One Piece Review: Bagaimana Sebuah Peradaban Itu Bangkit dan Runtuh?

Share the idea

1. Mengikuti Sepak Terjang Adidaya adalah Dasar untuk Memahami Situasi Internasional

Di sepanjang sejarah umat manusia, senantiasa ada pihak yang dipandang sebagai adidaya. Di dunia One Piece, kita kemudian dikenalkan dengan Yonkou, yakni empat bajak laut adidaya yang menjadi penentu atas berbagai situasi politik internasional. Dengan besarnya pengaruh dan kekuatan militer mereka, para Yonkou adalah pihak yang paling mampu mengarahkan situasi politik internasional menurut kepentingannya.

Itulah sebabnya, pemahaman terhadap pergerakan mereka (seperti pembentukan aliansi maupun perjanjian, perselisihan antar mereka sebagai adidaya, upaya untuk mengontrol kekuatan lain yang lebih lemah, rangkaian aksi politik tersirat, dan kebijakan-kebijakan lainnya) merupakan dasar untuk memahami situasi internasional.

Hal ini juga sering dilakukan oleh kaum muslimin demi kepentingan dakwah Islam. Ketika terjadi bentrok antara Romawi dan Persia, peristiwa itu segera menjadi headline news hingga umat Islam pun ikut menganalisis, siapa yang akan menjadi pemenangnya. Peristiwa ini, kemudian diabadikan dalam QS Ar-Rum.

Surat-surat dakwah yang disampaikan para duta negara Islam kepada Kisra Persia dan Kaisar Romawi juga menunjukkan kesadaran Nabi dan umat Islam atas pengaruh negara-negara adidaya di sekitar mereka. Kesadaran serupa juga ditunjukkan melalui pertanyaan urutan pembebasan Konstantinopel dan Roma.

Berbagai sikap tersebut menjelaskan pada kita. Bahwa umat Islam sejak awal telah menyadari, mereka memang ditakdirkan untuk menjadi umat yang besar. Mereka senantiasa berbenturan dengan banyak kekuatan – sebuah situasi yang sangat berbeda dengan Nabi lainnya yang umumnya hanya berhadapan dengan satu penguasa.Maka, pemahaman atas berbagai sepak terjang negara adidaya, adalah upaya mereka memantaskan diri untuk menjadi umat yang besar.

Dalam konteks modern, kesadaran para pengemban dakwah terhadap strategi politik dalam dan luar negeri Amerika Serikat, adalah bagian dari upaya mempersiapkan kebangkitan umat.

Umat Islam tidak boleh membatasi kesibukannya sebatas kondisi politik dalam negeri mereka, sebab hal ini akan mengantarkan pada egoisme dan melalaikan kaum muslimin dari kepentingan umat.

Sikap ini menjadi sangat penting, mengingat setiap negara adidaya dalam berbagai rentang waktu sejarah manusia, sangat berkepentingan untuk menyebarkan ideologinya. Maka, strategi politik luar negeri adalah hal mendasar yang harus mereka perhatikan.

Misalnya, Amerika Serikat (AS). Sebagai negara pengusung kapitalisme, AS tentu sangat berkepentingan menjaga eksistensi ideologi mereka, seperti demokrasi, sekularisme, liberalisme, feminisme, pluralisme, dll yang disebarkan melalui imperialisme. Hal serupa juga dilakukan Uni Soviet ketika menjadi adidaya.

Adapun umat Islam (melalui negara Khilafahnya) senantiasa melakukan dakwah dan jihad sebagai strategi politik luar negerinya dan menyebarkan pengaruhnya ke seluruh dunia. Ketika kaum muslimin sudah tidak lagi menghela kudanya untuk berjihad dan hanya “duduk di taman yang penuh bunga tulip” untuk bersenang-senang, itulah saat di mana umat Islam terus kehilangan pengaruhnya atas dunia.

2. Kalahnya Adidaya Mengubah Keseimbangan Kekuatan Politik Global

Meski peradaban dapat runtuh oleh faktor bencana dan wabah, namun peperangan merupakan cara paling efektif untuk mengubah keseimbangan kekuatan politik global.

Dalam dunia One Piece, kekalahan kelompok Yonkou Shirohige, melenyapkan pengaruh mereka dan melahirkan adidaya baru, yakni Kurohige. Adapun kalahnya Kaidou dan Big Mom, menaikkan nama Luffy (yang dianggap sebagai pimpinan aliansi trio kapten Supernova sebagai rookie berbahaya) dan Buggy sebagai adidaya lautan yang baru.

Demikianlah yang juga terjadi dalam dunia kita. Perang Dunia (PD) ke-2 melahirkan 2 negara adidaya, Amerika Serikat dan Uni Soviet; melemahkan 2 negara adidaya sebelumnya, Inggris dan Prancis; dan menyingkirkan 2 negara besar lainnya, Italia dan Jerman. Jika PD I telah mengguncang perimbangan kekuatan di Eropa, maka PD II menghancurkan keseimbangan itu secara total dan mengeluarkan pusat gravitasi dunia dari Eropa.

Dalam sejarah peradaban Islam, rangkaian peperangan dengan Persia dan Romawi berhasil menggeser kekuatan mereka. Pasca pembebasan Konstantinopel, kekuatan ‘Utsmani terus merangkak naik hingga meraih estafet kepemimpinan umat Islam global (Khilafah) dari ‘Abbasiyyah di masa Sultan Selim I.

Saking besarnya pengaruh rentetan peristiwa itu, sebagaimana yang juga disampaikan dalam buku “Khilafah dan Ketakutan Penjajah Belanda”, para Khalifah dari wangsa ‘Utsmani kemudian digelari sebagai Sultan Rum(Sultan Romawi) oleh masyarakat Nusantara.

Gelar itu adalah penghormatan kaum muslimin kepada mereka karena berhasil membebaskan Konstantinopel, yang sudah masyhur dikenal sebagai pusat peradaban Romawi Timur.

Besarnya pengaruh ‘Utsmani juga menyebabkan fez, “peci merah” asal Maroko yang dipopulerkan Sultan Mahmud II (k. 1808-1839), disebut oleh kaum muslimin India sebagai “Rumi Topi”; sebuah penyebutan yang terus bertahan hingga sekarang.

Tak hanya kemenangan, kekalahan adidaya juga berdampak besar. Kekalahan akbar Khilafah dalam Perang Dunia pertama, sebagaimana yang dibahasakan Eugene Rogan, berhasil “mengubah selamanya wajah Timur Tengah”. Faktanya, umat Islam hari ini memeluk konsep negara-bangsa, dan terpecah manjadi lebih dari 50 negara yang lemah, dan terus dijajah oleh imperialisme Eropa.

Jangkauan pengaruh ‘Utsmaniyyah (yang tercatat) di masa Wazir Agung Sokollu Mehmed Pasha. (Casale, 2010: 136).

3. Kembalinya Kejayaan Islam Bukanlah Proses Instan

Di One Piece, kita memang dikenalkan dengan para Supernova, yakni bajak laut pendatang baru (rookie) yang dalam waktu singkat, segera menjadi penantang atas keseimbangan kekuatan dunia.

Peradaban Islam, ternyata juga demikian. Islam awalnya adalah pendatang baru (rookie) yang “tak dilirik” oleh Persia dan Romawi. Dalam waktu sekitar 3 dekade, mereka berhasil membebaskan Persia dan terus menjadi penantang serius peradaban Romawi. Umat kemudian membutuhkan lebih dari 800 tahun untuk memantaskan kecanggihan teknologi dan militernya dalam pembebasan sang “ibukota dunia”, Konstantinopel. Islam, melalui ideologinya yang khas(yakni menjadikan penerapan syariat Islam di berbagai sektor sebagai kebijakan politik dalam negerinya serta dakwah dan jihad sebagai metode politik luar negerinya) terus digdaya selama lebih dari 450 tahun setelahnya, hingga pengaruhnya benar-benar lumpuh dan digantikan oleh peradaban Kapitalisme.

Memang benar, bahwa pembebasan Persia didahului oleh konflik internal di antara mereka, sehingga peradaban berusia ribuan tahun itu terus melemah. Pun dengan Black Death yang menggerus 1/3 populasi Eropa hingga berbagai serangan dari sesama pasukan Salib, Konstantinopel juga terus melemah menjelang 1453.

Namun, begitulah fitrah dari siklus peradaban. Senantiasa ada kekuatan lain yang siap memimpin dunia dan menggantikan adidaya “existing” yang semakin melemah.

Bagi sang adidaya pengganti, hanya ada 2 kemungkinan. Lanjut memimpin dunia dengan sistem yang sama (dan terus mengokohkan sistem tersebut), atau menjadi adidaya dengan sistem yang benar-benar baru.

Dengan sistem Islam yang nyatanya betul-betul berbeda dari Komunisme maupun Kapitalisme, maka tak mungkin jika peradaban Islam menjadi adidaya dengan jalan mengokohkan sistem peradaban sebelumnya. Islam akan memimpin peradaban dunia dengan sistem yang baru.

Maka, kemapanan dari peradaban Islam yang kelak berdiri kembali, yakni peradaban yang (sebagaimana hadits riwayat Tirmidzi, akan) “menebar keadilan, “membagi harta secara benar” dan “membuat hati umat Islam merasa kaya dan tenang”, tidak mungkin “ujug-ujug” langsung berdiri di masa Imam Mahdi. Bahkan kemapanan kapitalisme yang kita lihat saat ini, adalah hasil dari proses panjang berdekade Revolusi Industri serta kemenangan mereka atas komunisme sebagai penantang ideologisnya.

Artinya, di luar dari hadits adanya “konflik antara tiga putra khalifah untuk memperebutkan harta”, khilafah memang akan berdiri sebelum masa kekuasaan Imam Mahdi.[]

Referensi Bacaan Lanjutan:

Abdul Qadim Zallum. 2001. Pemikiran Politik Islam. Pustaka Al-Izzah: Bangil.

Eugene Rogan. 2017. Dari Puncak Khilafah. Serambi: Jakarta.

Giancarlo Casale. 2010. The Ottoman Age of Exploration. Oxford University Press: Oxford.

Mahmud Rajab Hamady. 2005. Tanda-Tanda Kiamat: Melihat Masa Depan Dunia Berdasarkan al-Qur’an dan Sunnah. Qisthi Press: Jakarta.

Muhammad Musa. 2003. Hegemoni Barat terhadap Percaturan Politik Dunia: Sebuah Potret Hubungan Internasional. Wahyu Press: Jakarta.

Nicko Pandawa. 2021. Khilafah dan Ketakutan Penjajah Belanda. Komunitas Literasi Islam: Bogor.

Share the idea

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *