Kumpulan Ilustrasi Kebencian Media Eropa Atas Sultan Abdul Hamid II

Sekitar tahun 1900, Le Musée des Sires kemudian menerbitkan gambar sang sultan dengan pose serupa, sebagai sindiran pada Khilafah dan Islam (Gambar kanan). Sumber gambar: https://groong.org/orig/ak-20140921.html



“Sick man” Sultan Abdul Hamid II digambarkan layaknya pasien yang diamputasi melalui pelepasan wilayah negara. Para pembesar Eropa, digambarkan layaknya dokter yang menuliskan resep bagi pasien, yang nyatanya justru semakin memperparah penyakitnya. Karikatur dimuat dalam koran
Der Floh. Vienna, 1903. Sumber gambar: http://www.groong.com/orig/ak-20171004.html

Hilangnya berbagai wilayah Utsmani, membuat Media Prancis “Le Petit Journal” menyindir Sultan Abdul Hamid II sebagai si tua yang tak berdaya (Gambar kanan). 18 Oktober 1908. Sumber gambar: https://commons.wikimedia.org/wiki/File:Le_Petit_Journal_Balkan_Crisis_(1908).jpg

Sebuah kartu pos bernada sarkasme menyebut Sultan Abdul Hamid II sebagai seorang tiran yang paling soleh
(Le plus spirituel de tous les tyrans). L’Assiette au Beurre no. 9 edisi 8 Agustus 1901 (Gambar kanan). Sumber gambar: https://groong.org/orig/ak-20140921.html

Layaknya Sultan Muhammad al-Fatih dan Sultan Sulaiman al-Qanuni, bagi Eropa, Sultan Abdul Hamid II memang sangat fenomenal. Beliau, bahkan dijuluki dengan julukan sindiran sebagai “Red Sultan”.
Berbagai gambar yang disajikan sebelumnya, cukuplah menggambarkan ke-fenemonal-an beliau bagi warga Eropa. Berbagai intrik politik di sekitar Khilafah, baik di kalangan internal maupun eksternal itu, juga akan dibahas dalam buku karya Nicko Pandawa yang berjudul, “Khilafah dan Ketakutan Penjajah Belanda”.

