Mengapa Sastra Sangat Populer di Kalangan Masyarakat Arab?

Share the idea

Gersang dan panas barangkali menjadi dua kata yang pantas menggambarkan suasana jazirah Arab. Kondisi ini ‘memaksa’ masyarakat Arab hidup secara nomaden. Pada musim panas, mereka tinggal selama beberapa bulan di sekitar oasis dan sumur-sumur. Jika musim panas berakhir, mereka pindah ke bagian Selatan (dekat Yaman), tempat yang lebih sering turun hujan dan tersedia lahan subur sebagai sumber kehidupan bagi ternak, tumbuhan, dan manusia.

Dengan kondisi yang serba sulit, kerjasama masyarakat merupakan sebuah keharusan. Maka, hubungan antar kerabat menjadi sebuah identitas vital. Beberapa keluarga kemudian membentuk qabilah. Dari beberapa qabilah, mereka membentuk sebuah suku. Kepala suku mereka dipanggil dengan sebutan Syaikh.

Solidaritas antar suku menjadi prioritas utama, sehingga setiap individu akan merasa terlindungi, mendapat dukungan, dan kemudahan akses dalam memenuhi kebutuhan ekonomi. Demi melindungi anggota suku, mereka rela memperebutkan lahan sebagai sumber-sumber ekonomi. Dalam tingkat yang lebih ekstrim, tak jarang terjadi perang antar suku. Jika perselisihan terus berlanjut, maka perang antar suku dapat terjadi hingga bertahun-tahun.

Dalam masyarakat nomaden kesukuan yang seperti itu, mereka hampir tidak memiliki sumberdaya dan waktu untuk menciptakan berbagai karya seni. Patung-patung yang ada dibuat dengan tujuan berbeda dan dengan keindahan yang tak dapat dibandingkan dengan karya seni Yunani dan Mesir. Sebagai gantinya, mereka mengungkapkan seni dalam bentuk yang berbeda: bahasa.

Karenanya, tumbuh dan berkembanglah berbagai syair dengan bahasa-bahasa yang indah. Penyair-penyair terbaik diperlakukan layaknya selebriti. Kata-kata indah para pujangga tak dapat dipisahkan dari rutinitas keseharian. Duel di antara para sastrawan adalah kebiasaan. Bak menemukan piringan hitam, syair-syair nan indah tersebut dihafal dan didengungkan berulang-ulang sehingga dapat diwariskan dari generasi ke generasi. Tak heran, mereka mampu menghafal syair berjumlah ribuan baris di luar kepala.

Maka ketika ayat-ayat suci Al-Qur’an turun dengan berbagai nuansa keindahannya, masyarakat Arab langsung dibuat speechless dan meleleh hingga mengakui bahwa ayat-ayat tersebut tak dapat disamakan dengan satu pun syair yang pernah diciptakan manusia. Ia sungguh-sungguh firman Tuhan!

Walid bin Mughirah sebagai salah satu sastrawan terbaik bangsa Arab pun memberi pengakuan, “Sungguh kami telah mengenal seluruh syair, yang ringkas maupun yang panjang. Namun, dia (Al-Qur’an) bukanlah syair. Sungguh, kami telah menyaksikan tukang-tukang sihir dengan sihir mereka, namun dia (Al-Qur’an) bukanlah hembusan-hembusan dan buhul-buhul tali yang mereka gunakan untuk menyihir. Demi Allah, ucapannya sungguh manis, akarnya benar-benar subur dan cabangnya benar-benar berbuah”.

Tak ayal, tokoh-tokoh besar Quraisy – mulai dari Abu Jahal, Abu Sufyan, serta Umar bin Khattab seringkali diam-diam mencuri dengar lantunan ayat suci Al-Qur’an demi memuaskan hasrat terpendam mereka. Barangkali satu riwayat yang tidak populer adalah kisah yang didasarkan pada pengakuan langsung Umar bin Khattab sebelum memutuskan masuk Islam, ketika diam-diam mendengar Rasulullah sedang membaca surat Al-Haqqah. Di dalam keheningan, Umar terpaku penuh simak, berdecak kagum, dan menyangka bahwa ayat-ayat itu hanyalah ucapan penyair seperti yang dituduhkan orang-orang Quraisy.

Namun, ternyata sangkaan Umar langsung terbantahkan pada ayat selanjutnya, yaitu QS Al-Haqqah ayat 40-41,

“Bahwa ini sungguh perkataan Rasul yang mulia. Itu bukanlah perkataan seorang penyair; sedikit sekali kamu percaya!”

Umar pun terhentak. Pikirannya langsung melayang. Jika ia bukan perkataan penyair, pasti Muhammad adalah seorang tukang ramal!

Dan sangkaan ini langsung terbantahkan kembali oleh ayat-ayat selanjutnya, Al-Haqqah 42-47,

“Juga bukan perkataan seorang peramal; sedikit sekali kamu mau menerima peringatan. (Ini adalah wahyu) yang diturunkan dari Tuhan semesta alam. Dan kalau dia mengada-adakan perkataan atas nama Kami, pasti Kami tangkap dia dengan tangan kanan, kemudian pasti Kami potong pembuluh jantungnya. Maka, tak seorang pun dari kamu dapat mempertahankannya.”

Tunduknya tokoh-tokoh Quraisy dan para ahli sastra tersebut menunjukkan sebuah fenomena luar biasa. Al-Qur’an memiliki bentuknya sendiri yang unik dan belum pernah diketahui oleh orang Arab sebelumnya. Syekh Taqiyuddin An-Nabhani mengungkapkan, bahwa segi-segi kemukjizatan Al-Qur’an tiada lain terdapat dalam uslubnya, yaitu caranya dalam mengungkapkan makna-makna dengan ungkapan-ungkapan bahasa.

Bahkan Allah pun menantang seluruh manusia dan jin untuk membuat yang serupa dengan Al-Qur’an (QS Al-Isra 88). Tantangan ini kemudian Allah turunkan levelnya, dengan hanya ditantang membuat sepuluh surat (QS Huud 13). Terakhir, Allah turunkan lagi dengan hanya ditantang membuat satu surat (QS Yunus 38 dan QS Al-Baqarah 23). Hal inilah yang kemudian membuat Musailamah Al-Kazzab sang Nabi palsu menjadi bahan tertawaan masyarakat Arab kala berusaha meniru Al-Qur’an.

Demikianlah, keindahan lantunan ayat-ayat suci Al-Qur’an berperan sangat penting dalam perkembangan Islam. Di masa-masa selanjutnya, menyatunya sastra Arab dengan ajaran Islam menghasilkan kombinasi sempurna antara karya, cinta, dan takwa. Sebuah era ketika seni menghasilkan pesan-pesan untuk semakin mendekatkan diri pada Yang Maha Kuasa. Wallahu a’lam. []

Sumber :

Firas Alkhateeb. 2016. Lost Islamic History. Penerbit Zahira: Jakarta.

Muhammad Husain Haekal. 2011. Umar bin Khattab. Litera AntarNusa: Bogor.

Muhammad Rahmat Kurnia, dkk. 2002. Prinsip-Prinsip Pemahaman Al-Qur’an dan Al-Hadits. Khairul Bayan: Jakarta.

Share the idea

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *