Corona : Ketika Ilmuwan Islam Bertemu dengan Pengobatan Barat

Share the idea

Kumpulan tanya jawab dari kuliah whatsapp (KLI Online Event) bersama Apt. Khafidoh Kurniasih (Alumni FF Universitas Gadjah Mada, Staf Pengajar Diploma Farmasi, Pengelola Apotek, Aktivis Dakwah). Selasa, 17 Maret 2020.

Pertanyaan 1 : Dari sebuah video disebut bahwa masalah corona ini ada hubungannya dengan illuminati. Apakah itu benar?

Jawaban: Pertanyaan ini harus dituntaskan terlebih dahulu. Pertama, kita harus membuktikan apakah wabah ini nyata atau tidak,  apakah ini perkara ilmiah atau perkara ghaib. Percuma juga kita membahas panjang lebar tentang pencegahan dan/atau penanggulangan wabah ini kalau masih ada prasangka bahwa wabah ini tidak nyata.

Ada beberapa hal yang perlu garisbawahi dari pertanyaan ini. Pertama, sumber informasi dari jin. Layakkah ini dijadikan sumber informasi? Bisakah dipastikan bahwa itu benar jin yang ngomong? Atau jangan-jangan orang tersebut hanya mengaku-ngaku untuk membuat sensasi? Kalaupun benar jin, maka perkataan jin tidak layak dipercaya karena dia pendusta. Dalam kisah Abu Hurairah yang menangkap jin pencuri harta Baitul Mal, jin tersebut mengajarinya keutamaan Ayat Kursi, lalu Abu Hurairah melaporkannya kepada Rasulullah. Respon beliau:

أَمَا إِنَّه قَدْ صَدقكَ وَهُو كَذوبٌ

Adapun dia kala itu berkata benar, namun asalnya dia pendusta.” (HR. Bukhari No. 2311). Para ulama memaknai perkataan beliau tersebut dengan kurang lebih “biasanya /seringnya jin itu berdusta”

Mungkin masih timbul pertanyaan “Kan berarti kadang-kadang info dari jin bisa benar juga. Apakah mungkin info tentang COVID-19 ini adalah salah satu info yang benar?”. Informasi dari jin tersebut nyatanya berbeda dengan pernyataan ratusan bahkan ribuan peneliti yang karena saking banyaknya penelitian tersebut dari berbagai penjuru dunia, bisa kita simpulkan nyaris mustahil mereka sepakat dalam kebohongan atau kekeliruan. Lalu, pernyataan siapakah yang layak dipercaya? Sesosok jin atau ribuan kaum cendekiawan (yang diantaranya juga ada para cendekiawan Muslim)?

Pertanyaan 2 : (a) Bagaimana agar rasa takut kepada virus tidak melebihi rasa takut kita kepada Allah? (b) Apakah lockdown itu sesuai dengan syariat Allah? (c) Apakah kebijakan Amr bin Ash yang memerintahkan penduduk Syam yang terkena tha’un sama dengan lockdown total dan bisa kita ikuti? (d) Apakah kemudian jika tidak ada lagi sholat berjamaah ataupun majelis ilmu (dari mulai halaqah hingga tabligh akbar) kita menjadi berdosa? (e) Bagaimana memosisikan antara memaksimalkan tawakkal dan ikhtiar dalam menghadapi virus ini?

Jawaban: Bolehkah merasa takut? Takut adalah manusiawi, bagian dari gharizah baqa’. Wajar jika seseorang takut terhadap sesuatu yang dapat mengancam keselamatan dirinya seperti takut tertabrak mobil, takut tersengat listrik, takut terkena cipratan minyak goreng panas, dsb. Bukankah takut tertabrak mobil membuat kita berhati-hati di jalan raya dan tertib berlalu lintas? Bukankah ketika kita takut tersengat listrik, kita menghindarinya dengan mengenakan alas kaki, memastikan tangan kering atau bahkan menggunakan sarung tangan ketika menyentuh peralatan listrik? Bukankan takut terciprat minyak panas membuat kita belajar bagaimana cara menggoreng dengan aman?

Bahkan, keimanan yang benar tentang Qadha’ dan Qadar, pemahaman yang benar tentang ikhtiar dan tawakal akan mendorong seseorang untuk berusaha semaksimal mungkin menghindari hal-hal yang membahayakannya. Diriwayatkan oleh Tirmidzi bahwa ada seseorang bertanya kepada Rasulullah “Wahai Rasulullah, apakah saya ikat unta saya lalu bertawakal kepada Allah atau saya lepas saja sambal bertawakal keapda-Nya?” Rasulullah menjawab “Ikatlah untamu dan bertawakkallah!” (HR. Tirmidzi No. 2517)

Lalu upaya apa yang seharusnya kita lakukan? Islam memerintahkan kita untuk menyerahkan segala sesuatu kepada ahlinya, dalam hal ini utamanya adalah ahli kesehatan. Kita ikuti saja anjuran-anjuran para ahli di antaranya:

  1. Mengurangi perpindahan dan interaksi fisik antar manusia
  2. Rajin mencuci tangan dengan sabun
  3. Hindari menyentuh daerah sekitar wajah sebelum mencuci tangan
  4. Jauhi kerumunan
  5. Melakukan desinfeksi ruangan dan/atau benda-benda yang sering tersentuh tangan
  6. Terapkan etika batuk dan bersin
  7. Gunakan masker (3 ply yang bisa menahan droplet seperti surgical mask) jika merasa tidak ebak badan
  8. Jaga daya tahan tubuh dengan makan makanan bergizi seimbang, cukup istirahat, dan kelola stres
  9. dr. Tifa menyarankan yang sehat pun jika akan ke ruang publik untuk memakai kacamata, masker (boleh kain, biarkan surgical mask untuk yang sakit atau tenaga medis), dan sarung tangan. Bukan karena kacamata, masker kain, dan sarung tangan kain dapat menghalangi masuknya virus SARS CoV-2, tetapi sekadar untuk mencegah tangan kita menyentuh daerah wajah.

Memakmurkan masjid, berdakwah, dan menuntut ilmu memang adalah amal shalih, bahkan kewajiban. Akan tetapi, jangan lupakan bahwa menjauhkan bahaya dari diri dan masyarakat juga adalah perintah syari’at. Adakalanya memang upaya melakukan amal shalih dapat menimbulkan bahaya seperti saat ini. Dalam kondisi demikian, berlaku kaidah fiqh:

درء المفاسد أولى من جلب المصالح

“Mencegah mafsadat lebih utama dibandingkan dengan mengejar manfaat”

Kaidah tersebut muncul dari pemahaman atas Sabda Nabi:

مَانَهَيْتُكُمْ عَنْهُ فَاجْتَنِبُوْهُ وَمَاأَمَرْتُكُمْ بِهِ فَأْتُوْا مِنْهُ مَااسْتَطَعْتُمْ

“Apa-apa yang aku larang kepada kalian maka jauhilah, dan apa-apa yang aku perintahkan kepada kalian maka lakukanlah sesuai kemampuan kalian” (HR. Muslim).

Namun bukan berarti kita “memaafkan” diri untuk meninggalkan amal shalih tersebut sama sekali. Kita masih bisa mengupayakan terlaksananya amal shalih tersebut tanpa mendatangkan mafsadat, misalnya dengan melakukan shalat jamaah bersama keluarga di rumah, berdakwah melalui media sosial, menuntut ilmu melalui kelas-kelas daring (Online), dll. Pada titik inilah kreativitas kita dituntut (dalam hal-hal yang dibolehkan syariat tentunya).

Pertanyaan 3: Apakah kita perlu memahami konsep perkara ghaib bahwa ini ketetapan Allah yang di luar kuasa kita di samping mengetahui dan menyikapi virus ini secara ilmiah?

Jawaban: Kita harus meyakini bahwa segala sesuatu yang terjadi di dunia ini adalah atas izin Allah. Akan tetapi, kita juga harus ingat konsep qadha dan qadar. Ada ranah yang dapat dikuasai (dikendalikan) manusia, dan ada yang di luar kekuasaan (tak dapat dikendalikan) manusia.

Terkait penyakit (dan pengobatannya), adalah perkara yang masih berada dalam jangkauan akal. Dan bersamaan dengan nikmat akal yang kita terima, melekat pula tanggung jawab untuk mengamati/mempelajari fenomena-fenomena yang terjangkau akal. Termasuk masalah penyakit ini. Bagaimana karakteristiknya? Apa yang bisa kita intervensi dari karakteristik tersebut sehingga kita tidak terjangkit penyakit? Bagaimana tindakan yang harus dilakukan jika sudah terjangkit? Bagaimana upaya penyembuhannya? Jika kita tidak sanggup melakukannya sendiri, maka bertanyalah kepada mereka yang  ahli dan berilmu.

Pertanyaan 4: (a) Bagaimana kiat-kiat supaya orang yang masih bekerja ini bisa terhindar menjadi carrier virus dari luar ke anggota keluarga lain di rumah? (b) Apakah lockdown adalah solusi yang bisa menyelesaikan semua permasalahan secara tuntas?

Jawaban: Pertama, kita harus menyamakan definisi lockdown. Istilah lockdown diambil dari bahasa Inggris, artinya adalah terkunci. Jika dikaitkan dengan istilah teknis dalam kasus Corona atau COVID-19, makna lockdown adalah mengunci seluruh akses masuk maupun keluar dari suatu daerah maupun negara.

Tujuan mengunci suatu wilayah ini agar virus tidak menyebar lebih jauh lagi. Jika suatu daerah dikunci atau di-lockdown, maka semua fasilitas publik harus ditutup. Mulai dari sekolah, transportasi umum, tempat umum, perkantoran, bahkan pabrik harus ditutup dan tidak diperkenankan beraktivitas. Aktivitas warganya pun dibatasi. Bahkan ada yang melarang warganya keluar rumah kecuali untuk ke fasilitas kesehatan. Dari definisi ini, maka jelas yang dapat mengambil keputusan lockdown atau tidak adalah penguasa dengan keputusan politiknya.

Selain lockdown, ada pula usulan untuk melakukan social distancing. Menurut Center for Disease Control (CDC), Social distancing adalah menjauhi segala bentuk perkumpulan, menjaga jarak dengan manusia, dan menghindari berbagai pertemuan yang melibatkan banyak orang. Tujuannya untuk mengurangi penularan virus dari orang ke orang. Setiap individu dapat mengambil inisiatif untuk melakukannya, tidak memerlukan keputusan politik.

Baik lockdown maupun social distancing sama-sama bertujuan untuk mengendalikan dan menghentikan penyebaran wabah. Konsepnya juga sama, menjauhkan sumber penyakit dari manusia. Mana yang sebaiknya dipilih, lockdown atau social distancing? Tergantung oleh dua faktor, yaitu tingkat penyebaran wabah dan kesadaran masyarakat. Jika penyebarannya masih relatif sedikit dan kesadaran masyarakatnya tinggi, maka cukup dengan social distancing, tidak perlu dengan pemaksaan seperti pada lockdown. Tetapi jika berkaca pada masyarakat Indonesia yang kesadarannya masih sangat rendah, rasanya sulit diharapkan social distancing akan berhasil.

Namun, lockdown juga bukan tanpa tantangan. Terutama tantangan ekonomi. Para pekerja harian, pedagang kecil, dll bagaimana mereka akan memenuhi kebutuhan hidupnya sehari-hari? Seharusnya, kebutuhan pokok mereka memang ditanggung oleh negara. Tetapi masalahnya adalah, apakah negara sanggup? Belum lagi problem ketergantungan kita pada impor, termasuk impor produk pangan dan obat-obatan. Masalah lain dari lockdown adalah rawan menimbulkan stres dan panic buying yang mengakibatkan kelangkaan barang, terutama pangan, alat kesehatan, suplemen, bahkan obat. Butuh kekuatan penegak hukum yang besar. Lagi-lagi, kita dihadapkan pada problem: apakah jumlah aparatnya mencukupi? Apakah dananya ada?

Penulis pribadi berharap agar jangan sampai harus diambil keputusan lockdown karena itu artinya wabah gagal dikendalikan dengan social distancing. Namun melihat perkembangan saat ini, ketika otoritas menghimbau untuk melakukan social distancing, bahkan “dibantu” dengan meliburkan sekolah dan menutup sejumlah tempat wisata, masyarakat justru menggunakannya sebagai kesempatan berlibur, pulang kampung, jalan-jalan, dan membuat kerumunan (yang jelas bertolak-belakang dengan tujuan otoritas). Maka, cukup wajar jika ada pihak yang pesimis bahwa sekadar social distancing akan berhasil.

Rasanya tipikal masyarakat Indonesia memang perlu dipaksa. Sulit jika hanya mengandalkan kesadaran. Kesadaran hanya muncul dari pemahaman. Sayangnya pemahaman tersebut belum terbentuk. Dan rasanya sudah terlambat untuk membentuk pemahaman tersebut jika tujuannya untuk mengatasi wabah yang saat ini sedang berlangsung. Tapi, bukan berarti edukasi membangun pemahaman dan kesadaran tersebut tidak perlu. Tetap perlu untuk mengantisipasi hal-hal demikian di masa mendatang.

Dalam masa social distancing ini, bagi yang masih tetap harus beraktivitas, maka lengkapi dengan APD (Alat Perlindungan Diri) yang memadai dan senantiasa menjaga kebersihan diri. Untuk saat ini, solusi terbaik memang social distancing, yang jika gagal, maka lock down. Yang paling “mengerikan” dari SARS CoV-2 ini adalah karena penularannya yang begitu mudah dan tersebar cepat, yang dampak buruknya dapat mengancam nyawa orang-orang di sekitar kita.

PERTANYAAN 5 : Bagaimana kebijakan di dalam Islam ketika mengambil tindakan lockdown dari sisi ekonomi? Karena bagi kalangan menengah kebawah jelas menimbulkan masalah perekonomian, tanpa adanya dukungan dari negara secara menyeluruh.

Jawaban: Islam mewajibkan negara untuk melindungi rakyatnya, termasuk melindungi dari wabah penyakit. Jika memang harus ditempuh lock down, maka tempuhlah. Kepentingan ekonomi tidak boleh menjadi penghalang upaya penyelamatan nyawa masyarakat. Bahkan, nyawa seorang muslim itu lebih berharga dari dunia.

Metode lock down sebetulnya adalah metode klasik yang pernah dilaksanakan Umar bin Khaththab atas usul Amr bin Ash saat terjadi wabah. Dalam masa lock down tersebut, warga harus tetap terjamin kebutuhan sehari-harinya. Jangan sampai dilakukan lock down untuk menghindari wabah penyakit, namun justru terjadi penyakit lainnya akibat kebutuhannya yang tidak terpenuhi (seperti: pangan, sandang, hunian) atau karena stres (ingat, stres adalah salah satu faktor penurun daya tahan tubuh).

Terkait dampak ekonomi secara makro, lock down memang sangat riskan jika dilakukan oleh negara yang tidak mandiri dalam memenuhi kebutuhan dalam negerinya. Inilah yang tidak terjadi dalam negara Islam. Sejak awal berdirinya, negara Islam memang membentuk dirinya sebagai negara mandiri sehingga guncangan ekonomi bisa dengan mudah diatasi. Ada kaitannya pula dengan ekonomi anti riba dan anti-kapitalisme, tetapi penulis tidak berkompeten untuk menjelaskannya. Silakan ditanyakan kepada para ahli ekonomi.

PERTANYAAN 6: Apakah obat Ibuprofen justru bisa memperkuat dan memperbanyak jumlah virus COVID-19 dalam tubuh pasien? Benar atau hoaks?

Jawaban: Kisah tersebarnya info tersebut adalah sebagai berikut :

“The voice of the woman, introducing herself as “Elisabeth … you know, Poldi’s mom,” sounded genuinely concerned.

A friend of hers, who was a doctor at the university hospital of Vienna, had called her with a warning, she said in German. The clinic had noticed that most patients with severe symptoms of COVID-19, the disease caused by the coronavirus pandemic, had taken the painkiller ibuprofen before they were hospitalized. Tests run by the university’s laboratory, she added, had found “strong evidence that ibuprofen accelerates the multiplication of the virus.”

With lightning speed, an audio recording of the message spread among German-language users of WhatsApp, the messenger service owned by Facebook. Quickly, similar recordings referring to alleged research from Vienna in other languages like Slovak also began circulating on the service.”

Lalu, muncullah bantahannya:

“Nonsense,” said Johannes Angerer, a spokesperson for the Medical University of Vienna. “We neither discussed this internally, nor do we conduct any research into the potential effects of ibuprofen on COVID-19.”

(Sumber:https://www.politico.com/news/2020/03/16/coronavirus-fake-news-pandemic-133447 )

Situs resmi Medical University of Vienna:

https://www.meduniwien.ac.at/web/en/press-meduni-vienna/

Ibuprofen tidak bisa mengobati COVID-19. Fungsinya hanya sebatas pereda nyeri dan penurun panas. Penggunaan ibuprofen, parasetamol, atau penurun panas lainnya untuk saat ini harus lebih hati-hati karena bisa menyamarkan salah satu tanda/gejala infeksi SARS CoV-2 sehingga bisa menurunkan kewaspadaan (seperti: lolos dari thermo scanner/alat pengukur suhu). Walhasil, orang-orang yang tak memiliki gejala ini “diloloskan” untuk berinteraksi secara bebas dengan orang lain, hingga justru menjadi sumber pernularan.

Kemudian, ada juga kecurigaan terkait dengan kematian pasien COVID-19 yang biasanya terjadi pada pasien yang juga mengidap Diabetes Mellitus (DM) dan hipertensi. SARS CoV-2 menempel di sel inang melalui ACE-2, sedangkan pasien DM mengalami peningkatan ekspresi ACE-2 akibat mengonsumsi obat yang bersifat ACE inhibitor dan ARBs. Demikian pula dengan pasien hipertensi. Nah, ibuprofen ini juga bersifat meningkatkan ekspresi ACE-2, sehingga dicurigai akan mempermudah proses menempelnya SARS CoV-2 ke dia (bukan memperbanyak). Namun, hal ini masih dugaan.

PERTANYAAN 7 : Apakah jenazah yang positif COVID-19 masih bisa menyebarkan virus tersebut? Apakah semua virus (terutama COVID-19) prosedur penanganan nya sama? Jika COVID-19 memiliki gejala penyakit saluran pernapasan (seperti flu), apakah hanya dengan istirahat di rumah bisa sembuh?

Jawaban: Jenazah pasien positif COVID-19 besar kemungkinan dapat menyebarkan virusnya karena sebelum dia meninggal, tubuhnya berpotensi menyisakan droplet yang menjadi sarana penyebaran virus ini.             Tidak semua virus penanganannya sama. HIV kan juga virus. Yang sesama Corona pun, penanganannya berbeda (Ingat, Corona adalah nama famili). Sampai saat ini, di antara sesama famili Corona, yang paling mengerikan memang SARS CoV-2 karena penularannya mudah sekali.      Sebetulnya, jika daya tahan tubuh kita bagus, gejala klinisnya cukup ringan. Namun, yang menjadikannya lebih berbahaya adalah jika virus tersebut menyerang orang dengan daya tahan tubuh lemah, seperti anak-anak atau lansia.

Sebenarnya, virus dengan jenis famili Corona ada berapa banyak?

Kalau diingat kembali, dulu ada wabah SARS dan MERS, yang juga tergolong dalam famili Corona. Bahkan virus wabah COVID-19 bernama resmi SARS CoV-2, karena sangat mirip dengan virus penyebab SARS (sehingga disebut sebagai virus SARS jilid 2: SARS CoV-2. Nama penyakitnya pun disebut COVID-19 (karena pertama muncul tahun 2019)

Lantas, bagaimana cara terbaik dalam pengurusan jenazahnya?

Dimandikan oleh tenaga medis yang paham fiqh. Di Rumah Sakit, fasilitas ini biasanya disediakan. Kenapa harus tenaga medis? Karena mereka yang paham proses penanganannya secara aman.

Berarti memang ada tenaga medis yang disiapkan dengan belajar fiqh ya?

Setahu penulis memang ada, atau Rumah Sakit akan merekrut ustadz yang paham fiqh untuk mengurusi jenazah. Praktiknya dapat dilakukan dengan 2 opsi, yaitu proses memandikan dilakukan oleh Ustadz dibawah pengawasan tenaga medis; atau tenaga medis di bawah pengawasan ustadz. Wallahu a’lam. []

Share the idea

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *