Islam dan Feminisme: Benturan Peradaban yang Tidak Akan Pernah Mencapai Titik Temu

Share the idea

Layaknya peradaban Barat, Arab pra Islam juga memiliki pandangan yang merendahkan wanita. Mengutip Hamka dalam bukunya yang berjudul, “Sejarah Umat Islam pra Kenabian hingga Islam Nusantara”, “Lelaki boleh beristri sesukanya dan sebanyak yang ia inginkan, lalu menceraikannya apabila sudah jemu. Berdasarkan hukum mereka, seorang janda perempuan menjadi warisan untuk anak dari sang ayah yang telah meninggal sehingga tidak sedikit didapatkan perkawinan antara anak yang tua dengan istri muda ayahnya”. Pun dalam tradisi arab pra Islam, menguburkan anak perempuan hidup-hidup adalah sebuah adat kejam yang biasa dilakukan.

Bahkan menurut Barthelmeu Sant Helaire, “Kalau benar bahwa orang Arab sebelum Islam telah mencapai kemajuan, tentu tidak akan sampai turun ayat larangan yang bunyinya dapat menyebabkan bulu kuduk kita berdiri, “Diharamkan atas kamu menikahi ibu kamu, anak perempuan kamu, saudara perempuan kamu, saudara perempuan ibumu, saudara perempuan ayahmu, anak perempuan saudara laki-lakimu, dan anak perempuan saudara perempuan mu”. Hal ini sekaligus memberikan gambaran bahwa kerendahan adab bangsa Arab pra Islam yan lebih rendah dibandingkan dengan bangsa Barbar dan bangsa Ibrani sebelum kedatangan Nabi Musa. Berbagai kekejaman inilah yang telah dihapuskan ketika Islam datang.

Islam telah memberikan aturan yang sangat jelas mengenai pembagian peran antara laki-laki dan perempuan. Bukan hanya menyesuaikan dengan fitrah manusia, pembagian peran dalam Islam dapat memberikan keharmonisan hidup dalam keluarga setiap insan. Kedatangan Islam justru meningkatkan kemuliaan dan kedudukan wanita. Hal ini bukan hanya ajaran teoritis, bahkan sudah dibuktikan secara historis. Oleh karena itu, sangatlah tidak tepat ketika feminisme menyerang Islam. Secara jelas, Islam telah menyelesaikan berbagai permasalahan, bahkan dimulai ketika Islam muncul pertama kali di tanah Arab.

Beberapa contoh perubahan revolusioner dari Islam adalah ‘membatasi’ jumlah perkawinan laki-laki Arab, dari yang tidak terbatas menjadi maksimal hanya menikahi empat wanita, itu pun dengan syarat-syarat yang tidak mudah dan ketat. Islam juga memuliakan dan mengangkat derajat wanita, baik dalam urusan pendidikan, keluarga, hingga politik.

Namun, menurut para feminis, Islam telah bias gender, terutama dalam urusan domestik. Inilah yang tidak dipahami oleh mereka, bahwa sesungguhnya urusan domestik ini adalah bentuk dari penguatan ketahanan keluarga. Keluarga dalam pandangan Islam adalah hal yang sangat penting untuk dijaga. Sebab, ketahanan keluarga menjadi salah satu pondasi peradaban Islam untuk melahirkan generasi-generasi emasnya.

Fungsi dan struktur keluarga inilah yang jelas berbeda bila dibandingkan dengan cara pandang Barat yang justru melawan lembaga keluarga ini. Mereka menguggat, bahkan kalau perlu lembaga keluarga dihilangkan saja, karena telah meng-hegemoni dan mengekang kebebasan. Bahkan mereka sudah menggugat proses pernikahan, sebagai tahap awal terbentuknya lembaga keluarga. Maka sangatlah wajar, ketika para feminis sangat menuntut hal-hal yang berkaitan dengan keluarga, namun tiba-tiba “diam seribu bahasa” ketika bicara haramnya praktik perzinahan. Inilah letak perbedaan antara Islam dan Barat dalam memandang keluarga, yang menyebabkan perbedaan cara pandang dua kubu ini terhadap wanita.

Meski memiliki peran dan tanggung jawab masing-masing, Islam dengan tegas telah memberikan kesempatan yang sama antara wanita dan pria untuk meraih pahala yang sebesar-besarnya dan Surga.

 “Sesungguhnya, laki-laki dan perempuan yang muslim, laki-laki dan perempuan yang sabar, laki-laki dan perempuan yang khusu’, laki-laki dan perempuan yang bersedekah, laki-laki dan perempuan yang berpuasa, laki-laki dan perempuan yang memelihara kehormatannya, laki-laki dan perempuan yang banyak menyebut (nama) Allah, Allah telah menyediakan untuk mereka ampunan dan pahala yang besar” (TQS. Al-Ahzab: 35).

Dalam Al-Qur’an pun Allah menyatakan, bahwa hasil kerja tidak bergantung pada gender.  “…dan bagi laki-laki ada bagian dari apa yang mereka usahakan, dan bagi perempuan pun ada bagian dari apa yang mereka usahakan” (TQS. An-Nisaa: 32).

Di ranah pendidikan, Rasulullah pun terbiasa memberikan suatu taklim (wahana pembelajaran) khusus yang bahkan hanya dihadiri oleh para perempuan. Aisyah, seorang perempuan sekaligus istri Rasulullah, bahkan termasuk ahli fiqih dan banyak meriwayatkan hadits. Setelah Rasulullah meninggal, Aisyah pun rutin mengajar ilmu agama kepada para Sahabat Rasulullah yang bahkan di dalamnya terdapat laki-laki.

Hal serupa pun dapat kita temukan pada periode setelahnya, yaitu zaman Khulafaul Rasyidin. Seorang wanita bahkan berani menegur seorang kepala negara atas kebijakannya yang kurang tepat. Pada suatu saat, Amirul Mu’minin Umar Bin Khathab mengeluarkan suatu kebijakan, yakni melarang wanita menetapkan mahar yang terlalu mahal sekaligus menentukan batas-batas nya.

Tak berselang lama, seorang wanita mengajukan protesnya dan mengingatkan Umar sebagai Kepala Negara tentang satu ayat dalam Al-Qur’an, “Sedang kamu telah memberikan kepada seseorang di antara mereka harta yang banyak” (TQS. An Nisaa’: 20). Setelah mendengar protes dari wanita tersebut, Umar pun mencabut kembali kebijakan nya, sambil berkata, “Perempuan itu benar, dan Umar salah”.  Kisah ini memperlihatkan bahwa Islam memberikan kebebasan wanita untuk berpolitik dan menyampaikan pendapatnya.

Ibnu Asaakir dari Ali bin Abi Thalib, Nabi Muhammad bersabda: “Yang memuliakan wanita hanyalah orang mulia, dan yang menghina wanita hanyalah orang yang hina”. Walhasil, secara normatif-pun, Islam telah memposisikan wanita dalam kedudukan yang mulia.

 Sayangnya, gerakan feminisme dewasa ini telah diimpor secara paksa ke negeri-negeri muslim hingga menyebabkan terjadinya benturan peradaban. Mengenai hal ini, berbagai pemikir Islam telah melakukan kajian komparatif mengenai hubungan antara Islam dan Barat. Mulai dari Muhammad Asad, Abul A’la Maududi, Sayyid Quthb, dan Syed Naquib Al-Attas. Tak ketinggalan pula, para pemikir barat telah berkata jujur bahkan mengakui keniscayaan benturan itu.

Meminjam istilah Syed Naquib al-Attas (seorang pemikir Muslim asal Malaysia), “…This confrontation is by the nature a historically permanent one”. (Pertentangan ini (yakni, Islam dan barat) terjadi alami serta permanen secara historis). Tesis serupa juga dibawakan oleh seorang Bernard Lewis dan Samuel P. Huntington yang menyebut hal ini dengan istilah, “The Clash of Civilizations”.

Muhammad Asad (Leopold Weiss) dalam bukunya “Islam at the Crossroads” berpendapat, “Peradaban Barat modern hanya mengakui penyerahan manusia kepada tuntutan-tuntutan ekonomi, sosial, dan kebangsaan. Tuhan mereka sebenarnya bukanlah kebahagiaan spiritual, melainkan kenikmatan duniawi. Mereka mewarisi watak nafsu untuk berkuasa dari peradaban Romawi Kuno. Konsep keadilan bagi Romawi adalah keadilan bagi orang-orang romawi saja. Sikap semacam itu hanya mungkin terjadi dalam peradaban yang berdasarkan konsepsi hidup yang sama sekali materialistik.” Bahkan Asad pun menambahkan, bahwa peradaban Barat itu irreligious.

Maka sangatlah wajar, jika standar penilaian mereka adalah hal-hal yang berhubungan dengan kebahagiaan duniawi dan materi. Sebagai contoh, ketika mereka menganggap bahwa peran wanita sebagai seorang ibu dan istri adalah sebuah ketidakadilan karena tidak menghasilkan uang, maka sesungguhnya hal ini terlahir dari penilaian mereka, bahwa peran yang berharga hanyalah peran yang dapat menghasilkan uang. Jika tidak dapat menghasilkan uang, maka peran tersebut tidaklah berharga.

Hal sejenis juga terjadi ketika para feminis mengungkapkan bahwa kepemimpinan laki-laki terhadap wanita adalah sebuah penindasan. Padahal, dalam menjalani suatu sistem hidup, tentu diperlukan sosok yang ditetapkan sebagai pemimpin. Hal ini bukanlah sebuah kedzaliman dan penindasan, namun menjaga agar setiap individu melaksanakan fungsi masing-masing. Jika kaum sekuler menganggap bahwa kepemimpinan sama saja dengan penindasan, maka sesungguhnya hal itu disebabkan bahwa ketika mereka memimpin pihak lain, mereka memang suka menindas!

Benturan antara Peradaban Barat yang sekuler dengan peradaban Islam yang terikat dengan syariat Islam, juga diuraikan oleh Pemikir Barat, Arend Th. Van Leewuen:

“Sharia, hukum kanonik Islam, adalah suatu tatanan peraturan-peraturan yang luas jangkauannya mencakup seluruh bidang kehidupan, baik agama, politik, sosial, rumah tangga, maupun pribadi. Bagian pertama berisi petunjuk-petunjuk mengenai hal-hal agama dan ritual. Bagian kedua, yang membahas persoalan-persoalan yuridis dan politik adalah sejalan dengan bagian terdahulu, seperti petunjuk-petunjuk cermat yang melimpah ruah mengenai tingkah laku serta kebiasaan-kebiasaan sosial budaya. Sebab, fungsi utama dan hakiki dari syariah adalah pengendalian teokratis dari seluruh kehidupan. Hanya dalam instansi kedua, ia menjadi suatu korpus hukum dalam arti yuridis murni. Tatkala tatanan ini bertabrakan dengan peradaban modern yang sudah tersekulerisasi, maka bukan kali pertama ikatan batinnya diuji”.

Singkatnya, Islam dan Barat secara peradaban memang bertolak belakang. Budaya Barat tidak akan cocok ketika digunakan kepada Islam. Hal yang sama juga terjadi antara gerakan feminisme dan Islam. []

Sumber:

Adian Husaini dan Nuim Hidayat, 2002. Islam Liberal: Sejarah, Konsepsi, Penyimpangan, dan Jawabannya. Gema Insani Press. Jakarta.

Adian Husaini, 2005. Wajah Peradaban Barat: Dari Hegemoni Kristen ke Dominasi Sekuler-Liberal. Gema Insani Press. Jakarta.

Ania Loomba, 2016. Kolonialisme/Pascakolonialisme. Narasi dan Pustaka Promethea. Yogyakarta.

Arend Th. Van Leeuwen, 2007. Agama Kristen dalam Sejarah Dunia. BPK Gunung Mulia. Jakarta.

Hamid Fahmy Zakrasyi, 2012. Misykat: Refleksi Tentang Westernisasi, Liberalisasi, dan Islam. Insists dan Miumi. Jakarta.

Hamka, 2016. Sejarah Umat Islam: Prakenabian hingga Islam di Nusantara. Gema Insani Press. Jakarta.  

Ismail Yusanto, 1998. Islam Ideologi: Refleksi Cendikiawan Muda. Penerbit Al-Izzah. Bangil.

Martin Suryajaya, 2016. Sejarah Pemikiran Politik Klasik: Dari Prasejarah hingga Abad ke-4 M. Marjin Kiri. Tangerang.

Moh Natsir, 1954. Capita Selecta Jilid I. Penerbit Bulan Bintang. Jakarta.

Muhammad Assad. Islam at Crossroads. Dar Andalus. Giblartar. India.

Taufik Abdullah dkk., 1988. Tradisi dan Kebangkitan Islam di Asia Tenggara. LP3ES. Jakarta.

Share the idea

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *