Benarkah Wanita Indonesia Membela Feminisme? Sebuah Telaah Sejarah

Share the idea

Dalam konteks keindonesiaan, gerakan feminisme pun tak luput dari perhatian para tokoh nasional. M. Natsir dalam bukunya, “Capita Selecta Jilid I” pada artikel berjudul, “Di Sekitar Krisis Perkawinan”, ia menyoroti berbagai permasalahan terkait perkawinan. Menurutnya, salah satu sebab terjadinya keengganan seseorang untuk menikah, adalah adanya pengaruh emansipasi yang dibawakan oleh gerakan feminisme kala itu. Menurutnya, permasalahan tumbuh suburnya gerakan feminisme ialah sebagai reaksi terhadap, “minderwaardigheudscomplex” yakni perasaan kurang-berharga, yang dialami oleh kaum wanita kala itu.

Namun, benarkah perjuangan kaum wanita dalam konteks sejarah keindonesiaan didasari oleh emansipasi ala feminisme?

Baroroh Baried, seorang peneliti dari Institute of Southeast Asian Studies, dalam buku yang berjudul, “Tradisi dan Kebangkitan Islam di Asia Tenggara” menyatakan, “gerakan perjuangan kaum wanita di Indonesia tidaklah didasari pada semangat feminisme yang menentang kaum pria di sisi yang lain. Justru, hal tersebut bertujuan untuk bekerjasama dengan kaum pria; tidak hanya untuk menaikkan status kaum wanita, tetapi juga untuk menghadapi kaum penjajah. Hal ini dilakukan demi memperoleh kemerdekaan bagi Negara, yang menutut persatuan di segala bidang, termasuk persatuan wanita dan pria Indonesia.” 

Bahkan menurutnya, pada periode sejarah Indonesia yang panjang, Kaum wanita justru menduduki posisi yang menonjol, khususnya di bidang politik pada awal sejarah Indonesia. Bahkan di bidang keilmuan, dikenal sosok yang bernama Siti Aisyah We Tenriolle. Wanita asal Sulawesi ini yang merupakan seorang penulis sukses. Ia menyusun sebuah syair kepahlawanan yang terdiri dari 7000 halaman yang disebut La-Galigo dan mendirikan sekolah pertama di Ternate yang memberikan kesempatan belajar bagi kaum pria dan wanita.

Namun, struktur yang awal nya tidak bermasalah ini kemudian menjadi bermasalah akibat feodalisme dan kolonialisme Belanda. Menurut Baroroh Baried, kondisi ini disebabkan oleh dua hal: Pertama, feodalisme. Kedua, keterbelakangan. Pangkal keduanya ialah akibat kolonialisme Belanda.

Menginjak akhir abad ke-19 dan awal abad ke-20, gerakan pemberdayaan wanita kembali mengemuka. Berbagai organisasi nasional yang ada bahkan juga memiliki sayap pergerakan wanita. Mulai dari Aisyiyah sebagai sayap pergerakan wanita dari organisasi Muhammadiyah, Nadhlatul Fatayat sebagai sayap dari Nadhlatul Ulama, dan beragam sayap pergerakan lainnya.

Sebagai salah satu contoh, adalah munculnya sosok Siti Munjiyah, Sang Orator Ulung dari Aisyiyah (Muhammadiyah). Dalam Kongres Perempuan Indonesia (22-25 Desember 1928 – kelak tanggal 22 Desember diperingati sebagai hari ibu), beliau membacakan orasinya yang berjudul, “Derajat Perempuan“. Dengan berani dan lantang, beliau hantam ide-ide feminisme Barat seraya memberikan sebuah solusi pergerakan perempuan bahwa hanya dengan Islam-lah perempuan bisa bangkit. Beliau pun meluruskan tudingan-tudinan miring mengenai poligami dan talak dalam Islam yang banyak dituduhkan. Menurut beliau, berbagai kesalahpahaman tersebut disebabkan “tidak mengertinya kita tentang Agama Islam”.

Secara garis besar, mereka bekerja tidaklah berdasarkan semangat feminisme yang berusaha mempertentangkan kaum pria. Sebaliknya, perjuangan itu justru akibat semangat dalam menerapkan ajaran Islam. Mereka memahami bahwa kaum wanita haruslah berpendidikan agar ia dapat mendidik anak-anak nya dan mengantarkannya menuju gerbang kesuksesan, serta dapat bekerja sama dengan suami dalam mewujudkan berbagai visi misi keluarga. Mereka pun juga memahami, bahwa wanita juga mengemban sebuah tugas mulia sebagai ummu wa robbatul bait, yaitu menjadi seorang ibu sekaligus penanggungjawab atas berbagai urusan rumah tangga.

Begitulah wanita dalam konteks sejarah Indonesia dan keislaman. Semangat perjuangan wanita tidak berakar pada semangat gerakan feminisme ala Barat. Oleh karena itu, ketika kita melihat berbagai gerakan feminis Indonesia saat ini, sudah selayaknya kita bertanya-tanya, “Untuk siapakah para aktivis feminisme di Indonesia bergerak?”  []

Sumber:

Adian Husaini dan Nuim Hidayat, 2002. Islam Liberal: Sejarah, Konsepsi, Penyimpangan, dan Jawabannya. Gema Insani Press. Jakarta.

Adian Husaini, 2005. Wajah Peradaban Barat: Dari Hegemoni Kristen ke Dominasi Sekuler-Liberal. Gema Insani Press. Jakarta.

Ania Loomba, 2016. Kolonialisme/Pascakolonialisme. Narasi dan Pustaka Promethea. Yogyakarta.

Arend Th. Van Leeuwen, 2007. Agama Kristen dalam Sejarah Dunia. BPK Gunung Mulia. Jakarta.

Hamid Fahmy Zakrasyi, 2012. Misykat: Refleksi Tentang Westernisasi, Liberalisasi, dan Islam. Insists dan Miumi. Jakarta.

Hamka, 2016. Sejarah Umat Islam: Prakenabian hingga Islam di Nusantara. Gema Insani Press. Jakarta.  

Ismail Yusanto, 1998. Islam Ideologi: Refleksi Cendikiawan Muda. Penerbit Al-Izzah. Bangil.

Martin Suryajaya, 2016. Sejarah Pemikiran Politik Klasik: Dari Prasejarah hingga Abad ke-4 M. Marjin Kiri. Tangerang.

Moh Natsir, 1954. Capita Selecta Jilid I. Penerbit Bulan Bintang. Jakarta.

Muhammad Assad. Islam at Crossroads. Dar Andalus. Giblartar. India.

Taufik Abdullah dkk., 1988. Tradisi dan Kebangkitan Islam di Asia Tenggara. LP3ES. Jakarta.

Share the idea

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *