Ketika Gerakan Pemuda Anshar Menjadi Penolong Agama Allah

Share the idea

Apakah engkau pernah mengalami hari yang lebih berat bagimu daripada saat Perang Uhud?”

Itulah pertanyaan yang dilontarkan Aisyah kepada Rasulullah, kala Islam telah memperoleh kemenangan dan kekuatan atas seluruh jazirah Arab.

Kembali mengingat memori masa lalu, sebuah kenangan yang menyesakkan dada. Bayangkan, betapa berat dan menyakitkannya peristiwa Uhud. Rasulullah menyaksikan dengan mata kepalanya sendiri, bagaimana sahabat-sahabatnya syahid, bagaimana pasukannya tergoda harta dunia, dan bagaimana kacau balaunya kondisi kaum muslimin, hingga mengalami kekalahan dan menjadi bahan tertawaan musuh-musuh Islam.

Dan ternyata, ada peristiwa yang lebih berat dari itu. Apakah jawaban Rasul?

“Aku benar-benar telah menuai dari kaumku apa yang pernah aku petik, dan itu merupakan sesuatu yang paling keras, yang pernah kupetik… Saat aku menawarkan diriku kepada Ibn ‘Abd Yalil bin ‘Abd Kulal, yang merupakan pemuka Tha’if, namun dia tidak mengabulkan apa yang aku harapkan. Lalu aku pun pergi dengan kegundahan tergurat di wajahku, dan belum reda kegundahanku kecuali setelah aku berada di Qarn Ats-Tsa’alib.”

Bayangkan, betapa beratnya fase hijrah ini hingga Rasulullah yang senantiasa tegar mengalami kegundahan yang teramat sangat.Kejadian ini ternyata hanyalah langkah awal dimulainya fase baru dakwah Islam. Di kemudian hari, penduduk Tha’if bukanlah satu-satunya yang menolak dakwah Rasulullah. Cacian, hinaan, fitnah, dan teror dari kabilah-kabilah Arab menjadi cobaan yang terus-menerus dihadapinya. Betapa lapangnya hati Rasulullah, hingga Allah munculkan para pemuda Anshar yang siap memberikan pertolongan.

Ada satu pertanyaan menarik. Mengapa justru kalangan pemuda Aus dan Khazraj yang menjadi pemberi nushrah, bukan yang lain?

Di antara suku Aus dan Khazraj ternyata terjadi perang saudara lintas generasi yang telah berlangsung 120 tahun lamanya, dan puncaknya terjadi pada Perang Bu’ats. Lantas, mengapa perang ini bertahan selama ratusan tahun tanpa penyelesaian?

Menurut Dr. Muhammad Khair Haekal, dalam bukunya yang berjudul, “Jihad dan Perang Menurut Syariat Islam”, hal ini disebabkan adanya golongan yang senantiasa memprovokasi dan meniupkan api permusuhan hingga menimbulkan dendam yang berkepanjangan. Senantiasa ada sesepuh yang termasuk kalangan terpandang dari kedua belah pihak yang memiliki kepentingan untuk melanjutkan permusuhan yang berlarut-larut.

Maka, apa yang sesungguhnya diajarkan oleh para sesepuh pada generasi mudanya hingga mereka “terhipnotis” untuk melanjutkan peperangan, bahkan tanpa alasan yang rasional?

Perang adalah bentuk kesepakatan nenek moyang kah?

Perang adalah keputusan para “founding fathers” kah?

Perang harga mati kah?

Celakanya, kepercayaan mereka atas ucapan sesepuhnya seolah menjadi perkara mutlak yang tak boleh dipertentangkan dan diperdebatkan. Bak jatuh di lubang yang sama, mereka justru tidak menyadari bahwa langkahnya semakin mendekatkan mereka dengan jurang kehancuran.

Beruntungnya, perkara ini tidak terjadi selamanya. Generasi berganti generasi. Kalangan yang memiliki kepentingan ini satu per satu mulai mati. Hingga pada satu masa, Allah berkehendak melahirkan generasi baru yang lelah berseteru dan benar-benar melupakan api peperangan.

Perang Bu’ats yang terjadi 5 tahun sebelum hijrahnya Nabi ini betul-betul membuat kedua belak pihak saling hancur menghancurkan, hingga eksistensi mereka terancam musnah. Di sisi lain, kalangan Yahudi selaku “penguasa Yastrib” senantiasa mengancam untuk memusnahkan Aus dan Khazraj bersamaan dengan datangnya Nabi akhir zaman yang ditunggu-tunggu oleh mereka. Dengan sombongnya kalangan Yahudi berkata, “Sesungguhnya zaman kedatangan Nabi yang diutus telah dekat masanya. Kita akan mengikutinya dan dengannya kami akan membunuh kalian seperti pembunuhan terhadap orang-orang Ad dan Iram.

Keinginan untuk memiliki sebuah masyarakat yang hidup rukun dan sosok pemimpin yang mampu mewujudkan perdamaian, menggugah kesadaran para pemuda Khazraj untuk mencari jalan keluar, hingga Allah pertemukan mereka dengan Rasulullah. Hal ini seperti apa yang mereka ungkapkan pasca pertemuannya dengan Nabi Muhammad di ‘Aqabah,

“Sesungguhnya kami meninggalkan sebuah kaum dan tidak ada kaum yang terlibat permusuhan dan kejahatan sedahsyat mereka. Kami berharap Allah mempersatukan hati mereka melalui engkau. Kami akan pulang dan akan menyeru mereka kepada perkara yang telah engkau berikan kepada kami, dan kami akan kabarkan kepadamu siapa saja kelak yang berhasil kami ajak untuk memeluk agama ini. Jika Allah mempersatukan hati mereka melalui dirimu, maka sesungguhnya tidak ada lagi yang lebih mulia selain engkau.”

Pertemuan mereka dengan Rasulullah layaknya menemukan oase di tengah hamparan padang pasir. Mereka pun sangat berharap bahwa kelak Islam dapat menjadi sebab untuk meredakan peperangan. Perasaan yang sama juga dialami Rasulullah yang kala itu sedang berjuang mencari pemberi nushrah yang dapat melindungi keberlangsungan dakwah Islam dan pengembannya, sehingga dakwah dapat tersebar dengan mudah di tengah-tengah masyarakat dalam suasana terlindungi, aman, dan tenang. Perlindungan inilah yang dapat membentuk basis massa yang meyakini ajaran Islam, sehingga kelak negara yang berdasarkan asas dakwah Islam dapat berdiri dengan tegak.

Hal ini seperti yang dikemukakan oleh ‘Aisyah, “Peristiwa Bu’ats itu merupakan momentum yang diberikan oleh Allah kepada Rasul-Nya. Rasulullah datang ketika komunitas mereka tercerai-berai, para pemuka kaum mereka terbunuh dan terluka. Maka, Allah memberikan momentum tersebut kepada Rasul-Nya dengan masuk Islamnya mereka.”

Demikianlah, sangat tidak disangka-sangka bahwa sekumpulan pemuda dari sebuah wilayah yang dilanda perang saudara justru menjadi penolong agama Allah. Ketika perjuangan seolah menemui jalan buntu, generasi tersebut berhasil membuka jalan bagi penyebaran Islam di Yastrib, yang kelak menjadi pusat aktivitas politik umat Islam.

Jika hari ini umat Islam berpecah-belah dalam berbagai negara bangsa, maka yakinlah, akan tiba masanya kaum muslimin bersatu kembali dalam satu kepemimpinan. Jika hari ini kita berselisih karena masalah rasial, maka ingatlah bahwa hanya dengan sentuhan Islam permusuhuan Aus dan Khazraj berhasil dihentikan.

Generasi berganti generasi. Kelak, Allah akan munculkan generasi yang dapat menyatukan kaum muslimin. Bisa jadi peristiwa menakjubkan itu terjadi pada generasi kita, atau generasi anak kita, atau generasi cucu kita, atau bahkan generasi cicit kita. Layaknya umat Islam yang berjuang hingga 825 tahun untuk menaklukkan Konstantinopel, bisyarah tersebut terus menerus diwariskan dari generasi ke generasi, hingga Allah munculkan generasi Muhammad Al-Fatih sebagai pemimpin dan pasukan terbaik. 

Dan hari ini, tentu kita sangat berharap agar istiqomah berada dalam barisan pemuda-pemuda yang menolong agama Allah.  []

Sumber :

Ahmad Hatta, dkk. 2016. The Great Story of Muhammad saw. Maghfirah Pustaka: Jakarta.

Dr. Muhammad Khair Haekal. 2003. Jihad dan Perang Menurut Syariat Islam: Buku Kedua. Pustaka Thariqul Izzah: Bogor.

Dr. Shalih Ibrahim. 2008. Muhammad SAW; Mengapa Begitu Agung?. Nakhlah Pustaka: Jakarta.

Firas Alkhateeb. 2016. Lost Islamic History. Penerbit Zahira. Jakarta.

Prof. Dr. Muhammad Sameh Said. 2002. Muhammad Sang Yatim. Cordoba Internasional Indonesia: Bandung.

Syafiurrahman Al-Mubarakfuri. 2009. Sirah Nabawiyah. Pustaka Al-Kautsar: Jakarta.

Share the idea

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *