Apa yang Salah dengan Nasionalisme?

Share the idea

Dalam konstelasi politik di Indonesia saat ini, yang tersisa dalam medan pertarungan tinggal partai-partai nasionalis dan partai-partai Islam (baik yang parlemen maupun non-parlemen), sedangkan yang partai beraliran Sosialis-Komunis sudah terkubur di perut bumi, atau menjadi setan gentayangan yang malu-malu memunculkan penampakannya.

Jelas, semenjak awal kemerdekaan negeri ini, golongan yang menonjolkan paham nasionalisme senantiasa berseteru dengan golongan yang menonjolkan syari’at Islam dalam perjuangannya. Perseteruan itu bisa kita dapati dalam perdebatan para founding fathers tatkala merumuskan ideologi negara ketika Sidang Konstituante pada tahun 1956.

Sidang yang berlangsung di gedung Sociteit de Corcordia di Bandung itu memperdebatkan apakah Islam, Pancasila, atau Sosial Ekonomi yang akan dijadikan dasar negara. Golongan Islam mempresentasikan perjuangannya dengan menawarkan dasar Islam, golongan nasionalis dengan Pancasila-nya, dan golongan Komunis dengan Sosial-Ekonomi-nya. Pada perkembangannya, pejuang dasar Sosial-Ekonomi merapat pula ke pejuang Pancasila.

Amat keras penentangan kaum Islam kepada Pancasila yang diusung kaum nasionalis saat itu. Jika hari ini ramai stempel “anti-Pancasila” ala rezim Suharto dan Jokowi untuk memberangus siapapun yang tak sesuai dengan garis kebijakan kapitalnya, mungkin saja para kaum Islam saat itu akan merebut stempel “anti-Pancasila” dan mencapnya dengan penuh kebanggaan di dada mereka.

Buya Hamka misalkan -sebagaimana penuturan anaknya, K.H. Irfan Hamka, dalam biografi ayahnya- dengan amat lantang dalam Sidang Konstituante mengucapkan, “bila negara ini mengambil dasar negara Pancasila, sama saja kita menuju jalan ke Neraka!”

Bukan tanpa alasan Buya Hamka mengatakan sedemikian kerasnya. Beliau berkata, “…jiwa atau yang menjiwai proklamasi tanggal 17 Agustus, bukan Pancasila. Sungguh, saudara ketua, Pancasila itu belum pernah dan tidak pernah dikenal, tidak populer dan belum pernah terdengar! Yang terdengar hanya sorak ‘Allahu Akbar!’. Dan api yang nyala di dalam dada ini sampai sekarang, saudara ketua, bukanlah Pancasila, tapi ‘Allahu Akbar’!”

Dalam kesempatan lain, beliau menggunakan tamsil yang menggugah. “Jika saya tanyakan pada hati ini, kepada salah seorang pembela Pancasila, apakah yang terasa dalam hatinya ketika puteranya yang dicintainya tewas dan diantarkannya ke pusara; Pancasilakah atau Allahu Akbar? Niscaya dia akan menjawab: ‘Allahu Akbar’. Dengan demikian baru hatinya akan puas. Hati sanubari yang tidak pernah berdusta!” 

Walaupun ada sila ketuhanan dalam Pancasila, namun Muhammad Natsir menganggap bahwa sejatinya asas Pancasila bukanlah ketuhanan, namun “la diniyyah”, netral agama. Mirip dengan konsep agnostik yang mengakui Tuhan namun menegasikan agama, apalagi syari’at Islam. Jatuhnya sudah pasti sekulerisme. Wajarlah jika hari ini sering dikatakan sebuah ungkapan yang tidak jelas apa maksudnya, seperti “Indonesia bukan negara agama, bukan juga negara sekuler.”Sebuah ungkapan yang mengada-ada, tidak ilmiah, pragmatis, dan penuh jebakan.

Padahal sejatinya, paham Nasionalisme bukanlah sesuatu yang lahir dari Islam, melainkan lahir dan berkembang dari Eropa dan diekspor ke negeri-negeri kaum Muslim.

J. Verkuyl, sebagaimana dikutip oleh Abdul Qadir Djaelani, mengatakan bahwa sesungguhnya Nasionalisme itu mengangkat kebangsaan menjadi suatu ilah (sesembahan), membuat kepentingan nasional menjadi kepentingan tertinggi, norma-norma untuk perbuatannya tidak diambil dari firman Tuhan, melainkan dari sumber-sumber yang keruh, yakni ‘darah’ dan ‘bumi’.

Dr. Kalin Siddique mengemukakan fakta menarik terkait pertentangan antara Nasionalisme dan Islam dalam bukunya Towards a New Destiny, yang ia paparkan dalam beberapa poin, seperti:

  1. Nasionalisme adalah suatu bentuk pengagungan ‘Tribalisme’, sedangkan Islam justru menghancurkan Tribalisme. Malah seluruh perjuangan Nabi Muhammad adalahpernyataan perang terhadap Tribalisme yang berada pada masa itu;
  2. Nasionalisme telah menumbuhkan struktur negara bangsa (nation-state) yang menuntut pemuasan, kepentingan diri sendiri dengan menafikkan harga kepentingan kelompok lain, yang akan membidani lahirnya imperialisme dan fasisme, baik yang terang-terangan maupun terselubung;
  3. Nasionalisme berakar pada berbagai faktor, seperti wilayah, bahasa, kebudayaan, dan keunggulan ras. Sedangkan Islam tak mengenal batas-batas geografis linguistik dan rasial;
  4. Pada kenyataannya, nasionalisme –setelah mencapai dunia Islam di Afrika Utara, Timur Tengah, dan Timur Dekat- merupakan ‘terompet maut’ yang menandai peluruhan dunia-dunia Islam menjadi negara-negara bangsa. Nasionalisme Arab khususnya, telah menjadikan Arab terasing dari Islam, dan nasionalisme-nasionalisme parokial lainnya, seperti Pakistan, Afghanistan, dan Indonesia.

Gunawan Mangunkusumo, seorang aktivis Budi Utomo yang sangat Kejawen, mengeluhkan Islam yang menurutnya tidak sesuai dengan “semangat nasionalis Jawa”, yang ia tuangkan dalam Soembangsih Gedenkboek Boedi Oetomo dengan judul One Stadpunt dan Godsdientst,

“…dalam banjak hal agama Islam bahkan koerang akrab dan koerang ramah hingga sering nampak bermoesoehan dengan tabiat kebiasaan kita, pertama-tama dalam hal ini terboekti dari larangan oentoek menjalin Qoer’an ke dalam bahasa Djawa. Rakjat Djawa biasa moengkin sekali memandang hal itoe biasa sadja. Akan tetapi, seorang nasionalis Djawa, berpikir dan merasakan hal itoe sebagai hinaan jang sangat rendah. Apakah bahasa kita jang indah itoe koerang patoet, terlaloe profan oentoek menjampaikan pesan Nabi?”

Pandangan anti-Islam tersebut muncul lagi pada hari ini, dibungkus dengan konsep ‘Islam Nusantara’ yang pokok’e berbeda dengan ‘Islam Timur Tengah’. Mereka-mereka yang rajin mempropagandakan Islam Nusantara sering kali memakai qaul Hadhratus-Syaikh Hasyim Asy’ari yang mengatakan “hubbul wathan minal Iman”. Padahal yang dimaksud Kyai Hasyim Asy’ari itu adalah dari segi substansi, yakni cinta tanah air dan membelanya dari penjajahan kolonial, agar penjajah kafir kolonial itu tidak memurtadkan kaum Muslim di tanah air mereka sendiri. Jika slogan “hubbul wathan minal iman” itu justru digunakan untuk menolak penerapan Syariah Islam dan Khilafah, maka sejatinya itu bukan “hubbul wathan minal iman”, tapi “hubbul wathan minal kufri”! []

Sumber:

Abdul Qadir Djaelani. 1999. Sejarah Perjuangan Umat Islam Indonesia. Yayasan Pengkajian Islam Madinah Al-Munawaroh: Jakarta.

Debat Dasar Negara : Islam dan Pancasila Konstituante 1957. Pustaka Panjimas. Jakarta.

Irfan Hamka. 2013. Ayah… Kisah Buya Hamka. Republika: Jakarta.

Share the idea

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *