Layakkah Komunisme Digunakan Sebagai Aturan Hidup Manusia?

Share the idea

“Bagaimana mungkin cita-cita Marx dan Lenin yang ingin membebaskan umat manusia dari ketertindasan, penghinaan, eksploitasi, dan keterasingan dapat melahirkan suatu sistem penindasan tanpa tara, dengan puluhan juta orang terbunuh dan tersiksa serta terhancurkan dalam gulag-gulag?”

Franz Magnis Suseno dalam buku “Dari Mao ke Marcuse”, mengutip pertanyaan Charles Taylor dalam bukunya “A Secular Age”

Minggu, 22 Januari 1905. Dipimpin oleh seorang pendeta, masa pekerja melakukan marching ke Istana raja untuk menghantarkan petisi kepada Tsar. Petisi dan aksi damai yang dijawab oleh Tsar dengan hujan timah panas ini menyebabkan tak kurang dari 1000 rakyat menjadi martir. Momen itu kemudian dikenang sebagai Minggu Berdarah. Sebagai pembuka jalan menuju Revolusi Bolshevik, Revolusi pada 1905 nyatanya gagal menggulingkan Kekaisaran Tsar.

Pasca insiden, terjadi gelombang besar pemogokan, protes dan pemberontakan. Tsar pun melunak, dan didirikanlah sebuah dewan, atau dalam bahasa Rusia disebut dengan “soviet”.

Lebih dari 10 tahun kemudian, pada Maret 1917,  akhirnya revolusi kedua ini sukses menggulingkan monarki Tsar. Peristiwa ini dipicu aksi ribuan buruh perempuan yang berlanjut dengan gelombang aksi yang lebih besar. Monarki Tsar yang terlihat kokoh dan tak dapat tumbang, akhirnya runtuh juga.

Revolusi Februari, 1917

Meski demikian, kekuasaan belum bisa direbut sepenuhnya. Kaum borjuasi liberal masih mengontrol dengan membentuk pemerintahan baru, yakni Pemerintahan Provisional. Di sisi lain, dewan (soviet) kemudian dipimpin oleh kaum Menshevik (sosialis-moderat) yang juga lebih dekat dengan Pemerintahan Provisional. Maka terbentuklah pemerintahan ganda, yakni Pemerintah Provisional dan Soviet (dewan).

Namun, pemerintahan pengganti itu berjalan tak sesuai harapan. Kaum bolshevik yang berhaluan lebih radikal bersama dengan buruh, para petani, dan kelasi-kelasi angkatan laut akhirnya berhasil menjungkal kepemimpinan para tuan tanah dan kaum kapitalis yang penuh penindasan melalui Revolusi ketiga, yaitu Revolusi Bolshevik. Kekuasaan di Petrograd (ibukota Kekaisaran Rusia, kini berubah menjadi Sankt-Petersburg) pun berhasil diambil alih.

Lenin memimpin masyarakat Rusia menuju Revolusi Bolshevik Uni Soviet

Apa yang terjadi dalam tiga rentetan revolusi ini, adalah buah kekecewaan yang terus menerus menumpuk dari akumulasi ratusan tahun kepemimpinan Tsar yang penuh ketidakadilan, penindasan, ketimpangan, serta kekacauan. Keinginan masyarakat untuk melakukan sebuah perubahan besar pun tak dapat dibendung.

Gerakan perubahan dilakukan secara terstruktur, sistematis, dan masif di bawah kendali partai komunis Bolshevik dengan Lenin dan Trotsky sebagai motor penggeraknya. Seluruh massa yang tertindas bersatu mewujudkan tujuan bersama: menghilangkan monarki Tsar yang diktator.

Hasilnya, terbentuklah kesadaran umum di tengah-tengah masyarakat bahwa sudah saatnya negara berubah. Pembicaraan politik pun terjadi di mana-mana, bahkan kaum proletar sebagai kalangan kelas bawah tak segan mengungkapkan gagasannya. Publik menginginkan terciptanya sistem politik yang lebih demokratis serta masyarakat sosialis tanpa kelas yang terbebas dari penindasan.

Lenin dan Trotsky dalam satu frame

Revolusi Bolshevik pun melegenda. Menelurkan sebuah bentuk negara komunis pertama, Uni Soviet. Sebuah titik tolak yang begitu diagung-agungkan dan ditahbiskan sebagai contoh terbaik hasil kerja kaum kiri. Jika Karl Marx adalah penggagas utama komunisme, maka Lenin adalah orang pertama yang menerapkannya dalam sistem bernegara.

Namun, itu semua menjadi kelam dalam perjalanan realitasnya. Pada pemilihan umum untuk Konstituante (hanya 17 hari setelah Revolusi Bolshevik), Partai Bolshevik gawangan Lenin mengalami kekalahan besar dari Partai Sosialis-Revolusioner. Namun Lenin tak peduli. Pada hari pertama Konstituante itu bersidang, ia membubarkannya dengan bantuan satu kompi penembak jitu dari Latvia. Dua puluh orang mati pada kesempatan itu.

Dalam situasi “komunisme perang”, pemerintah memaksa para petani menyerahkan hasil panennya demi memenuhi kebutuhan logistik pertempuran. Petani bereaksi dengan melakukan mogok bertani dan menyembelih ternak mereka. Terjadilah perang saudara Rusia sebagai bencana. Sepanjang 1917-1922, diperkirakan ada lima juta orang mati karenanya.

Stalin, yang menjadi pimpinan tertinggi Uni Soviet pasca meninggalnya Lenin, justru menunjukkan kepemimpinan yang semakin beringas. Sekurang-kurangnya, 20 juta warga Uni Soviet mati sia-sia di masa pemerintahan terornya.

Di bawah tangan besi dan dengan cetak biru Marxisme-Leninisme, mereka tak peduli dengan jumlah korban. Bahwa dalam waktu tiga tahun, lima juta orang mati kelaparan akibat kebijakan ekonomi komunis. Segala perlawanan ditumpas tanpa ragu. Mereka menembak mati puluhan ribu sandera dan tahanan hingga membunuh ratusan ribu petani yang melawan pengambilalihan hasil panen secara paksa. 

Pada akhirnya, Uni Soviet berubah menjadi kapitalis birokrat.

Stalin, Lenin, dan Trotsky

Penghilangan kelas masyarakat yang diagung-agungkan komunisme, nyatanya hanya menjadi ilusi. ‘Kulak’ merebak di ranah pertanian dan justru semakin menyengsarakan para petani. Stabilitas ekonomi mulai terlihat kebobrokannya, rubel (mata uang Uni Soviet kala itu) mengalami inflasi parah, serta beragam kemunduran yang menurut Trotsky (salah seorang pemimpin Revolusi Bolshevik) justru mendekatkan praktek kenegaraan Soviet kepada bentuk kapitalistik.

Model terbaik komunisme ini hancur dalam usia yang bahkan tak mampu mencapai seratus tahun. Berbagai tesis Marx pun terbantahkan seiring perkembangan zaman.

Sejatinya, inilah gambaran tidak berdayanya manusia untuk menjadikan aturan (An Nidzhom) lahir semata dari akal terbatas manusia. Terlebih, setiap manusia memiliki latar belakang dan kecenderungan yang berbeda, sehingga memungkinkan terjadi perbedaan, perselisihan, dan akhirnya menjatuhkan manusia ke dalam kubangan kebinasaan.

Memang sudah seharusnya, aturan hidup yang mengatur manusia, hanya lahir dari sesuatu yang derajatnya lebih tinggi dari manusia, yang tentu saja di luar dimensi seorang makhluk. Ialah Allah, Al-khalik yang seharusnya kita taati. Karena sungguh, hanya Sang Pencipta lah yang benar-benar mengerti manusia. Bukan manusia itu sendiri.

Dengan berbagai fakta akan kehancuran dan kebinasaan manusia berulang kali terjadi, lantas mengapa kita masih ingin bereksperimen dan mencoba-coba membuat aturan sendiri? Mengapa kita justru ingin mengulang kehancuran dari generasi ke generasi? Bukankah Allah telah memberi aturan yang sangat jelas demi kebaikan manusia?

Maka benarlah firman Allah,

أَفَحُكْمَ الْجَاهِلِيَّةِ يَبْغُونَ وَمَنْ أَحْسَنُ مِنَ اللَّهِ حُكْمًا لِقَوْمٍ يُوقِنُونَ

“Apakah hukum Jahiliyah yang mereka kehendaki, dan (hukum) siapakah yang lebih baik daripada (hukum) Allah bagi orang-orang yang yakin?” (Al Maidah: 50).[]

Sumber dan Rekomendasi Bacaan:

Andi Rafael Saputra. 2014. Dari Uni Soviet Hingga Rusia. Palapa: Yogyakarta.

Franz Magnis Suseno. 2016. Dalam Bayang-Bayang Lenin: Enam Pemikiran Marxisme dari Vladimir Lenin Sampai Tan Malaka. Gramedia Pustaka Utama: Jakarta.

Franz Magnis Suseno. 2013. Dari Mao ke Marcuse: Percikan Filsafat Marxis Pasca Lenin. Gramedia Pustaka Utama: Jakarta.

Leon Trotsky. 1936. The Revolution Betrayed.

Simon Sebag Montefiore. 2012. Stalin Muda. Alvabet: Tangerang Selatan.

https://www.militanindonesia.org/teori-4/sejarah/revolusi-oktober/8634-mengenal-revolusi-rusia-1917.html

https://www.marxists.org/indonesia/archive/trotsky/1924-PelajaranRevolusiOktober.htm

Share the idea

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *