Benturan Pemikiran Kaum Kiri Terhadap Khilafah

Share the idea

Tahun 1924, sesungguhnya tak hanya menjadi tahun duka bagi umat Islam di seluruh penjuru dunia. Nun jauh di Rusia sana, sang Presiden pertama Uni Soviet, Vladimir Ilyich Ulyanov “Lenin”, akhirnya mati juga.

Layaknya Fir’aun, jasadnya diawetkan. Langkah politiknya menjadi legenda, bahkan teladan bagi para penganut cita-cita gerakan kiri.

Berbagai langkah revolusioner yang dicetuskan Lenin, tentu menarik untuk dikaji. Terlebih lagi, ternyata Komunis Internasional (Komintern) memiliki interaksi dengan Khilafah dan Islam di masanya.

Pada kongres Komintern II yang dihelat pada 1920, dalam manifestonya yang bertajuk Theses on the National and Colonial Question, Lenin menegaskan,

“Adalah wajib untuk menghabisi Pan-Islamisme dan tren-tren lain yang sejenis, yang berupaya untuk memadukan perjuangan pembebasan melawan imperialisme Eropa dan Amerika dengan penguatan posisi para khan, para tuan tanah, para mullah, dan lain-lain.”

Pidato Lenin, yang sekaligus menjadi revisi atas sikap Komintern terhadap gerakan Pan-Islamisme, cukup membuat bingung PKI di Hindia-Belanda.

Dalam kongres Komintern IV yang diselenggarakan di Petrograd dan Moskow pada 12 November 1922, Tan Malaka bahkan bersikap sangat reaktif dan berpidato dengan menyindir sikap Lenin,

“Perjuangan melawan Pan-Islamisme! Apa kata mereka (Sarekat Islam) kepada para petani jelata? Mereka bilang: ‘Lihatlah, komunis tidak hanya menginginkan perpecahan, mereka ingin menghancurkan agamamu!’ Itu terlalu berlebihan bagi seorang petani Muslim. Sang petani berpikir: ‘Aku telah kehilangan segalanya di dunia ini, haruskah aku kehilangan surgaku juga? Tidak akan!’ Ini adalah cara seorang Muslim jelata berpikir. Para propagandis dari agen-agen pemerintah telah berhasil mengeksploitasi ini dengan sangat baik. Jadilah kita (PKI dan Sarekat Islam) pecah.”

Kisah konfrontasi pemikiran kaum kiri dengan para ideolog Islam tentu tak berakhir sampai di situ. Menurut Tan Malaka, eksistensi Khilafah sesungguhnya hanya terjadi sampai 400 tahun pasca wafatnya Nabi. Setelah itu, kesatuan Khilafah terpecah menjadi tiga kekuasaan dinasti muslim yang masing-masing mengklaim pihaknya sebagai pemilik kekuasaan tertinggi umat Islam. Mereka adalah ‘Abbasiyyah, Fathimiyyah, dan Umayyah.

Tan Malaka (ketiga dari kiri) berpose bersama para kameradnya dalam kongres Komintern ke-4 tahun 1922. Sumber gambar: https://historia.id/politik/articles/ketika-paman-ho-dan-tan-malaka-bertemu-Dwj5x

Penolakan Tan Malaka atas eksistensi Khilafah ‘Utsmaniyyah, serta pemikiran-pemikiran yang sejenis, terbantahkan oleh argumentasi Syekh Taqiyuddin an-Nabhani.

Dalam catatan kaki ke-754 dari buku “Khilafah dan Ketakutan Penjajah Belanda”, Nicko Pandawa membandingkan berbagai pemikiran para tokoh bangsa terkait dengan Khilafah,

Konfrontasi pemikiran antara para tokoh-tokoh komunis dengan tokoh-tokoh Islam, juga disajikan dalam buku “Khilafah dan Ketakutan Penjajah Belanda”, hasil penelitian penulis yang dibukukan. Terdapat 891 catatan kaki yang melengkapi hasil penelitiannya.

Untuk pemesanan, cek di linktr.ee/kli.books

Tersedia link pemesanan melalui google form, tokopedia, dan shopee (dapatkan kesempatan potongan harga dan gratis ongkir)
Share the idea

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *