Membedah Pemikiran Lenin Terkait Sosialisme dan Agama

Share the idea

Meski ada tokoh-tokoh komunis yang diidentikkan kepada Islam seperti Haji Misbach, namun bagaimana memahami pandangan komunisme atas agama?

Cara termudahnya adalah mendalami pemikiran Karl Marx terkait materialisme historis dan dialektis, serta penafsiran atas pemikiran itu dalam diri tokoh-tokoh besarnya. Lenin, adalah salah satunya.

Pendalaman atas pemikiran-pemikiran tersebut, justru semakin menunjukkan sikap anti-Tuhan dari ideologi yang mereka usung. Adapun pemikiran Lenin terkait agama, dituangkan dalam tulisannya yang berjudul, “Sosialisme dan Agama”. Menurutnya,

“Masyarakat yang ada saat ini sepenuhnya didasarkan atas eksploitasi yang dilakukan oleh sebuah minoritas kecil penduduk, yaitu kelas tuan tanah dan kaum kapitalis, terhadap masyarakat luas yang terdiri atas kelas pekerja.

Ini adalah sebuah masyarakat perbudakan, karena para pekerja yang ‘bebas’, yang sepanjang hidupnya bekerja untuk kaum kapitalis, hanya ‘diberi hak’ sebatas sarana minimalnya. Hal ini dilakukan oleh kaum kapitalis untuk menjamin keamanan dan keberlangsungan perbudakan kapitalis.”

Lenin kemudian menjelaskan alasan mengapa agama menjadi beban hidup sekaligus hambatan utama revolusi.

“Tanpa dapat dielakkan, penindasan ekonomi terhadap para pekerja membangkitkan dan mendorong setiap bentuk penindasan politik dan penistaan terhadap masyarakat, menggelapkan dan mempersuram kehidupan spiritual dan moral massa.

Para pekerja bisa mengamankan lebih banyak atau lebih sedikit kemerdekaan politik untuk memperjuangkan emansipasi ekonomi mereka, namun tak secuil pun kemerdekaan yang akan bisa membebaskan mereka dari kemiskinan, pengangguran, dan penindasan sampai kekuasaan dari kapital ditumbangkan. Agama merupakan salah satu bentuk penindasan spiritual yang dimanapun ia berada, teramat membebani masyarakat, teramat membebani dengan kebiasaan mengabdi kepada orang lain, dengan keinginan dan isolasi.

Impotensi kelas tertindas melawan eksploitatornya membangkitkan keyakinan kepada Tuhan, jin-jin, keajaiban serta yang sejenisnya, sebagaimana ia dengan tak dapat disangkal membangkitkan kepercayaan atas adanya kehidupan yang lebih baik setelah kematian.”

Jika Karl Marx menyampaikan bahwa agama adalan candu masyarakat, yakni dalam kalimatnya “It is the opium of the people”, maka Lenin menambah daya letupnya melalui anggapan bahwa agama adalah minuman keras spiritual dan tak ragu menyebut para pengikut agama sebagai orang yang “menjual diri mereka sendiri dengaan tiket murah untuk menuju surga.”

“Mereka yang hidup dan bekerja keras dalam keinginan, seluruh hidup mereka diajari oleh agama untuk menjadi patuh dan sopan ketika di sini di atas bumi dan menikmati harapan akan ganjaran-ganjaran surgawi. Tapi bagi mereka yang mengabdikan dirinya pada orang lain diajarkan oleh agama untuk mempraktikkan karitas selama ada di dunia, sehingga menawarkan jalan yang mudah bagi mereka untuk membenarkan seluruh keberadaannya sebagai penghisap dan menjual diri mereka sendiri dengaan tiket murah untuk menuju surga.

Agama merupakan candu bagi masyarakat. Agama merupakan suatu minuman keras spiritual,

di mana budak-budak kapital menenggelamkan bayangan manusianya dan tuntutan mereka untuk hidup yang sedikit banyak berguna untuk manusia.”

Lenin memang tak ragu menunjukkan kebenciannya atas omong kosong Surga-Neraka yang tak bisa dilihat itu.

Agama dianggap telah “menina bobokan para pekerja”, karena membungkam sikap kritis untuk mengendalikan perubahan sosial menuju keadilan. Akibatnya, masyarakat mabuk dalam ilusi mengenai kehidupan akhirat dan lupa mengurusi kenyataan sosial yang buruk dan tidak adil.

Sekularisme yang memisahkan agama dari negara pun tak luput digunakannya. Menurutnya,

“Sudah seharusnya agama tidak menjadi perhatian negara, dan masyarakat religius seharusnya tidak berhubungan dengan otoritas pemerintahan.

Setiap orang sudah seharusnyabebas mutlak menentukan agama apa yang dianutnya, atau bahkan tanpa agama sekalipun, yaitu, menjadi seorang ateis, di mana bagi kaum sosialis adalah sebagai sebuah kewajiban.”

Seolah memahami bahwa hal ini menjadi pertanyaan yang paling sering diajukan, Lenin melanjutkan tulisannya dengan,

“Jika memang demikian, mengapa kita tidak menyatakan dalam program kita bahwa kita adalah ateis? Mengapa kita tidak melarang orang-orang Kristen dan para penganut agama Tuhan lainnya untuk bergabung dalam partai kita?”

Sebagai pengikut sosialisme ilmiah ala Marx, bagi Lenin, “dakwah” pemikiran adalah hal terpenting. Hal itulah yang menjadi prioritasnya, bahwa “Program kita keseluruhannya berdasar pada cara pandang yang ilmiah, dan lebih jauh materialistik.”

Oleh karenanya, “Sebuah penjelasan mengenai program kita secara amat perlu haruslah memasukkan sebuah penjelasan tentang akar-akar historis dan ekonomis yang sesungguhnya dari kabut agama. Propaganda kita perlu memasukkan propaganda tentang ateisme.”

Caranya? Tentu saja sebagaimana saran junjungannya, Friedrich Engels, yakni “menerjemahkan dan menyebarkan literatur intelektual Pencerahan Prancis abad ke-18 dan kaum ateis.”

Meski demikian, Lenin tetap mengingatkan, bahwa masalah agama tak boleh menjadi “masalah ‘intelektual’ yang tak berhubungan dengan perjuangan kelas”.

Bagaimanapun, prioritas komunisme tak boleh bergeser. Selain karena agama yang kelak akan “segera disapu bersih sebagai sampah oleh perkembangan ekonomi”, seruan terhadap agama menurutnya adalah hal percuma, karena

“Tak satupun dari pamflet khotbah, berapapun jumlahnya, dapat memberi pencerahan pada kaum proletariat, jika ia tidak dicerahkan dengan perjuangannya sendiri melawan kekuatan gelap dari kapitalisme.

Persatuan dalam perjuangan revolusioner yang sesungguhnya dari kelas kaum tertindas untuk menciptakan sebuah sorgaloka di bumi, lebih penting bagi kita ketimbang kesatuan opini proletariat di taman firdaus surga.”

Itulah kenapa, meski komunisme secara filsafat menyerukan pemikiran yang anti Tuhan dan agama, namun ia lebih menonjol dalam mengurus masalah politik dan ekonomi.

Namun, pemikiran-pemikiran mereka terkait materialisme historis maupun materialisme dialektis, tentu tak boleh dilupakan. Karena, dua unsur itu adalah “dua kalimat syahadat” agar seseorang menjadi pejuang komunis yang “kaaffah”.[]

Sumber: https://www.marxists.org/indonesia/archive/lenin/1905/SosialismeDanAgama.htm

Share the idea

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *