Mungkinkah Corona Menjadi Senjata Biologis?

Share the idea

“Sains tidak mengenal ikhtilaf. Hal itu hanya ada pada perkara fiqh, sedangkan kebenaran saintifik hanya ada satu. Yang ada dalam dunia sains adalah kemungkinan yang belum dipahami sepenuhnya” (Dwijayanto, 2019).

Mengapa Wabah Penyakit COVID-19 Yang Disebabkan Oleh Virus SARS-CoV-2 ini Menjadi Sangat Heboh? Mungkinkah Virus Ini Adalah Senjata Biologis Yang Disebabkan oleh Konspirasi Sekulerisme dan Kapitalisme?

Setidaknya terdapat 3 alasan yang menyebabkan wabah COVID-19 ini menjadi sangat heboh, yaitu

  1. Meski Corona adalah famili yang sama dengan MERS dan SARS yang telah ada lebih dulu, namun SARS-CoV-2 merupakan virus jenis baru yang sebelumnya tidak teridentifikasi, sehingga masih terus diteliti terkait penyebab, gejala spesifik, serta vaksinnya
  2. Virus ini menyebar di era pesatnya perkembangan teknologi yang memberi kemudahan dalam mengakses berbagai informasi, dan
  3. Secara statistik, COVID-19 memiliki tingkat penyebaran yang lebih tinggi dan lebih masif dibanding SARS dan MERS. 

Meski memiliki tingkat penyebaran tertinggi, uniknya COVID-19 justru memiliki tingkat kematian terendah dibanding SARS (10%) dan MERS (34%). Per 9 maret 2020 (00:55 GMT), tercatat ada 109.970 kasus di lebih dari 100 negara, dengan rasio kematian total sebesar 3% dan angka kesembuhan lebih dari 90%. Artinya, meski terinveksi, potensi sembuh justru sangat tinggi.

Ternyata, virus SARS-CoV-2 ini mayoritas menyebabkan kematian pada pasien dengan sistem imun yang sudah lemah, seperti para lansia, pasien berusia 50 tahun ke atas, serta pasien dengan riwayat penyakit berat yang melemahkan kekebalan tubuhnya. Sebaliknya, untuk pasien usia 50 tahun ke bawah ternyata angka rasio kematiannya kurang dari 0.5%. Dengan tingkat kematian yang rendah serta membutuhkan tingkat ketahanan tubuh yang juga rendah, lantas bagaimana mungkin mengklaim bahwa COVID-19 adalah senjata biologis?

Di sisi lain, mekanisme “lock and key” yang terjadi antara virus sebagai “key” dan manusia sebagai inang/reseptor (lock), justru menegasikan kemungkinan bahwa COVID-19 adalah senjata biologis. Virus hanya akan menjadi “senjata makan tuan” bagi manusia, karena penyebarannya tak dapat dikendalikan.

Meski disinyalir bahwa vaksinnya telah ditemukan, namun penting digarisbawahi bahwa proses pembuatan vaksin “tidak semudah membuat kacang goreng”. Untuk membuktikan bahwa vaksin itu efektif, dibutuhkan dana, waktu, dan subjek uji manusia yang tidak sedikit. Sederhananya, bukti efektivitas vaksin didapatkan berdasarkan ilmu statistik, yang semakin tinggi variabilitias dan kuantitas subjek ujinya, maka akan lebih menunjukkan/mendekati gambaran aslinya. Jadi mustahil bila proses ini dikerjakan secara sembunyi-sembunyi.

Meski Tiongkok, Iran, bahkan Israel berlomba untuk membuat vaksinnya, hal ini tak dapat menjadi bukti bahwa COVID-19 adalah senjata biologis, apalagi dihubungkan dengan teori konspirasi. Usaha pembuatan vaksin ini wajar dan umum dilakukan oleh semua negara, sebagai pencegahan atas meluasnya wabah.

Meski akan diperoleh sejumlah keuntungan setelah menemukan dan mengomersialisasikannya, namun sekali lagi, bahwa belum ditemukannya vaksin tersebut serta angka kematian yang tidak sebesar famili Corona yang lain adalah bukti bahwa COVID-19 bukanlah senjata biologis. Maka, menghubung-hubungkan bahwa COVID-19 adalah masalah ideologi sebagai buah dari sekulerisme dan kapitalisme yang menghalalkan segala cara, adalah sebuah cocoklogi yang sangat mengada-ada.

Apa Yang Perlu Diperbaiki dari Sikap Pemerintah Indonesia dalam Menghadapi Peristiwa Ini?

Berdasarkan data yang telah disebutkan, kita memang harus waspada namun tak perlu panik berlebihan. Yang menjadi masalah hingga hari ini adalah gagapnya komunikasi dan kurang terbukanya informasi penanganan kasus COVID-19 di Indonesia. Ketidakjelasan berita ini dimulai dari kesimpangsiuran informasi oleh pemerintah (sebagai pemilik otoritas) yang seharusnya menggandeng para ahli kesehatan untuk memberi edukasi secara terpusat.

Amerika Serikat bahkan secara khusus memiliki CDC (Centers for Disease Control and Prevention), sedangkan Indonesia tidak berusaha membuat lembaga dengan kemampuan sejenis. Berbagai hasil penelitian serta informasi akurat yang terpusat ini bahkan dapat diakses secara umum, sehingga masyarakat tak perlu kesulitan mencari informasi kredibel yang layak dipercaya.

Sikap Indonesia yang tidak membiasakan untuk bersikap terbuka dalam pengolahan data dan membiarkan penyebaran informasi terjadi secara liar menyebabkan momen ini dimanfaatkan sebagai sebuah komoditas oleh media dengan keakuratan informasi layaknya sebuah “akun gosip”.

Ketika terdapat rakyat Indonesia yang positif terkena COVID-19, media justru melacak di mana tempat tinggal pasien serta berbagai hal pribadi yang tidak penting dan tidak berhubungan langsung dengan kasus. Berbagai tekanan dan kehebohan berlebihan yang diciptakan media ini walhasil menjadikan setiap pihak yang terkena penyakit ini sebagai “tersangka yang wajib dibasmi dan dimusuhi”, sedangkan yang sehat justru menjadi panik dan takut berlebihan.

Kekonyolan komunikasi yang membuat kepanikan massal ini semakin diperparah dengan wacana penggelontoran 72 milyar untuk membayar influencer. Padahal, uang sebanyak ini bisa dimanfaatkan dalam hal yang lebih efektif, seperti membuat pusat penelitian dan penyebaran informasi kredibel, pembelian alat pendeteksi, serta melakukan berbagai upaya pencegahan dan penyembuhan virus. 

Sikap ini seolah menunjukkan bahwa pemilik otoritas hanya mempedulikan investasi dan devisa yang berdampak langsung pada pertumbuhan ekonomi, namun ceroboh dalam mitigasi yang menyangkut nyawa penduduk negerinya. Di sisi lain, paradoks juga terjadi ketika pemerintah menawarkan bantuan kepada Tiongkok untuk menangani wabah ini, namun hal serupa justru tidak dilakukan dalam kasus Uyghur maupun muslim India.

Kacaunya mitigasi komunikasi pemerintah jelas membuat peneliti Harvard curiga dan memberi kritik. Akumulasi dari sikap “serba santuy” ini walhasil menyebabkan instruksi pemerintah untuk meminta masyarakat tetap tenang tidak diindahkan, dan justru melecut kepanikan nasional yang menyebabkan harga masker, jahe, dan hand sanitizer melonjak. []

Share the idea

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *