Kumpulan Ilustrasi Kebencian Media Eropa Atas Sultan Abdul Hamid II

Share the idea
Le Petit Journal, sebuah media Prancis menampilkan gambar berwarna Sultan Abdul Hamid II. Edisi 21 Februari 1897 (Gambar kiri).

Sekitar tahun 1900, Le Musée des Sires kemudian menerbitkan gambar sang sultan dengan pose serupa, sebagai sindiran pada Khilafah dan Islam (Gambar kanan). Sumber gambar: https://groong.org/orig/ak-20140921.html
Para penguasa Eropa yang senantiasa mengintervensi internal politik Khilafah dan menuntut terjadinya reformasi seraya mengancam dengan kekuatan militer. Karikatur oleh Bernard Partridge. 1903. Sumber gambar: https://punch.photoshelter.com/image/I00007V26AEUnmwI
Johan braakensiek, seorang seniman Belanda, menggambar karikatur masa kejatuhan Sultan Abdul Hamid II (De val van Abdoel Hamid II) yang ia citrakan sebagai Sultan pemurung dengan kaki terbelenggu di penjara bawah tanah. 25 April 1909. Kehadiran para penguasa Eropa, seperti Raja Edward VII (Inggris), Kaiser Franz Joseph (Austria-Hongaria) dan Kaiser Wilhelm II (Jerman) menunjukkan intrik politik Eropa yang berebut pengaruh agar dapat mengendalikan Khilafah. Sumber gambar: https://leidenspecialcollectionsblog.nl/articles/johan-braakensieks-cartoon-of-an-imprisoned-ottoman-sultan-1909
Karikatur dari halaman depan majalah Puck (New York) no. 1388, 7 Oktober 1903. Rusia menjadi dalang di balik berbagai pemberontakan di wilayah Khilafah (gambar kiri).

“Sick man” Sultan Abdul Hamid II digambarkan layaknya pasien yang diamputasi melalui pelepasan wilayah negara. Para pembesar Eropa, digambarkan layaknya dokter yang menuliskan resep bagi pasien, yang nyatanya justru semakin memperparah penyakitnya. Karikatur dimuat dalam koran
Der Floh. Vienna, 1903. Sumber gambar: http://www.groong.com/orig/ak-20171004.html
Media Prancis “Le Rire” edisi 134 menyejajarkan Sultan Abdul Hamid II dengan “iblis” (Gambar kiri). 29 Mei 1897. Sumber gambar: https://commons.wikimedia.org/wiki/File:%E2%80%9CLe_Rire%E2%80%9D,_Number_134,_May_29,_Paris,_1897.jpg

Hilangnya berbagai wilayah Utsmani, membuat Media Prancis “Le Petit Journal” menyindir Sultan Abdul Hamid II sebagai si tua yang tak berdaya (Gambar kanan). 18 Oktober 1908. Sumber gambar: https://commons.wikimedia.org/wiki/File:Le_Petit_Journal_Balkan_Crisis_(1908).jpg
Another “Sick Man”. John Tenniel, kartunis London, menggambarkan Sultan Abdul Hamid II sebagai  “Sick Man of Europe” yang berusaha menghibur penguasa China sebagai “Sick Man of Asia” (Gambar kiri). 1898. Sumber gambar: https://fineartamerica.com/featured/turkey-another-sick-man-granger.html

Sebuah kartu pos bernada sarkasme menyebut Sultan Abdul Hamid II sebagai seorang tiran yang paling soleh
(Le plus spirituel de tous les tyrans). L’Assiette au Beurre no. 9 edisi 8 Agustus 1901 (Gambar kanan). Sumber gambar: https://groong.org/orig/ak-20140921.html
Sultan Abdul Hamid II, sedang bertarung melawan “anjing-anjing” dalam berbagai upaya pemberontakan wilayah. Para penguasa Eropa, berdiri melingkar dan asyik menonton. 1876. Sumber gambar: https://www.historytoday.com/miscellanies/sultan-and-sultan

Layaknya Sultan Muhammad al-Fatih dan Sultan Sulaiman al-Qanuni, bagi Eropa, Sultan Abdul Hamid II memang sangat fenomenal. Beliau, bahkan dijuluki dengan julukan sindiran sebagai “Red Sultan”.

Berbagai gambar yang disajikan sebelumnya, cukuplah menggambarkan ke-fenemonal-an beliau bagi warga Eropa. Berbagai intrik politik di sekitar Khilafah, baik di kalangan internal maupun eksternal itu, juga akan dibahas dalam buku karya Nicko Pandawa yang berjudul, “Khilafah dan Ketakutan Penjajah Belanda”.

Share the idea

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *