Mengapa Sekularisme Masih Digunakan Oleh Umat Islam?

Share the idea

Dalam pandangan Islam, agama hadir untuk mengatur seluruh tata kehidupan manusia agar sesuai dengan apa yang Allah perintahkan dengan aturan yang bersifat mengikat kepada para pemeluknya. Sayangnya, saat ini agama kerap dihalang-halangi untuk mengatur ranah politik. Seakan mengatakan pada agama, “Anda jangan coba-coba mengatur politik. Urusan anda ada di tempat ibadah!”.

Padahal, sepanjang sejarah peradaban Islam yang berlangsung ribuan tahun itu, ternyata umat tidak pernah lepas dari politik. Bahkan ketika kekuasaan itu hampir hilang, umat tak membiarkan kondisi tersebut berlangsung lama. Senantiasa muncul pemimpin baru di dalam sistem yang sama, yang berusaha mempertahankan agar kepemimpinan umum atas seluruh umat Islam di seluruh dunia – yang jamak kita kenal sebagai Khilafah – tetap ada. Itulah yang terjadi pasca eksistensi Daulah Islam di Madinah, yang berlanjut di masa Khulafaur Rasyidin, Kekhilafahan Umayyah, Abbasiyyah, hingga Utsmaniyyah.

Kepemimpinan umum atas seluruh umat Islam di seluruh dunia itulah, yang menyebabkan eksistensi Khulafaur Rasyidin, kekhilafahan Umayyah, Abbasiyyah, maupun Utsmaniyyah lebih dikenal dibandingkan kekuasaan-kekuasaan lain, seperti Fatimiyyah misalnya. Bahkan, pemahaman bahwa kepemimpinan umum atas seluruh umat Islam di seluruh dunia itu harus ada, memang telah menjadi opini umum di kalangan umat Islam di masa lalu. Itulah mengapa, kursi Khalifah tak pernah kosong, kecuali selama 3.5 tahun pasca serangan masif Mongol yang berhasil membunuh Khalifah dan menggoncang kepemimpinan Abbasiyyah pada 1258, serta yang kita saksikan hari ini pasca runtuhnya Utsmaniyah pada 1924.

Munculnya kekuatan Barat yang menawarkan sistem alternatif selain Islam itulah yang menyebabkan kursi kepemimpinan umum bagi seluruh umat Islam di seluruh dunia itu masih kosong. Kondisi ini tentu berbeda dengan kekosongan 3.5 tahun pasca serangan Mongol. Karena Mongol, meski memiliki kekuatan untuk menjajah umat Islam, namun mereka tidak menawarkan ideologi dan sistem politik sebagaimana yang dilakukan Barat hari ini dengan sekularisme, kapitalisme, dan demokrasinya. Walhasil, umat masih menganggap bahwa Islam adalah satu-satunya sistem terbaik bagi mereka, dan cepat bangkit meski kelak Khalifahnya bukan berasal dari kalangan Quraisy.

Maraknya kepercayaan manusia atas sekularisme tidak serta merta muncul begitu saja. Akar dari pandangan ini bisa ditarik hingga abad pertengahan di Eropa, yaitu ketika agama dianggap sudah tidak bisa lagi menyelesaikan permasalahan umat manusia yang begitu kompleks. Bahkan, agama seringkali dianggap bertentangan dengan akal sehat manusia.

Selain itu, pandangan pemisahan agama dari negara dan kehidupan ini juga dilatarbelakangi oleh fakta penggunaan agama sebagai alat politik oleh para penguasa Eropa kala itu yang justru menghasilkan penindasan terhadap rakyatnya sendiri. Walhasil, selain mengalami kejumudan peradaban, banyak cendekiawan maupun tokoh intelektual yang menjadi martir dan dibunuh, bahkan tak sedikit yang dituduh sebagai penyihir atau alkemis.

Tak tahan dengan situasi tersebut, kampanye sekularisasi pun dilakukan. Tujuannya adalah kebebasan, karena nilai-nilai agama selama ini dianggap hanya menjadi penghalang bagi kemajuan peradaban. Oleh karena itu, urusan dunia, termasuk di dalamnya adalah politik, harus dipisahkan dengan urusan agama.

Universal Idea

Sebelum abad ke-20, sekularisasi belum menjadi ide umum (universal idea) di seluruh dunia, kecuali hanya di Eropa. Di tangan para filsuflah, konsep itu berkembang dan tersebar menjadi opini umum di tengah masyarakat. Perlahan, sekularisme menginfiltrasi umat Islam dan merongrong konsep kekhilafahan, hingga mengantarkannya kepada gerbang keruntuhan.

Pasca bubarnya Utsmani, konsep sekularisasi begitu cepat menyebar di tengah umat Islam layaknya sebuah wabah. Kaum muslimin seolah telah kehilangan perisai yang dapat melindungi mereka dari ideologi-ideologi kufur. Penyebaran ideologi ini semakin kuat kala ditopang oleh negara yang juga kuat, yaitu dengan munculnya Amerika dan kawan Blok Sekutunya sebagai kampiun Perang Dunia II. Mereka, seolah mendapat wewenang untuk menjadi pihak yang paling berhak menetapkan standar sekaligus mengampanyekan nilai-nilai demokrasi, termasuk di dalamnya ide tentang penerapan sekularisme di seluruh dunia.

Anak muda Muslim yang tercabut dari akar sejarah agamanya, terlebih yang hanya mengambil kesimpulan dari analisis singkat dan menjadikan fakta kemunduran umat Islam sumber hukum, terlena dan justru menjadikan ide yang disuarakan oleh Barat sebagai acuan. Logis memang, karena selain berhasil mengantarkan Barat untuk menjadi adidaya saat ini, sekularisme juga merupakan ideologi yang sangat mudah diterapkan. Tak perlu ikatan, tak perlu kekangan, tak perlu banyak aturan. Bahkan penjahat sekalipun mampu menerapkannya.

Meski demikian, sekularisme tetap saja menjadi alternatif yang masih diterapkan hingga hari ini. Padahal, tinjauan atas akar sejarah ide sekularisasi akan mengantarkan kita pada “ketakutan bangsa Eropa akan kepemimpinan yang semena-mena” sebagai sebab munculnya ideologi laknat ini. Mereka begitu trauma akan munculnya diktator berjubah agama yang selama ratusan tahun membawa Eropa ke dalam zaman kegelapan.

Mereka tetap saja menganut prinsip, bahwa pemimpin yang menggunakan agama dalam perangkat kepemimpinannya seringkali menjadi pemimpin yang bertindak “abuse of power”. Maka dari itu, mereka tidak menghendaki adanya pencampuran nilai-nilai agama dengan politik.

Sayangnya, hasil dari prinsip memisahkan agama dari kehidupan itu, ternyata menghasilkan berbagai kerusakan yang justru menunjukkan sebuah kepemimpinan (yang juga) semena-mena dan bahkan berhasil melampaui kekejaman-kekejaman di masa sebelumnya. Maka, jika sekularisme masih dipertahankan hari ini, tentu saja sangat tidak logis.

Jika bukan untuk Eropa, ketidaklogisan ini setidaknya berlaku untuk umat Islam. Karena sebesar apapun umat Islam berusaha menerapkan sekularisme dengan harapan dapat mengikuti kemajuan Barat, kaum muslimin tetap saja berada di bawah penjajahan mereka.

Padahal sepanjang sejarah peradaban Islam, umat Islam mengalami kemajuan ketika menggunakan Islam sebagai ideologi. Sekularisme, sejatinya merupakan barang baru yang tidak pernah dikenal sebelumnya.

Jika memang demikian, lantas mengapa sekularisme masih saja digunakan oleh umat Islam?[]

Referensi Bacaan:

Abdul Qadim Zallum. 2001. Pemikiran Politik Islam. Pustaka Al-Izzah: Bangil.

Marvin Perry. 2017. Peradaban Barat dari Zaman kuno Sampai Zaman Pencerahan (Cetakan ke-3). Kreasi Wacana: Yogyakarta.

Mona Hassan. 2017. Longing for the Lost Caliphate. Princeton University Press: Princeton.

Prof. Miriam Budiardjo. 2013. Dasar-Dasar Ilmu Politik (Cetakan ke-6). Gramedia Pustaka Utama: Jakarta.

Taqiyuddin An-Nabhani. 2015. Konsepsi Politik Hizbut Tahrir (Cetakan ke-4). HTI Press: Jakarta.

Taqiyuddin an-Nabhani. 2001. Peraturan Hidup Dalam Islam (Cetakan ke-6). HTI Press: Jakarta.

Share the idea

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *