Sejarah

Asal-Usul Nama Indonesia: Sebuah Nama yang Diperkenalkan Oleh Bangsa Penjajah

Share the idea

Dari masa ke masa, wilayah yang kita diami ini telah memiliki banyak sebutan yang senantiasa berubah dan tidak tetap. Mulai dari Nusantara, Jawi, Hindia-Belanda, hingga hari ini disebut dengan Indonesia.

Dalam postingan berjudul, “Mengapa Kita Seharusnya Tidak Menggunakan Istilah Nusantara”, kami sudah menyampaikan bahwa penggunaan istilah “Jawi” jauh lebih tepat untuk menyebut umat Islam di Asia Tenggara alih-alih menggunakan istilah “Nusantara” maupun “Melayu”. Alasannya, sudah dijelaskan dalam artikel terkait.

Baca di sini https://literasiislam.com/mengapa-kita-seharusnya-tidak-menggunakan-istilah-nusantara/

Lantas, bagaimana dengan nama-nama selain Nusantara, Jawi, dan Melayu?

HINDIA TIMUR DAN HINDIA BELANDA

Di masa kolonialisme Belanda, negeri kita sempat populer dengan sebutan Hindia Timur atau Hindia Belanda. Hindia Timur, merujuk pada wilayah yang berada di Timur India. Sedangkan Hindia Barat, yakni Caribbean, berada di sebelah Barat India.

Dalam penelitian Nicko Pandawa yang dibukukan, yakni “Khilafah dan Ketakutan Penjajah Belanda”, penulis secara konsisten menggunakan istilah Hindia Belanda karena yang menjadi objek pembahasan dalam buku itu adalah negeri Jawi yang sudah dijajah Belanda. Meski sebagiannya belum berhasil dijajah oleh Belanda, tapi setelah tahun 1904 (tepatnya setelah Sultan Aceh dan Sultan Bone ditaklukkan oleh Van Heutsz selaku Gubernur Jenderal Belanda saat itu) maka istilah Hindia Belanda mulai mempunyai konotasi politis dan geografis yang secara spesifik menyebutkan wilayah taklukan Belanda yang terbentang dari Sabang sampai Merauke.

Snouck Hurgronje (kiri) dan J.B. Van Heutsz (kanan), dua tokoh penting Belanda yang banyak dibahas dalam buku “Khilafah dan Ketakutan Penjajah Belanda

NEGERI DI BAWAH ANGIN

Selain itu, negeri ini juga disebut dengan “negeri di bawah angin” (bilad tahta ar-rih). Ini adalah salah satu istilah yang populer di kalangan kaum muslimin, baik di negeri kita maupun yang berasal dari Timur Tengah.

Ternyata, ini adalah istilah yang juga digunakan oleh orang-orang ‘Utsmani ketika Sultan Selim II (anak Sultan Sulaiman al-Qanuni) menyebut Sultan Aceh sebagai pihak yang telah berkorespondensi kepada Khilafah ‘Utsmaniyyah sebelumnya. Maka, Sultan Selim II menyebut Sultan Aceh dengan sebutan “tahta ar-rih hakimi sulthon”, yakni “penguasa Kesultanan yang berada di negeri bawah angin”.

Maksud di bawah angin itu apa? Kalau kita melihat peta, secara vertikal wilayah kita dipisahkan oleh garis khatulistiwa. Sebelah utara garis khatulistiwa, disebut negeri atas angin, dimana angin itu berlayar ke arah utara, yakni ke arah atas. Kalau kita mau belajar pergi haji ke Mekkah, atau ke Istanbul maupun Mesir, maka kita menaiki kapal yang ditiup oleh angin yang bergerak ke arah utara alias ke atas angin. Jika orang Arab ingin pergi ke negeri kita, maka mereka harus mencari angin yang bergerak dan tertiup ke bawah, yakni ke arah selatan. Makanya, negeri kita disebut sebagai negeri di bawah angin.

POLEMIK NASIONALISME DIBALIK PENAMAAN INDONESIA DAN TERPISAHNYA MALAYSIA

Sebagaimana istilah Nusantara yang tak dikenal oleh kaum muslimin negeri ini di masa peradaban Islam, nama Indonesia juga demikian. Indonesia (Indonesië) adalah nama yang baru diperkenalkan belakangan, oleh orang yang cita-cita dan ideologinya sangat jauh berbeda dengan orang-orang Islam di negeri kita.

Ia adalah James Richardson Logan (1816-1869), seorang etnolog Inggris melalui karyanya, “The Ethnology of the Indian Archipelego. Dalam penamaan Indonesia, Logan menggabungkan 2 suku kata: “Indië”, berasal dari kata Indus yang merujuk pada Sungai Indus yang pernah menjadi sumber peradaban bagi orang-orang India dari masa sebelum masehi. Sebab, negeri ini pernah dipengaruhi oleh kekuatan Hindu dari India di masa sebelum Islam. Adapun suku kata kedua adalah “Nèsos”, berasal dari bahasa Yunani yang artinya kepulauan.

Sungai Indus, sungai penting dunia yang menyentuh India, Pakistan, dan Tiongkok

Menurut Nagazumi dalam “The Word ‘Indonesia’: The Growth of Its Political Connotation”, kata “Indonesië” ini kemudian pertama kali digaungkan bukan di Hindia itu sendiri, melainkan di negeri Belanda oleh pelajar-pelajar pribumi yang mendapat pendidikan Barat di sana. Mereka tentu familiar dengan istilah “Indonesië”, karena para orientalis di Fakultas Indologi Universitas Leiden, telah menggunakan istilah tersebut dalam konotasi geografis dan etnologis.

Kata “Indonesia”, kemudian digunakan untuk mengganti penyebutan Hindia-Belanda, yang mana batas-batas kedua wilayahnya mengacu pada batas-batas yang sebelumnya diciptakan oleh penjajah Belanda. Meski dahulu disatukan sebagai muslimin Jawi, namun para tokoh nasionalis Indonesia tak ingin memasukkan wilayah seperti Serawak atau Semenanjung Malaya ke dalam teritori Indonesia. Alasannya sederhana, karena wilayah-wilayah itu bukan bagian dari jajahan Belanda.

Pelajar Indonesia di Belanda

Memang sempat dibahas dalam sidang BPUPKI, bahwa jika orang-orang Sabah (Malaysia) ingin masuk wilayah Indonesia, maka dipersilahkan. Namun, keputusan itu diserahkan kepada mereka, bukan sesuatu yang diperjuangkan oleh orang-orang Indonesia. Maka, terpisahnya Malaysia dengan Indonesia yang dahulu pernah disatukan atas nama Jawi, adalah dampak dari nasionalisme.

Bagaimana dengan Thailand? Saat ini, mungkin banyak dari kita yang menyebut Pattani sebagai Muslim Thailand. Padahal secara etnis, mereka itu bukan orang Thai. Mereka adalah orang Melayu, yang hampir tak ada bedanya dengan orang Kelantan, Perlis, maupun Trengganu di Malaysia. Namun saat ini, wilayah mayoritas muslim di sana (Pattani, Yala, Narathiwat, dan Satun) tetap disebut Thailand karena hasil penjajahan Kerajaan Siam.

Maka, penyematan nama Pattani, Yala, Narathiwat, dan Satun dengan Thailand adalah hasil kolonialisme. Padahal mereka itu bukan Thai, melainkan Melayu.

Muslim di Thailand

Walhasil, sesungguhnya pada masa kekuasaan peradaban Islam, kaum muslimin tidak pernah mengenal istilah Nusantara, Indonesia, Thailand, atau Malaysia. Penyebutan-penyebutan itu adalah istilah yang baru populer belakangan.

Terkenalnya istilah Nusantara misalnya, adalah akibat nativisasi yang dipopulerkan oleh Ki Hajar Dewantara tahun 1920-an yang memiliki latar belakang sebagai anggota Budi Utomo sekaligus penganut kejawen kental yang juga memiliki semangat primordial Jawa. Latar belakang inilah yang lebih kuat membentuk pahaman kebangsaan Indonesia. Terlebih, nativisasi sendiri adalah proses yang menyebabkan kita dikenalkan dengan berbagai tsaqofah yang asing dari Islam, yakni Hindu dan Buddha.

Ki Hajar Dewantara, berperan penting dalam populernya nativisasi di Indonesia

Butuh setidaknya 11 tahun bagi Ismail Hakki Kadi dan A.C.S. Peacock untuk meneliti hubungan antara Khilafah ‘Utsmaniyyah dengan kaum muslimin di Asia Tenggara. Hasil penelitian itu kemudian diurai dalam 2 jilid buku arsip Ottoman-Southeast Asian Relations: Sources from the Ottoman Archives” yang jika dibeli, keduanya merogoh kocek hingga $321.06 atau sekitar 4,7 juta rupiah.

Beruntungnya, kita tak perlu membeli semahal itu untuk menikmati isinya. Sebab, KLI telah menerjemahkan arsip-arsip berbahasa Inggris, Turki, adan Arab tersebut dan menerbitkan arsip-arsip pilihannya dalam 2 jilid buku: “Dafatir Sulthaniyah” dan “Siyasah Sulthaniyah”

Klik di sini https://linktr.ee/kli.books

Sumber dan Rekomendasi Bacaan

Nicko Pandawa, Dafatir Sulthaniyah: Menguak Loyalitas Muslimin Jawi kepada Khilafah ‘Utsmaniyah, (Bogor: Komunitas Literasi Islam, 2022)

Nicko Pandawa, Siyasah Sulthaniyah: Aktivitas Politik Muslimin Jawi dan Khilafah ‘Utsmaniyah Menentang Penjajah Eropa, (Bogor: Komunitas Literasi Islam, 2022)

Syed Naquib al-Attas, Islam dalam Sejarah dan Kebudayaan Melayu, (Kuala Lumpur: Penerbit Universiti Kebangsaan Malaysia, 1972)

Titik Pudjiastuti, Perang, Dagang, Persahabatan: Surat-Surat Sultan Banten, (Jakarta: Yayasan Obor Indonesia, 2007)

Ismail Hakki Kadi dan A.C.S. Peacock, Ottoman-Southeast Asian Relations: Sources from the Ottoman Archives, (Leiden: Brill, 2020)

Michael Laffan, “Finding Java: Muslim Nomenclature of Insular Southeast Asia from Srivijaya to Snouck Hurgronje”, ARI Working Paper Series, No. 52 (Nov 2005)

Muhammad Syukri Rosli dan Ahnaf Wali Alias, Tradisi Keilmuan Bahasa Jawi, (Kuala Lumpur: Akademi Jawi Malaysia, 2022)

Philip Bruckmayr, Cambodia’s Muslims and the Malay World: Malay Languange, Jawi Script, and Islamic Factionalism from the 19th Century to the Present, (Leiden: Brill, 2019)

Ibn Bathuthah, Tuhfah an-Nuzhzhar fi Ghara’ib al-Amshar wa ‘Aja’ib al-Asfar, manuskrip koleksi Bibliotheque Nationale de France.

Share the idea

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *