Konstituante: Antara Toleransi dan Konfrontasi

Share the idea

Bandung menjadi tempat perhelatan penting. Di Kota Kembang inilah, sidang Dewan Konstituante berlangsung panas. Gedung Merdeka telah menjadi saksi bisu perjuangan Kaum Muslim. Kerasnya pertentangan demi pertentangan yang terjadi di Gedung Merdeka. Pembahasan mengenai dasar negara menjadi soalan pokok. Menjadi sidang terpanjang dan penuh konfrontasi.

Setidaknya ada tiga faksi yang berusaha menggolkan tujuannya. Pertama, Faksi Islam, yang didukung delapan partai dan perorangan sebanyak 230 kursi. Faksi ini didukung oleh Partai Masjumi, Partai Nahdhaltul Ulama, Partai Syarikat Islam Indonesia (PSII), Persatuan Tarbiyah Islamiyah (Perti) dan lainnya. Faksi ini sepakat memperjuangkan Islam sebagai dasar negara.

Kedua, Faksi Pancasila yang didukung 24 partai dan perorangan dengna 274 kursi. Faksi ini memperjuangakan Pancasila sebagai dasar negara. Faksi ini terdiri dari Partai Nasionalis Indonesia (PNI), Partai Komunis Indonesia (PKI), Partai Sosialis Indonesia (PSI), Partai Kristen Indonesia (Parkindo), Partai Katolik, dan lainnya.

Ketiga, Faksi Sosial-Ekonomi yang didukung oleh tiga partai politik dengan 10 suara. Mereka mengajukan Ekonomi Sosialis dan Demokrasi sesuai pasal 33 dan pasal 1 UUD 1945.

Dewan Konstituante memang menjadi ajang berkonfrontasi. Moh. Natsir di Pidato mewakili Masjumi, menyampaikan,

“Saja berpendapat, Saudara Ketua, bahwa djustru lantaran kita bersedia bertoleransi itu, kita harus berani membuka pendirian kita seterang-terangnja. Toleransi jang dimaksud ialah, untuk membuka ruang dan suasana jang seluas-luasnja bagi konfrontasi idee-idee dan pemikiran-pemikiran”.

Ia pun melanjutkan, “Toleransi tanpa konfrontasi sesungguhnja bukanlah toleransi jang kita maksud, itu hanja berarti; mengelakkan persoalan. Sehingga mungkin kita, achirnja, hanya mendapatkan toleransi dan bukan konstitusi”.

“Jang kita perlukan ialah konfrontasi dalam suasana toleransi sehingga dari perbenturan-perbenturan antara idee-idee dan pemikiran jang kita madjukan masing-masing, kita sampai kepada kebenaran. Du choc des opinions jaillit la verte. Saja mengaharapkan agar suasana toleransi jang demikian itulah jang akan meliputi ruangan konstituante ini seterusnja”.

Toleransi timbal-balik. Itulah yang coba disampaikan K.H.M. Isa Anshary dari Faksi Masjumi. Dia mengatakan, “Dasar dan filsafat negara jang mendjadi atjara pembahasan dalam masa sidang sekarang ini, rupanja telah membawa kita untuk memahamkan pengertian toleransi itu dengan ma’na jang lebih chusus, ialah membukakan chazanah kalbu kita sendiri untuk mendengarkan, merenungkan setjara sungguh dan penuh pendirian, kejakinan dan pandanganan hidup masing-masing walaupun tidak seuai pendirian, kejakinan dan pandangan diri sendiri.”

“Rupanja Saudara Ketua, sudah tiba saatnja segenap kita membuka kartu masing-masing, membentangkan pendirian, menemukakan kejakinan dan pandangan hidup, ideologi masing-masing, dengan bahasa jang tegas, kalimat-kalimat biasa serta njata”.

Begitulah Faksi Islam mendudukan soal konfrontasi dalam suasana toleransi. Menjelaskan pendirian dan tidak melakukan tipu muslihat. Bila salah, maka, katakanlah salah. Tidak jua ‘membajak’ untuk mendapatkan pengakuan, atau bahkan hingga berbohong soal pendirian demi mendapatkan dukungan. Keseriusan inilah yang terpancar pidato-pidato Faksi Islam di Sidang Konstituante [].

Sumber:

Jakarta. RI, 1958. Tentang Dasar Negara Republik Indonesia dalam Konstituante djilid 1. Indonesia.

Jakarta. RI, 1958. Tentang Dasar Negara Republik Indonesia dalam Konstituante djilid 2. Indonesia.

Beggy Rizkiansyah, dkk. 2017. Dari Kata Menjadi Senjata : Konfrontasi Partai Komunis Indonesia dengan Umat Islam. Penerbit Jurnalis Islam Bersatu (JITU).

Share the idea