Ancaman Eropa Terhadap Khilafah Di Masa Abdulhamid II

Share the idea

Kita mendengar sosok Sultan Muhammad al-Fatih melalui pembebasan Konstantinopelnya. Pun kita mengetahui kisah Sultan Sulaiman al-Qanuni melalui masa keemasan Utsmaniyyah. Lantas, kapan dan bagaimana kita bisa mengenal sosok Sultan Abdul Hamid II?

Bisa jadi, kita baru mendengar sosoknya melalui drama serial Payitaht: Abdulhamid. Bisa jadi juga, kita lebih dulu mengenal beliau melalui buku kumpulan catatan hariannya. Dan melalui kisahnya yang paling terkenal, kita mengenal ketegasannya melalui konfrontasinya dengan sang zionis, Theodor Herzl.

Bagaimanapun, Sultan Abdul Hamid II adalah seorang sultan yang mampu memimpin Khilafah selama 33 tahun. Bukan waktu yang sebentar, mengingat Khilafah tengah menghadapi masa kemunduran.

Bagi Eropa yang senantiasa melihatnya sebagai ancaman, tentu beliau adalah sosok yang wajib disingkirkan. Apalagi, jika mengingat bahwa kehancuran Islam menjadi cita-cita besar bagi mereka. 

Sebuah kisah menarik pernah dituliskan oleh Sultan Abdul Hamid II dalam catatan hariannya. Tak lain dan tak bukan, adalah tentang Jamaluddin al-Afghani: sosok yang selama ini masyhur dikenal sebagai seorang mujaddid besar umat Islam.

Namun, alih-alih memuji sosok al-Afghani, sang Sultan justru menggegerkan kita dengan peringatannya yang meninggalkan tanda tanya besar, “Telah sampai kepadaku sebuah tulisan yang dipersiapkan oleh Kementerian Luar Negeri Inggris tentang seorang pelawak yang bernama Jamaluddin al-Afghani. Inggris mengklaim bahwa orang tersebut bersama dengan Blunt  telah membuat pernyataan untuk menjauhkan Khilafah dari bangsa Turki. Dia juga mengusulkan kepada Inggris untuk segera mengumumkan Gubernur Makkah, Syarif Husain, sebagai Khalifah bagi kaum muslim.”

Sang Sultan kemudian melanjutkan, “Aku sendiri sangat mengenal Jamaluddin al-Afghani. Dia tinggal di Mesir dan dia adalah seorang manusia yang berbahaya. Suatu saat dia mengusulkan kepadaku – dia menamakan dirinya sebagai al-Mahdiyah (pemberi solusi dan petunjuk)– bahwa dia akan menggerakkan seluruh kaum muslim Asia Tengah. Aku tahu bahwa dia tak akan mampu melakukannya. Dia adalah kaki tangan Inggris, dan sudah pasti Inggris telah mempersiapkan orang tersebut sebagai sumber informasinya. Aku menolak usulannya, maka dia pun bersekutu dengan Blunt…”

Nyatanya, kita tak pernah mendengar kabar tentang Syarif Husain yang didaulat Khalifah bagi umat Islam. Pun dengan Jamaluddin al-Afghani, sosok yang disebut oleh sang Sultan sebagai “kaki tangan Inggris” itu, di kalangan umat Islam justru dikenal sebagai seorang mujaddid.

Jadi, apakah Sultan Abdul Hamid berbohong? Mengapa kesimpulan tersebut bisa muncul?

Kita tentu sering mendengar berbagai siasat Eropa untuk menghancurkan Khilafah, terutama Inggris yang banyak menggunakan kaki tangannya.

Namun, detail akan hal tersebut memang cukup sulit ditemukan. Selain tak banyak literatur berbahasa Indonesia yang menjelaskannya, butuh membaca puluhan buku untuk mengungkapnya.

Temukan detail-detail tersebut dalam buku “Khilafah dan Ketakutan Penjajah” karya Nicko Pandawa. Sosok Sultan Abdul Hamid II, bahkan mendapat porsi pembahasan yang cukup banyak di buku ini.

Pemesanan: http://bit.ly/BukuKLI1

Share the idea

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *