Jogokariyan: Dulunya Kampung Komunis

Share the idea

Masjid biru itu berdiri kokoh di kampung Jogokariyan. Silahkan rasakan sensasi shalat subuhnya yang penuh meluber hingga ke luar-luar. Masjid Jogokariyan yang mampu menampung sekitar seribu jamaah ini dulunya hanyalah sepetak langgar berukuran 9×15 meter berlantai satu. Bukan hanya itu, masjid yang berdiri diatas tanah wakaf ini dibangun di kampung yang dulunya dikuasai orang-orang Merah, atau yang dikenal dengan Komunis-PKI.

Demikian yang dikisahkan biro Rumah Tangga Masjid Jogokariyan Sudi Wahyono, “Dulu, latar belakang di sini basisnya PKI, masyarakat banyak yang tergabung dalam Lembaga Kesenian Rakyat (LEKRA) PKI,” ucap Sudi mengawali ceritanya.

“Kemudian ada juragan yang juga tokoh-tokoh muhammadiyah cabang Karangkajen (dari kampung sebelah) yang melihat di sini banyak pengusaha batik. Niat awalnya, agar para pekerja itu bisa shalat berjamaah di masjid,” lanjut Sudi.

Sudi memaparkan beberapa ulama yang terlibat menggagas Masjid Jogokariyan. Di antaranya ada H. Zarkoni, Amin Said, Dul Manan, yang mudanya Muhammad Chamid.

Sudi melanjutkan ceritanya, pendirian masjid memang termasuk mudah, tapi saat perkembangan dakwahnya yang ada perlawanan. Seringkali mereka menyalakan petasan, pokoknya mengganggu ketika kita ada kegiatan. Tak jarang gangguan sampai ke tingkat adu fisik.

Bahkan, imbuh Sudi, Kesenian Lekra begitu gencar mengkampanyekan ideologi komunismenya. Sampai-sampai menggelar Pegelaran Ketoprak bertema “Matine Gusti Allah” (Matinya Allah SWT).

Kisah ini dibenarkan oleh tokoh masyarakat yang juga saksi sejarah perjuangan Islam di era 1966, H. Muhammad Chamid . “Masjid ini resmi dibangun tahun 1967 di atas tanah wakaf pak Jazuri. Situasi Jogokariyan saat itu, termasuk kampung merah, dulu banyak PKI,” tegas bapak berusia 71 tahun ini membenarkan kisah yang dipaparkan Sudi Wahyono.

“Kita masih minoritas. Islamnya juga banyak Islam abangan, tidak shalat, orang-orang mabuk sambil berjudi menjadi pemandangan biasa saat itu,” lanjutnya, melengkapi.

Namun karena basis ‘orang-orang Merah’, perkembangan dakwah di kawasan Jogokariyan ini tidak semudah membalikan telapak tangan.

Chamid bercerita, pemuda-pemuda muslim saat itu masih sedikit, sekitar lima orang. Mereka dengan getol berdakwah khususnya mengajak anak-anak untuk rajin datang ke masjid. Lewat anak-anak yang dibina inilah, satu persatu orang tuanya tersadarkan dan mau datang ke masjid. Bahkan, imbuhnya, sekarang banyak mantan PKI yang menjadi muadzin, shalat berjamaah tidak ketinggalan [].

Sumber :

Beggy Rizkiansyah, dkk. 2017. Dari Kata Menjadi Senjata : Konfrontasi Partai Komunis Indonesia dengan Umat Islam. Penerbit Jurnalis Islam Bersatu (JITU). Jakarta.

Share the idea

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *