Lahirnya Institusi Politik Islam di Tanah Jawa

Share the idea

Islam berkembang di Jawa dan dianut terutama oleh kalangan masyarakat bawah sebagai pelarian terhadap kesengsaraan hidup dan ketidakadilan para penguasa. Islam juga menarik bangsawan golongan menengah, para saudagar yang merupakan pelaku utama perekonomian di Jawa, serta para pangeran. Mereka umumnya muak dan resah atas kondisi Majapahit yang terus-menerus dilanda perang saudara. Perang Paregreg selain menyengsarakan rakyat juga menimbulkan ketidakpastian di bidang politik dan ekonomi. Mereka semakin muak ketika melihat para bengsawan Majapahit mempraktekkan ajaran Bhairawa Tantra yang sangat menjijikkan dan tidak manusiawi.

Islam menawarkan solusi atas berbagai problematika kehidupan, yaitu pembebasan serta sebuah wawasan luas tentang dunia. Islam menjadi jawaban atas krisis yang melanda Jawa. Islam dipandang dapat menaikkan harkat dan martabat masyarakat Jawa. Maka tidak bisa tidak, Jawa harus mendasarkan falsafah hidupnya pada Islam.

Dalam kondisi inilah dakwah Islam di Jawa memasuki fase ketiga, yaitu lahirnya institusi pemerintahan Islam. Institusi ini lahir dari penyerahan kekuasaan oleh para penguasa lokal (adipati dan juga syahbandar) kepada para ulama’ (wali). Ki Ageng Bungkul menyerahkan kepemimpinan Kadipaten Surabaya kepada menantunya, yaitu Sunan Ampel. Di Gresik, Nyai Ageng Pinatih, selaku syahbandar Gresik menyerahkan kepemimpinan kepada putra angkatnya, yaitu Sunan Giri.

Di kawasan Bintoro juga lahir sebuah institusi Islam yang dipimpin oleh Raden Patah, putra Prabu Brawijaya V (Bhre Kertabumi). Meskipun pemerintahan Islam ini terlihat independent, namun mereka mendudukkan dirinya sebagai satelit atau mitreka satata Majapahit. Upaya ini dilakukan sebagai bentuk penghormatan kepada raja yang banyak membantu perkembangan dakwah.

Serangan Girindrawardhana Dyah Ranawijaya yang menewaskan Prabu Brawijaya V membuat kekuatan institusi muslim bersatu dan mendeklarasikan Kesultanan Demak Bintoro sebagai pesaing Majapahit. Raden Patah (pendiri kesultanan Demak) yang merupakan putra Brawijaya V dipandang layak untuk merebut tahta Majapahit oleh masyarakat Jawa. Maka, serangan Demak ke Majapahit dipandang sah, sehingga berakhirlah Kerajaan Majapahit – sebagai buah pelemahan kekuasaannya pasca meninggalnya Prabu Hayam Wuruk dan Patih Amangkubumi Gajah Mada.

Pasca serangan Demak, Jawa memasuki era baru. Islamisasi berlanjut ke seluruh wilayah Nusantara yang sebelumnya terhimpun dalam perserikatan dengan Majapahit. Separuh Nusantara mulai tersentuh cahaya Islam. Islam menancapkan pengaruhnya secara mendalam dalam kehidupan di Jawa, yang kelak mencapai puncaknya pada era Susuhunan Agung Hanyakrakusuma atau Sultan Abdullah Muhammad Al Jawi Al Matarami dari Kesultanan Mataram. []

Sumber:

Azyumardi Azra, “Jaringan Ulama Timur Tengah dan Kepulauan Nusantara Abad XVII dan XVIII”. 1994; Mizan.

Claude Guillot dan Ludvik Kalus, “Inskripsi Islam Tertua di Indonesia”. 2008; Kepustakaan Populer Gramedia.

Firas Alkhateeb, “Sejarah Islam yang Hilang”. 2016; Bentang Pustaka.

Hasan Djafar, “Masa Akhir Majapahit”. 2009; Komunitas Bambu.

M. C. Ricklefs, “Mengislamkan Jawa”. 2013; Serambi.

M. C. Ricklefs, “Sejarah Indonesia Modern;1200 – 2008”. 2008; Serambi.

Moeflich Hasbullah, “Islam dan Transformasi Masyarakat Nusantara”. 2017; Kencana.

Widji Saksono, “Mengislamkan Tanah Jawa; Telaah atas Metode Dakwah Walisongo”. 1995; Mizan.

Jurnal Islamia edisi April 2012, “Pembebasan Nusantara: Antara Islamisasi dan Kolonialisasi”.

National Geographic Indonesia edisi Oktober 2009, “Moderat dan Radikal dalam Rumah Bernama Indonesia”.

National Geographic Indonesia edisi September 2012, “Repihan Majapahit”.

Share the idea

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *