Sejarah

Dari Mana Asal-Usul Penamaan Jawa dan Jawi?

Share the idea

Dalam postingan berjudul, “Mengapa Kita Seharusnya Tidak Menggunakan Istilah Nusantara”, Nicko Pandawa menyampaikan bahwa penggunaan istilah “Jawi” jauh lebih tepat untuk menyebut umat Islam di Asia Tenggara alih-alih menggunakan istilah “Nusantara” maupun “Melayu”. Alasannya, sudah dijelaskan dalam artikel terkait.

Baca di sini https://literasiislam.com/mengapa-kita-seharusnya-tidak-menggunakan-istilah-nusantara/

Karena alasan yang sama, Nicko Pandawa juga tidak menggunakan istilah Nusantara dalam seluruh buku yang ditulisnya. Bahkan dalam sub judul buku “Dafatir Sulthaniyah” dan buku “Siyasah Sulthaniyah”, istilah “Muslimin Jawi” sudah digunakan dan dipopulerkan.

Maka pertanyaannya, dari mana istilah “Jawi” berasal?

Istilah Jawi merujuk pada tanaman Jewawut, yaitu sebuah tanaman biji-bijian yang sejak zaman ribuan tahun sebelum Masehi, sudah menjadi makanan pokok orang-orang seantero Asia Tenggara. Jawawut ini masih sebangsa dengan pagi-padian. Hari ini, Jawawut memang tidak terlalu populer, karena sudah digantikan dengan beras.

Penggunaan “Jawi” sebagai istilah yang merujuk pada Jawawut, pertama kali digunakan dalam epos-epos India seperti kitab Ramayana yang bercerita tentang Raja Rama dan Dewi Sinta. Salah satu musuhnya, yakni Rahwana, disebutkan bahwa dia itu punya pasukan dari Jawa (Yava).

Ptolemy (geografer Yunani sekaligus jenderalnya Alexander Agung) menyebut negeri kita dengan istilah Yabadiao. Sedangkan orang Tiongkok menyebutnya Ye-diao. Orang-orang lokal di Asia Tenggara khususnya orang Melayu, justru menyebut Yava dengan sebutan Jabah. Sebab, lidah melayu justru mengganti huruf v kemudian dengan huruf b.

Dari istilah Jabah inilah, kaum muslimin di masa Khilafah ‘Abbasiyah menyebut negeri kita dengan sebutan Zabaj. Dalam buku-buku yang ditulis oleh Ibn Khurdadzbih maupun Ramahurmuzi, mereka juga kompak menyebut negeri kita yang saat itu dikuasai oleh Sriwijaya dengan sebutan Zabaj.

Mayoritas sejarawan berpendapat, bahwa kata Zabaj tersebut merujuk pada ibukota Sriwijaya yang ada di antara Jambi dan Palembang. Dari istilah Zabaj, berangsur-angsur akhirnya menjadi istilah Jawa.

Orang Khmer yang ada di Vietnam menyebutnya Jva, orang Thai menyebutnya Chawa, dan orang Aceh menyebutnya Jawoe maupun Jawi. Istilah inilah yang kemudian ramai digunakan oleh sekalian kaum muslimin, sebagaimana di masa Ibnu Batutah yang mengunjungi Pasai di abad ke-13 hingga masa sebelum penjajahan Eropa dimulai.

PENGGUNAAN “JAWI” SEBAGAI ISTILAH BAHASA ISLAM

Ternyata, istilah Jawi juga jamak digunakan sebagai bahasa politik untuk menyebarkan Islam. Misalnya dalam tulisan Syekh Nuruddin Ar-Raniry (berasal dari Rander, kota di India. w. 1658) disebutkan,

“Seorang faqir (amat memerlukan) Allah Ta’ala, Syaikh Nuruddin Muhammad Jailani bin ‘Ali Hasanji bin Muhammad Hamid, ar-Ranir tempat tinggalnya, asy-Syafi’i mazhabnya, telah selesai mengumpulkan hadits-hadits Nabi shallallahu ‘alayhi wa sallam dan menerjemahkannya dengan bahasa Sumatra (Pasai).”

Kenapa disebut “bahasa Sumatra”? Yang dimaksud Syekh ar-Raniry sebagai bahasa Sumatra, adalah penyebutan lain untuk bahasa Jawi. Dalam konteks ini, “Sumatra” bukan untuk menyebut keseluruhan Pulau Sumatra dari Aceh s.d Lampung. Tapi khusus menyebut Bandar Sumatra, yang hari ini dikenal dengan nama administratif Kecamatan Samudra (sekarang ada di Lhokseumawe dan dulu menjadi pusat pemerintahan Kesultanan Sumatra Pasai).

Inilah peran penting dari Kesultanan Pasai dalam menyebarkan Islam dengan menggunakan bahasa Jawi (bahasa Melayu dengan aksara Arab). Dalam bahasa Jawi, Syekh ‘Abdurra’uf as-Sinkili (berasal dari Singkil, Aceh. w. 1615) pun menyebutkan sebuah kutipan dari kitab yang ditulisnya,

“Maka bahwasannya Yang Mahamulia (Sultanah Shafiyatuddin Syah) itu telah bersabda kepadaku daripada sangat lebai akan agama Rasulullah bahwa kukarang baginya sebuah kitab dengan bahasa Jawi yang dibangsakan kepada bahasa Pasai yang muhtaj (diperlukan) kepada orang yang menjabat jabatan qadhi”

Kalimat “bahasa Jawi yang dibangsakan kepada bahasa Pasai” bermakna, bahwa pelopor penggunaan bahasa Jawi adalah Kesultanan Pasai yang didirikan oleh Sultan Malikussaleh (w. 1297). Beliau memegang andil besar dalam Islamisasi seluruh Asia Tenggara.

Bandingkan dengan catatan Ibnu Batutah (w. 1369) yang muncul lebih awal. Ibnu Batutah juga menyebut Pasai dengan istilah geografi Islam yang dinisbatkan kepada Jawa atau Jawi, sebagaimana dalam karyanya yang berjudul “Tuhfah an-Nuzhzhar fi Ghara’ib al-Amshar wa ‘Aja’ib al-Asfar”. Ketika Ibnu Batutah datang ke Sumatra pada tahun 1345 M, disebutkan,

“Memoar saya tentang Sultan Jawa (yakni Pasai), Sultan yang berkuasa ketika saya tiba adalah Sultan Malikuz Zahir. Ia adalah sebaik-baik penguasa yang utama dan juga pemurah.”

Dalam konotasi geografi Islam yang digunakan oleh Ibnu Batutah, Pasai justru disebut sebagai Jawa. Dan ternyata, penyebutan Jawa ini juga tidak hanya berlaku bagi Sumatra, Pasai, maupun seluruh Pulau Sumatra saja. Tetapi penyebutan ini juga mencakup seluruh wilayah regional Asia Tenggara.

Sultan Banten yang masyhur – yakni Sultan Ageng Tirtayasa (k. 1651-1683) pernah menulis sebuah surat kepada Raja Inggris, Charles II (k. 1660-1685). Ketika memperkenalkan dirinya kepada Charles, Sultan Ageng Tirtayasa menyampaikan bahwa,

“Dan surat ini datang dari Raja Jawi (Muluk al-Jawiyah) dan seagung-agungnya Sultan di Kepulauan Islam, yang namanya terkenal di seluruh negeri India dan Arab.”

Mari kita telaah pernyataan ini. Muluk al-Jawiyah, adalah sebuah istilah yang digunakan di Banten. Banten itu, bagian dari Pulau Jawa. Tapi istilah Jawi ini, sebagaimana ungkapan Ibnu Batutah sebelumnya, ternyata juga digunakan di Sumatra.

Bahkan istilah Jawa ini itu bukan hanya berlaku bagi daerah kepulauan, tapi juga Asia Tenggara Daratan. Hal ini ditunjukkan pada penyebutan Kedah (wilayah Malaysia yang berbatasan dengan Thailand dan Myanmar) ternyata masih disebut Jawa atau Jawi.

Salah satu Sultan Kedah yang bernama Sultan Ahmad Tajuddin Halim Syah (k. 1803-1843) pernah menulis surat kepada Khilafah, yang saat itu dipimpin oleh Khalifah Mahmud II (k. 1808-1839). Sebagaimana yang juga dicantumkan dalam buku “Dafatir Sulthaniyah”, ketika memperkenalkan dirinya, ia menyampaikan,

“Saya adalah seorang Sultan dari salah satu negeri Jawa. Dan ia berada di bawah garis Khatulistiwa. Sebuah negeri yang dinamai Kedah yang kami miliki sejak zaman lampau… Tidaklah kami memberi tahu yang demikian kepada Tuan melainkan karena keterhubungan kami dengan Tuan dari zaman yang lampau…”

Ketika Sultan Alauddin Mansur Syah (k. 1838-1870) dari Aceh mengirim surat kepada Khilafah ‘Utsmaniyyah dan memperkenalkan asal beliau kepada Khalifah Abdul Majid I (k. 1839-1861), dalam bahasa Jawi (bahasa Melayu beraksara Arab) ia menyampaikan,

“…dahulu negeri Jawi sekaliannya orang muslimin, dan kuatlah dengan berbuat ibadah, dan tetaplah agama Islam, dan senanglah kehidupan segala orang fakir dan miskin dan lainnya…”

Dalam surat tersebut, Sultan Mansur Syah secara terang benderang menyebut Negeri Jawi. Dan ternyata, negeri yang ia maksud itu bukan sekadar Aceh belaka, tapi mencakup seluruh Sumatra, Semenanjung Melayu (yang sekarang menjadi bagian Malaysia), Pulau Jawa, Kalimantan hingga ke Maluku!

Sebagai salah satu negara Islam paling kuat di kepulauan Jawi, Aceh dijadikan basis jihad terpenting melawan Portugis oleh hampir semua negara di sekeliling Aceh. Gambar dan keterangan lebih lanjut ada di buku Dafatir Sulthaniyah

Butuh setidaknya 11 tahun bagi Ismail Hakki Kadi dan A.C.S. Peacock untuk meneliti hubungan antara Khilafah ‘Utsmaniyyah dengan kaum muslimin di Asia Tenggara. Hasil penelitian itu kemudian diurai dalam 2 jilid buku arsip Ottoman-Southeast Asian Relations: Sources from the Ottoman Archives” yang jika dibeli, keduanya merogoh kocek hingga $321.06 atau sekitar 4,7 juta rupiah.

Beruntungnya, kita tak perlu membeli semahal itu untuk menikmati isinya. Sebab, KLI telah menerjemahkan arsip-arsip berbahasa Inggris, Turki, adan Arab tersebut dan menerbitkan arsip-arsip pilihannya dalam 2 jilid buku: “Dafatir Sulthaniyah” dan “Siyasah Sulthaniyah”

Klik di sini https://linktr.ee/kli.books

Sumber dan Rekomendasi Bacaan

Nicko Pandawa, Dafatir Sulthaniyah: Menguak Loyalitas Muslimin Jawi kepada Khilafah ‘Utsmaniyah, (Bogor: Komunitas Literasi Islam, 2022)

Nicko Pandawa, Siyasah Sulthaniyah: Aktivitas Politik Muslimin Jawi dan Khilafah ‘Utsmaniyah Menentang Penjajah Eropa, (Bogor: Komunitas Literasi Islam, 2022)

Syed Naquib al-Attas, Islam dalam Sejarah dan Kebudayaan Melayu, (Kuala Lumpur: Penerbit Universiti Kebangsaan Malaysia, 1972)

Titik Pudjiastuti, Perang, Dagang, Persahabatan: Surat-Surat Sultan Banten, (Jakarta: Yayasan Obor Indonesia, 2007)

Ismail Hakki Kadi dan A.C.S. Peacock, Ottoman-Southeast Asian Relations: Sources from the Ottoman Archives, (Leiden: Brill, 2020)

Michael Laffan, “Finding Java: Muslim Nomenclature of Insular Southeast Asia from Srivijaya to Snouck Hurgronje”, ARI Working Paper Series, No. 52 (Nov 2005)

Muhammad Syukri Rosli dan Ahnaf Wali Alias, Tradisi Keilmuan Bahasa Jawi, (Kuala Lumpur: Akademi Jawi Malaysia, 2022)

Philip Bruckmayr, Cambodia’s Muslims and the Malay World: Malay Languange, Jawi Script, and Islamic Factionalism from the 19th Century to the Present, (Leiden: Brill, 2019)

Ibn Bathuthah, Tuhfah an-Nuzhzhar fi Ghara’ib al-Amshar wa ‘Aja’ib al-Asfar, manuskrip koleksi Bibliotheque Nationale de France.

Share the idea

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *