Siapa yang Paling Berhak Untuk Berdakwah?

Share the idea

Di antara tanda-tanda bahwa kita sudah mencintai saudara kita sebagaimana kita mencintai diri sendiri, ialah ketika kita mengetahui suatu hal yang begitu menggugah jiwa dan akal kita, kemudian begitu ingin untuk menyampaikan hal tersebut kepada orang lain, dan berharap agar orang tersebut juga tergugah dengan apa-apa yang menggugah kita.

Al-Qur’an merekam contoh sikap tersebut dalam surat Yasin, melalui sepenggal kisah yang benar-benar terjadi dalam sejarah dunia. “wadhrib lahum matsalan ashabal qaryah..” “dan buatlah suatu perumpamaan bagi mereka, yaitu penduduk suatu negeri..

Inilah sebuah kisah yang terjadi di sebuah kota orang-orang Romawi, Antioch, yang sekarang terletak di Turki sebelah Selatan dekat dengan perbatasan Suriah. “..idz jaa `ahal mursalun.” “ketika para utusan datang kepada mereka.” 

Menurut Ibnu Katsir, para utusan ini ialah murid-murid nabi Isa ’alaihissalaam.

Reruntuhan Antioch

Mereka datang berdua dan menyampaikan dakwah tauhid kepada penduduk Antioch, namun penduduknya menolak dakwah mereka. Akhirnya, dikuatkanlah dakwah para utusan itu dengan satu utusan lagi, menjadi tiga orang.

Mereka terus berdakwah, sampai akhirnya penduduk kota tersebut merasa muak dan jengkel hingga mengatakan, inna tathayyarna bikum!” “sesungguhnya kami bernasib sial gara-gara kalian!” dan akhirnya mengancam para da’i tersebut, lain lam tantahu lanarjumannakum wa layamassannakum minna adzabun alim!” “Sungguh, jika kamu tidak berhenti (mendakwahi kami), niscaya kami rajam kamu dan kamu pasti akan merasakan siksaan yang pedih dari kami!”

Di saat-saat seperti itulah, “wa jaa`a min aqshal madinati rajuluy yas’a qala, ya qaumi, ittabi’ul mursalin!” “dan datanglah dari ujung kota, seorang laki-laki dengan bergegas dia berkata, ‘wahai kaumku! Ikutilah para da’i tersebut!’”

Reruntuhan Amphitheatre di Antioch

Ia adalah seorang laki-laki dari ujung kota, daerah pinggiran, terpencil, sebuah kampung antah berantah. Ia datang ketika para penduduk yang terdiri dari masyarakat Romawi sedang berkumpul di amphi-theatre, sebuah teater terbuka, tempat berkumpulnya masyarakat Romawi dari seluruh golongan. Mulai dari Patrichia (golongan bangsawan), Plebeia (masyarakat kelas dua), serta golongan non-kasta yang terdiri dari budak dan tawanan.

Laki-laki itu, tak disebut namanya di dalam Al-Qur’an, seolah menunjukkan bahwa mereka yang tak bernama pun bisa mengguncang dunia. Walau kita tahu dalam kitab-kitab tafsir, namanya ialah Habib an-Najjar, dan pekerjaannya hanyalah seorang tukang kayu.

Meski hanya seorang tukang kayu, Habib tetap bersemangat mengajak kaumnya dengan dakwah yang sederhana tapi mengena, “ittabi’u man la yas’alukum ajran, wa hum muhtadun.” “ikutilah mereka yang tidak meminta bayaran (atas apa yang mereka sampaikan) kepadamu, dan mereka adalah orang-orang yang mendapat petunjuk.” 

Betapa sederhana seruannya, hanya mengajak untuk ikut pengajian!

Beliau seolah memberi alasan kenapa harus mengikuti mereka, walaupun saya hanya seorang tukang kayu, tapi saya tahu, bahwa mereka adalah orang-orang yang ikhlas!”

Bahwa dakwah itu, bukan berarti kita harus meraih gelar ustadz dan kyai dulu, baru kita bisa berdakwah. Dakwah itu sederhana, mungkin hanya sekedar whatsapp seorang teman untuk shalat Jum’at atau ikut pengajian, maka itu adalah dakwah! Potensi apapun yang kita miliki, maka itu bisa menjadi dakwah kita, walaupun kita bukan orator handal.

Lalu, Habib an-Najjar memberi sebuah alasan logis kepada kaumnya, wa ma liya la a’budul ladzi fatharani wa ilaihi turja’un.” “Tidak ada alasan bagiku untuk tidak menyembah Dzat yang menciptakan aku, Dan kepada Tuhan yang hakikilah kalian akan kembali, wahai kaumku!

Kemudian beliau melanjutkan, a’attakhidzu min dunihi alihatan, in yuridnir Rahmanu bidhurrin la tughni anni syafa’atuhum syai’an wa la yunqidzun..!” 

Mengapa aku harus menyembah tuhan-tuhan selain Allah, yakni patung-patung yang di-display di sepanjang amphi-theatre tersebut?

Mereka hanyalah batu yang diberi nama Jupiter, Neptunus, dan nama dewa-dewa lainnya. Jika Allah yang Maha Rahman menghendaki bencana kepadaku, maka patung-patung tersebut tidak akan bisa menolong dan menyelamatkanku! inni idzal lafi dhalalim mubin..” sungguh, jika aku berbuat demikian, aku benar-benar berada dalam kesesatan yang nyata!

Setelah penyampaian Habib an-Najjar, gemparlah orang-orang yang berada di amphi-theater tersebut. Lebih-lebih golongan Plebeia, masyarakat kelas dua, yang selama ini merasa tertindas akibat totalitarian kaum Patrichia yang menggunakan dalih paganisme untuk menindas masyarakat golongan rendah.

Kaum Plebeia, membenarkan perkataan Habib an-Najjar. Lain halnya dengan golongan Patrichia, yang takut akan terjadi gejolak sosial dan politik. Karena itu, mereka menyuruh keroco-keroco mereka, para tukang pukul, untuk menghabisi Habib an-Najjar. Sang tukang kayu ini pun dihajar habis-habisan, diinjak-injak, hingga dirajam.

Ketika maut hampir menjemput, datanglah para da’i tadi, para utusan yang dididik langsung oleh Nabiyullah Isa ’alaihissalam, menakjubi pengorbanan dakwahnya.

Mereka pun berkata kepada Habib yang sekarat, Engkau lebih mulia daripada kami!” Dengan segenap kekuatan yang tersisa, an-Najjar tersenyum dan berkata, “inni amantu bi rabbikum fasma’un…!”  ”sesungguhnya aku beriman kepada Tuhan kalian, maka jadilah saksiku…!” setelah itu, wafatlah Habib an-Najjar, syahid saat berdakwah, berpulang ke haribaan Tuhannya.

Setelah ruhnya terbang ke langit, dikatakan kepada Habib, “qila-adkhulil jannah!” “Masuklah ke dalam Surga!” Cukuplah kenikmatan Surga untuk menghilangkan ingatan seseorang tentang kesengsaraan tatkala berada di dunia.

Namun lain halnya dengan Habib an-Najjar yang mengatakan, ya laita qaumi ya’lamun.. bi ma ghafarali rabbi wa ja’alani minal mukramin” “aduhai, andaikan kaumku tahu.. apa yang menyebabkan Tuhanku memberi ampun kepadaku dan menjadikan aku termasuk orang-orang yang dimuliakan.”

Aduhai, betapa pedulinya Habib an-Najjar kepada kaumnya, walau mereka mendustakannya. Betapa tukang kayu ini ingin kaumnya turut serta merasakan kenikmatan yang ia rasakan.

Betapa agungnya teladan yang diberikan lelaki dari pinggiran kota ini kepada kita. Walaupun ia asing di tengah-tengah kaumnya, kisahnya menjadi salah satu kisah yang dicantumkan Allah Subhanahu wa Ta’ala di dalam Kitab-Nya yang mulia, Al-Qur’anul Karim. Betapa mulianya ia, yang telah mencontohkan secara nyata hadits Rasulullah Shallallahu Alaihi wa Sallamla yu’minu ahadukum, hatta yuhibbu li akhihi ma yuhibbu li nafsi! Betapa Habib mencintai saudara-saudaranya, sebagaimana ia mencintai dirinya sendiri!

Maka, sikap dan mental inilah yang dibutuhkan oleh kaum Muslim saat ini. Sikap peduli kepada sesama dengan bentuk dakwah, dan mental baja untuk menyampaikan kebenaran walaupun itu pahit.

Syekh Nashiruddin al-Albani berkata dengan perkataan yang sangat dalam maknanya, Jalan dakwah ini sangatlah panjang, namun kita tidak diwajibkan untuk sampai di ujungnya. Kita hanya diwajibkan untuk mati di atasnya.”

Mati di atas jalan dakwah, sungguh adalah kematian yang amat indah. Dan kematian yang indah tersebut siapapun bisa merasakannya, walaupun ia bukan ulama atau ustadz.

Sebagaimana Habib an-Najjar, ia telah mencapai kematian yang indah karena dakwahnya, walau ia  hanya seorang tukang kayu. Bahkan, kita selaku umat Nabi Muhammad telah dimuliakan dengan memakai selendang dakwah”, sebuah selendang yang dahulu hanya dipakai oleh para Rasul.

Lihatlah, di umatnya Nabi Nuh, siapa yang berdakwah? Hanya Nabi Nuh sendirian. Nabi Hud? Nabi Hud sendirian. Nabi Shalih, Ibrahim, Ishaq, Yaqub, Musa, Harun, begitu seterusnya, mereka hanya para Nabi dan Rasul yang diberi tugas dakwah.

Dan jika ada yang mengambil tugas itu sementara ia bukan Nabi dan Rasul sebagaimana Habib an-Najjar yang kita sebutkan di atas, dan ia dimuliakan sedemikian rupa oleh Allah, maka bagaimana dengan umat Nabi Muhammad yang dibebankan kepada masing-masing pengikutnya kewajiban berdakwah, yang mana dakwah itu adalah tugas para Nabi dan Rasul? Sungguh teramat sangat mulialah orang-orang yang mengambil jalan tersebut.

Balighu anni walau ayah. Semoga kita dimuliakan oleh Allah walau sekedar menyampaikan satu ayat.[]

Sumber:

H. Salim Bahreisy dan H. Said Bahreisy. 1990. Terjemah Singkat Tafsir Ibnu Katsir Jilid 6. PT Bina Ilmu: Surabaya.

Salim A. Fillah dan Felix Y. Siauw, 2016. Bersamamu, Di Jalan Dakwah Berliku. Pro-U Media: Yogyakarta.

Share the idea

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *