Sentral AS (The Fed) menaikkan suku bunga, sehingga investor tertarik menanamkan kekayaannya di AS. Uang investor harus dikonversi ke dolar, sehingga dolar tertarik kembali ke AS. Walhasil, dolar menguat terhadap hampir seluruh mata uang dunia.

Untuk mengimbanginya, maka ketika AS menaikkan suku bunga, Indonesia juga mau tidak mau harus menaikkan suku bunga. Jika tidak dinaikkan, maka investor akan lebih memilih Amerika atau negara lain yang suku bunganya lebih tinggi sebagai destinasi kekayaannya dibandingkan dengan Indonesia. Semakin banyak investor tertarik menyimpan uangnya di berbagai bank di Indonesia (akibat kenaikan suku bunga), maka permintaan terhadap rupiah pun meningkat, sehingga nilai tukar Rupiah menguat.

Dalam kasus covid-19, The Fed memangkas suku bunga acuan hingga mendekati nol persen, akibat pelemahan ekonomi AS. Hal ini dilakukan sebagai dorongan agar uang keluar dari bank, sehingga berbagai transaksi diharapkan dapat pulih kembali dan pertumbuhan ekonomi pun naik.

2. Perdagangan Ekspor Impor

Semakin banyak impor, nilai mata uang negara tersebut semakin melemah. Kenapa? Contohnya, Indonesia impor barang dari AS. Pembayaran barang, tentunya harus menggunakan dolar. Bank kemudian akan mengonversi rupiah ke dolar, sehingga permintaan dolar naik dan dolar menguat pada rupiah. Sebaliknya, ketika Indonesia ekspor, maka bank akan mengonversi dolar menjadi rupiah, sehingga permintaan rupiah naik dan rupiah menguat pada dolar.

Di masa wabah covid-19, kondisi ekonomi Tiongkok lesu, sehingga ekonomi Tiongkok cenderung berfokus pada impor. Permintaan ekspor Tiongkok berkurang (seperti pada kasus Perang dagang Tiongkok-AS), sedangkan impor Indonesia jalan terus. Hal yang sama juga terjadi ketika kondisi ekonomi Tiongkok melemah bahkan tanpa adanya covid-19, karena Indonesia bermitra kuat dengan negeri tirai bambu.

3. Konsensus Bersama

Dari seluruh mata uang di dunia, ada yang dinamakan safe haven currency, yaitu mata uang yang paling aman, paling stabil, dan paling kuat dalam menghadapi gejolak ekonomi. Beberapa di antaranya adalah Dolar AS (USD), Yen Jepang (JPY), dan Franc Swiss (CHF). Apa fungsinya?

Ketika terjadi krisis, banyak orang yang tidak ingin menyimpan kekayaannya di mata uang negara berkembang atau negara kecil yang kestabilan ekonomi dan politiknya bisa berdampak jangka panjang akibat krisis, konflik, dan bencana. Sebagai contoh adalah negara venezuela yang tingkat inflasinya tidak stabil. Siapa sih yang rela menukarkan uangnya?

Jadi, orang akan lebih memilih untuk beralih ke safe haven currency ketika terjadi krisis, konflik, maupun bencana. Dalam kasus covid-19, banyak investor yang beralih ke USD, sehingga permintaan dolar meningkat. Harga dolar pun naik dan menguat terhadap hampir seluruh mata uang dunia.

4. Hutang Negara

Semakin banyak hutang negara, maka semakin banyak kebutuhan terhadap mata uang negara lain untuk membayar hutang. Dapat membayangkan apa yang terjadi selanjutnya?

Setelah mengetahui hal ini, maka tentu timbul berbagai pertanyaan lainnya yang menjadikan kita semakin penasaran dengan ilmu ekonomi. Apa efek bagi ekonomi Indonesia jika rupiah terus melemah? Apakah ada bahayanya jika rupiah terus menguat? Mengapa Indonesia tidak mencetak uang sebanyak-banyaknya untuk melunasi hutang?  Bagi setiap muslim, khususnya pengemban dakwah, pengetahuan dasar ini tentunya dibutuhkan sebagai modal analisis perbandingan sistem ekonomi kapitalisme, Islam, dan sosialisme.

Sebagai disclaimer, bahwa apa yang tercantum dalam tulisan ini adalah “simplifikasi” yang disarikan dari ilmu ekonomi agar lebih mudah dipahami. Wallahu a’lam.[]

Sumber:

A Muttaqiena. Faktor-Faktor Yang Menyebabkan Rupiah Melemah. 5 Februari 2014. https://www.seputarforex.com/artikel/faktorfaktor-yang-menyebabkan-rupiah-melemah-157900-35

Aprianto Cahyo Nugroho. The Fed Pangkas Suku Bunga Lagi, Trump Senang. 16 Maret 2020. https://ekonomi.bisnis.com/read/20200316/9/1213635/the-fed-pangkas-suku-bunga-lagi-trump-senang

Niko Ramadhani. Inilah 4 Alasan Penyebab Rupiah Melemah. 27 Agustus 2019. https://www.akseleran.co.id/blog/penyebab-rupiah-melemah/

Nimas Des Aristanti. 8 Penyebab Melemahnya Nilai Mata Uang Rupiah Terhadap Dollar USA dan Mata Uang Lain. https://koinworks.com/blog/faktor-melemahnya-rupiah/

Video “Jokowi Biarkan Rupiah Ke 16,000/USD. Rakyat Mati? Channel: Astronacci International. 16 Juli 2018. https://www.youtube.com/watch?v=gp8e4Kp56cg&list=PL7krKgNqTG7LTRn_iRWQ1Jrv0xh4HWRgu&index=40&t=0s

Video “Kenapa Rupiah Melemah? (Explained). Channel: Kok Bisa? 23 Agustus 2015. https://www.youtube.com/watch?v=sB7fSPbYFJg

Video “Penjelasan: Kenapa Dolar Naik & Rupiah Melemah Terus?”. Channel: Ngomongin Uang. 23 Maret 2020.

WRgu&index=39&t=0s

Share the idea

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *