Ketika “Indonesia” Menjalin Kontak dengan Khilafah

Share the idea

Dakwah. Kata inilah yang menjadi motor peradaban Islam. Agama ini menyebar dengan cepat melalui dakwah yang ditopang oleh Khilafah sebagai institusi utama dalam Islam. Ketika Daulah Islam tegak di Madinah, dakwah Islam seketika merambah Jazirah Arab dan batas-batas wilayah di sekitarnya, seperti Yaman, Bahrain, Persia, Syam, Mesir, dan Habasyah. Misi dakwah inilah yang kemudian dilanjutkan oleh para Khalifah sepeninggal Rasulullah. Maka, di mana pun dakwah Islam berlangsung, secara tidak langsung akan sangat berhubungan erat dengan Khilafah.

Kedatangan Islam di Indonesia (yang dahulu dikenal sebagai Nusantara) pun juga karena dakwah. Masuknya Islam di Indonesia sudah berlangsung sejak abad pertama hijrah. HAMKA dalam buku Perbendaharaan Lama, mengutip tulisan pendeta Buddha pengembara dari Tiongkok yang bernama I Tsing yang mengisahkan kedatangan utusan Raja Ta che ke negeri Holing yang saat itu dipimpin oleh seorang wanita (Ratu) bernama Sima. Ta Che adalah penyebutan Arab dalam bahasa Tiongkok, sedangkan Holing adalah kerajaan Kalingga yang berkedudukan di sekitar Rembang-Lasem, Jawa Tengah.

Perihal kedatangan utusan ini, diperkirakan terjadi pada masa Khalifah Muawiyah bin Abi Sufyan. Muawiyah memiliki sebuah badan kenegaraan yang bertugas untuk melakukan perjalanan dan penelitian ke negeri-negeri yang jauh. Bukti lain kedatangan Islam ke Nusantara adalah salinan surat Raja Sri Indravarman dari Sriwijaya kepada Khalifah Muawiyyah bin Abi Sufyan dan Khalifah Umar bin Abdul Aziz. Para utusan di awal kedatangan Islam di Nusantara ini lebih fokus sebagai peneliti dan duta yang membuka pintu dakwah di Nusantara.

Pada abad-abad berikutnya, dakwah bergandengan dengan pengaruh ekonomi yang disebarkan oleh para pedagang muslim ke seluruh Nusantara. Para pedagang yang serupa dengan investor saat ini, menarik para raja dan kepala suku di pusat-pusat perdagangan di Nusantara seperti Sumatra, Jawa, dan Maluku untuk memeluk Islam. Alasan utama mereka (para penguasa) memeluk Islam adalah agar dapat bergabung dengan komunitas muslim internasional yang pada saat itu menjadi mercusuar dunia. Masuk Islamnya para penguasa tersebut menandakan terbukanya pintu ekonomi (perdagangan) yang adil dan setara sebagai sesama muslim, dan juga sebagai perlindungan keamanan dari institusi negara Islam (Khilafah) yang waktu itu merupakan negara adidaya dunia.

Menjelang abad ke-15 Masehi, Majapahit sebagai penguasa Nusantara dengan sistem mandala-nya mulai mengalami kemunduran. Beberapa kekuasaan Islam yang memiliki kekuatan, langsung menyatakan merdeka dari pengaruh Majapahit. Di ujung Sumatra terdapat Kesultanan Samudra Pasai yang memiliki hubungan dengan Kesultanan Mamluk di Mesir, hadir pula Kesultanan Malaka yang posisinya tepat di tengah jalur perdagangan dunia yang menghubungkan Tiongkok dan Timur Tengah. Majapahit yang terletak di pulau Jawa sendiri mengalami perang saudara (Paregreg) yang menyebabkan kacaunya birokrasi yang berefek pada mundurnya sektor ekonomi yang menyebabkan krisis di dalam tubuh kerajaan.

Pada masa ini, datanglah para muallim dari berbagai wilayah dunia Islam untuk berdakwah di tanah Jawa. Mereka kemudian membentuk dewan dakwah yang mengatur strategi dakwah di Jawa. Di masa yang akan datang, dewan ulama’ ini dikenal sebagai Wali Songo.

Para ulama’ ini berdakwah secara masif di tengah masyarakat dan membangun pusat-pusat pendidikan di sepanjang pesisir utara Jawa (pusat-pusat perdagangan yang menghubungkan Jawa dengan dunia internasional) seperti di Cirebon, Kudus, Demak, Tuban, Sedayu, Gresik, dan Surabaya. Dua ulama’ paling terkemuka yaitu Raden Rahmat bin Maulana Ibrahim As-Samarqandy yang berkedudukan di Ampeldenta (desa perdikan Majapahit) Surabaya dan Raden Paku bin Maulana Ishak Al-Farghani yang membuka pesantren di sebuah bukit (dalam bahasa Jawa disebut Giri) di wilayah Gresik. Mereka secara khusus membuka sekolah kesatriaan yang mendidik putra-putra bangsawan baik dari Majapahit maupun dari kerajaan-kerajaan di luar Jawa yang nantinya menjadi para Sultan di seluruh Nusantara.

Perlahan tapi pasti, Majapahit akhirnya surut karena konflik internal. Posisinya kemudian digantikan oleh Kesultanan Demak yang dipimpin Raden Patah bin Bhre Kertabhumi (Brawijaya V) dengan gelar Sultan Abdul Fattah Alamsyah Akbar.

Di wilayah lain di Nusantara, kerajaan-kerajaan yang dahulu berhimpun dalam satu pakta ekonomi dan keamanan dengan Majapahit menyatakan perubahan konstitusinya menjadi kesultanan Islam. Di wilayah barat Jawa, hal yang sama juga dialami oleh Kerajaan Pajajaran. Meskipun tidak mengalami krisis berat sebagaimana Majapahit, pada akhirnya kerajaan yang berpusat di Pakuan (Bogor) ini takluk oleh pengaruh kekuasaan Islam di Sumedang Larang, Cirebon, dan Banten yang dakwahnya dimotori oleh cucu Prabu Siliwangi  yang bernama Maulana Syarif Hidayatullah bin Syarif Abdullah Umdatuddin al-Mishry. Kesultanan-kesultanan tersebut kemudian menjadikan dewan ulama’ sebagai ahlul halli wal aqdi yang mengatur jalannya pemerintahan Islam di Nusantara.

Kedatangan para penjajah Eropa menyebabkan kesultanan-kesultanan Islam di Nusantara semakin meningkatkan hubungan dengan Daulah Khilafah yang saat itu di bawah Bani Utsmaniyah di Turki. Hubungan tererat dan paling kuat dijalin oleh Kesultanan Aceh Darussalam. Berada di ujung pulau Sumatra, Aceh menjadi satelit Utsmani untuk menjaga perairan mulai dari Selat Malaka hingga Selat Bab el-Mandeb di pintu Laut Merah. Aceh juga menjadi penjaga Nusantara yang pernah bersama Demak, Makassar, dan Ternate bersama-sama memukul Portugis di Malaka.

Di Jawa, hubungan antara Daulah Khilafah dengan Kesultanan setempat mengalami pasang surut, meskipun dakwah Islam terus berjalan. Hubungan itu terjalin selama masa Kesultanan Demak, namun sejak beralih kepada Pajang kemudian Mataram, hubungan tersebut merenggang. Pada masa penguasa Mataram ketiga, yaitu Susuhunan Agung Hanyakrakusuma dikirimlah utusan untuk menemui Khaliqul Barrain wa Khaqanul Bahrain wa Khadimul Haramain Qaishar ar-Rumi Sultanul Ghazi Khalifatullah wa Zhilluhu fil Ardh Murad IV yang diwakili oleh Syarif Makkah Zaid ibn Muhsin Al-Hasyimi. Susuhunan Agung mendapatkan gelar Sultan Maulana Abdullah Muhammad Al Jawi Al Matarami dan hadiah tarbusy, panji, dan seguci air zam-zam yang diceritakan oleh penulis babad berasal dari Sultan Ngerum. Namun semasa dipimpin oleh anaknya, Amangkurat I, hubungan ini kembali renggang karena penguasa Mataram lebih memilih tunduk di bawah VOC.

Meskipun sebagian besar Nusantara jatuh kepada penguasa kolonial Belanda, perhatian Daulah Khilafah tetaplah besar terhadap Nusantara. Khilafah menggunakan pengaruh para ulama’ dan jamaah haji yang berasal dari wilayah Jawi (sebutan Nusantara di masa Utsmani). Syaikh Abdusshomad Al-Falimbany yang tercatat sebagai mufti Syafi’iyyah dan imam Masjidil Haram di Makkah mengirimkan surat kepada tiga penguasa di Jawa (Sri Susuhunan Pakubuwana III, Pangeran Mangkubumi atau Sultan Hamengkubuwono I, dan Pangeran Samber Nyowo atau Mangkunegara I) agar melakukan jihad fi sabilillah melawan kolonial Belanda.

Jihad melawan penjajah juga diserukan oleh Syaikh Yusuf Al-Makassary yang jejaknya bisa dilihat dari perlawanan di Makassar, Banten, Ceylon hingga beliau dibuang ke Tanjung Harapan Afrika Selatan. Jaringan ulama’ dan haji inilah di abad ke-18 hingga 20 menjadi motor perlawanan kaum muslimin di Nusantara. Tercatat ada 120 haji yang menjadi pendukung Pangeran Diponegoro dan ikut dalam penobatan beliau sebagai Sultan Abdul Hamid Herocokro Kabirul Mukminin Sayyidin Panatagama Sabilullah Khalifatur Rasulillah Ingkang Jumeneng Ing Tanah Jawi As-Sani.

Menjelang abad ke-20, jaringan murid Syaikh Ahmad Khatib Al-Minangkabawy menjadi pelopor kebangkitan nasional di Indonesia. Mereka antara lain adalah KHM. Hasyim Asy’arie, KH Ahmad Dahlan, dan H. Agus Salim. Juga tercatat mantan patih Madiun yang memilih mundur dari jabatannya karena berhaji, yaitu H. Oemar Said Tjokroaminoto, yang kemudian bergabung bersama Syarikat Islam dan menjadi pelopor kebangkitan Nasional.

Melihat ancaman yang dirasakan dari jaringan ulama’ dan haji, pemerintah kolonial Belanda menerbitkan undang-undang (staatblad) yang melarang kedatangan orang-orang Arab dari kawasan Timur Tengah dan membatasi serta mengawasi secara ketat pelaksanaan ibadah haji dan para haji.[]

Sumber:

A. C. S. Peacock, dkk. 2015. From Anatolia to Aceh: Ottomans, Turks, and Southeast Asia (Proceeding of the British Academy).

British Academy Publication: London.

Ahmad Mansur Suryanegara. 2009. Api Sejarah jilid 1-2. Salamadani Pustaka Semesta: Jakarta.

A. H. Nasution. 2013. Pokok-Pokok Gerilya. Narasi: Yogyakarta.

Azyumardi Azra. 2004. Jaringan Ulama Timur Tengah dan Kepulauan Nusantara Abad XVII dan XVIII: Akar Pembaruan Islam Indonesia. Kencana: Jakarta.

Beggy Rizkiansyah, dkk. 2017. Dari Kata Menjadi Senjata. Jurnalis Islam Bersatu: Jakarta.

Editor Kompas. 2018. Kita Hari Ini 20 Tahun yang Lalu. Kepustakaan Populer Gramedia: Jakarta.

Eugene Rogan. 2016. The Fall of Khilafah. Serambi: Jakarta.

Eugene Rogan. 2017. Dari Puncak Khilafah. Serambi: Jakarta.

Frial Ramadhan Supratman. Makalah, “Rafet Bey, The Last Ottoman Consul in Batavia The First During World War 1911-1924”.

Frial Ramadhan Supratman. Makalah, “Makam Sayyid Husein bin Abu Bakar al-Aydarus: Jaringan Spiritual Usmani di Indonesia akhir abad ke-19.”

Frial Ramadhan Supratman. Makalah, “Before the Ethical Policy: The Ottoman State, Pan-Islamism and Modernisation in Indonesia 1898-1901.”

Madawi Al Rasheed, dkk. 2012. Demystifying the Caliphate: Historical Memory and Contemporary Contexts. Oxford University Press: Oxford.

Majalah Tempo (edisi khusus) H. Agus Salim.

Majalah Tempo (edisi khusus) Panglima Sudirman.

Majalah National Geographic Indonesia edisi Islam di Indonesia.

Majalah National Geographic Indonesia edisi Menjadi Muslim Di Amerika.

M. C. Ricklefs. 2013. Mengislamkan Jawa: Sejarah Islamisasi di Jawa dan Penentangnya dari 1930 sampai Sekarang. Serambi: Jakarta.

M. C. Ricklefs. 2005. Sejarah Indonesia Modern: 1200 – 2004. Serambi: Jakarta.

M. C. Ricklefs. 2002. Yogyakarta di Bawah Sultan Mangkubumi, 1742 – 1749: Sejarah Pembagian Jawa. Mata Bangsa: Yogyakarta.

Moeflich Hasbullah. 2017. Islam dan Transformasi Masyarakat Nusantara. Kencana: Jakarta.

MR Kurnia, dkk. 2013. Menjadi Pemikir dan Politisi Islam. Al Azhar Press: Bogor

Peter Carey. 2011. Kuasa Ramalan: Pangeran Diponegoro dan Akhir Tatanan Lama di Jawa 1785 –

1855. Kepustakaan Populer Gramedia: Jakarta.

Reza Pankhurst. 2013. The Inevitable Caliphate?: The History of The Struggle for Global Islamic Union, 1924 to the present. Oxford University Press: Oxford.

Rizki Lesus. 2017. Perjuangan yang Dilupakan. Pro-U Media: Yogyakarta.

Septian AW. 2013. Peran Surat Kabar Bendera Islam Dalam Perjuangan Khilafah 1924 [Skripsi]. Universitas Indonesia: Depok.

Taqiyuddin An Nabhani. 2009. Konsepsi Politik Hizbut Tahrir. HTI Press: Jakarta.

Taqiyuddin An Nabhani. 2009. Mafahim Hizbut Tahrir. HTI Press: Jakarta.

Taqiyuddin An Nabhani. 2009. Pembentukan Partai Politik Islam. HTI Press: Jakarta.

Taqiyuddin An Nabhani. 2014. Terjun ke Masyarakat. Khilafah Press: Jakarta

Widji Saksono. 1995. Mengislamkan Tanah Jawa: Telaah atas Metode Dakwah Walisongo. Mizan: Bandung.

Share the idea

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *