Lir Ilir, Cublak-Cublak Suweng, dan Tombo Ati: Ketika Sastra Menjadi Ujung Tombak Dakwah Islam

Share the idea

Selama penjejakannya ke Nusantara, Islam meninggalkan jejak sastranya dalam banyak karya. Di pulau Sumatra yang merupakan wilayah Nusantara yang paling dekat dengan pusat peradaban Islam, jejak awal Islam terdapat di Barus, Tapanuli Tengah, Sumatra Utara. Di pelabuhan tua penghasil utama kapur barus (yang disebut dalam Al-Qur’an dan menjadi satu-satunya kata serapan bahasa Melayu dalam kitab suci), Islam menjejak sejak abad pertama hijrah. Ajaran Islam termanifestasi dalam banyak bentuk ragam mantra pengobatan di kalangan tabib di Barus. Dari Barus pula muncul nama Syaikh Hamzah Al-Fansuri, salah satu ulama yang berpengaruh di Kesultanan Aceh.

Syaikh Hamzah Al-Fansuri menyampaikan ajaran tasawwuf dalam bentuk syair berbahasa Melayu, seperti Syair Perahu dan Syair Si Burung Pingai. Karya-karya ini mempengaruhi sastra Melayu dan sastra Indonesia modern hari ini. Nama yang setara dengan Hamzah Fansuri adalah ulama sekaligus bangsawan Kesultanan Lingga Riau, Raja Ali Haji. Raja Ali Haji menggubah Gurindam 12 yang berisi ajaran tentang akhlak-adab dan dianggap sebagai peletak dasar tata bahasa Melayu yang menjadi akar bahasa Indonesia. Hingga hari ini Raja Ali Haji serta tempat beliau besar dan berkarya di Pulau Penyengat Riau dianggap sebagai pusat perbendaharaan awal budaya Melayu.

Sastra Islam di Sumatera tidak hanya berisi ajaran tasawwuf dan adab, di akhir abad ke-20 tersebutlah nama Tengku Cik Pantee Kulu, seorang ulama dari Kesultanan Aceh Darussalam. Buah karyanya yang berjudul Hikayat Prang Sabi, sebuah kompilasi puisi yang berisi tentang seruan dan keutamaan jihad fi sabilillah. Hikayat Prang Sabi dianggap sebagai pengobar perlawanan besar rakyat Aceh terhadap balatentara Belanda. Sastrawan Taufik Ismail menyebut Tengku Cik Pantee Kulu dan Hikayat Prang Sabi sebagai sastrawan dan puisi terakbar di Nusantara.

Adapun di Jawa, tempat Islamisasi besar-besaran Nusantara dipraktikkan, Islam menjadi budaya utama Jawa dan melahirkan karya sastra baik dalam bentuk puisi, prosa, dan drama. Para orientalis selama ini menganggap bahwa Islam hanyalah kulit ari kebudayaan Jawa. Jawa lebih banyak dipengaruhi mistisisme Hindu-Budha. Anggapan ini tertolak oleh penelitian Nancy Florida. Doktor dari Cornell University Amerika Serikat ini dalam penelitiannya yang meneliti 500 naskah sastra di Keraton Surakarta, menemukan hanya 17 naskah yang secara “eksplisit” mengandung unsur Hinduisme, selebihnya bernuansa Islam.

Puisi Islam di Jawa tercatat meliputi berbagai jenis, mulai babad, suluk dan serat seperti Suluk Wujil dan Serat Wirid Hidayat Jati yang memiliki kedalaman makna. Hingga Lir Ilir dan Cublak-cublak Suweng yang menemani permainan anak-anak dan Tombo Ati yang menjadi pengantar sholat berjamaah di masjid-masjid dan mushola di Jawa. Sedangkan dalam dunia prosa, terjadi Arab-Turkisasi pada karya-karya prosa Jawa dan menggantikan Indianisasi yang sebelumnya meliputi dunia sastra Jawa.

Lakon Aji Saka yang dianggap sebagai peletak peradaban Jawa, dikisahkan merupakan utusan Sultan Alghabah dari Ngrum. Juga kisah Syeh Subakir yang berdialog dengan Semar dan bersahabat dengan Prabu Smaratungga dari Mataram Kuno. Termasuk cerita Syeh Ali Syamsu Zein dari Ngrum yang menjadi guru bagi Prabu Jayabaya. Perubahan pusat orientasi pada sastra ini ditengarai karena pengaruh ajaran Islam yang mendalam pada seluruh lapisan masyarakat Jawa.

Pengaruh Islam juga muncul di dalam dunia drama Jawa. Drama itu adalah Wayang. Wayang diadopsi oleh Sunan Kalijaga dan dijadikan sebagai uslub dakwah. Wayang digubah konsep bentuk dan pagelarannya mencontoh pertunjukan boneka yang akrab di pusat peradaban Islam di era Abbasiyyah-Utsmaniyyah. Selain mengubah unsur luarnya, Sunan Kalijaga juga mengubah lakon wayang dengan menciptakan carangan atau kisah-kisah baru di luar lakon Ramayana-Mahabharata. Jadilah wayang menjadi uslub dakwah sekaligus menjadi pendidikan tak resmi di luar pesantren bagi masyarakat Jawa. []

Sumber :

Irfan Afifi. 2019. Saya, Jawa, dan Islam. Penerbit Pocer dan Tanda Baca: Yogyakarta.

Kuntowijoyo. 2001. Muslim Tanpa Masjid: Esai-Esai Agama, Budaya, dan Politik dalam Bingkai Strukturalisme Transendental. Mizan: Bandung. 

MC. Ricklefs. 2013. Mengislamkan Jawa: Sejarah Islamisasi di Jawa dan Penentangnya dari 1930 sampai Sekarang. Penerbit Serambi: Jakarta.

Taufik Ismail. 1998. Malu Aku Jadi Orang Indonesia. Yayasan Ananda: Jakarta.

Widji Saksono. 1996. Mengislamkan Tanah Jawa: Telaah atas Metode Dakwah Walisongo. Mizan: Bandung.

Share the idea

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *