Voltaire dan Tradisi Kebencian Prancis Terhadap Islam

Share the idea

Prancis, bukan kali pertama menjadi negara yang sangat anti terhadap Islam. Jauh sebelum kita mendengar peristiwa penghinaan Nabi Muhammad dalam kelas kebebasan berpendapat beberapa waktu terakhir, atau penerbitan ulang karikatur penghinaan Rasulullah oleh Charlie Hebdo bulan September yang lalu, kita sepantasnya mengenal sosok sastrawan kontroversial yang kelak menyesatkan pemikiran umat Islam melalui berbagai karyanya. Ialah Francois-Marie Arouet, atau yang lebih kita kenal sebagai Voltaire (1694-1778 M).

Voltaire hidup ketika ambiguitas Kristen di Eropa sedang berada di puncak, yang salah satunya direpresentasikan oleh dominasi Gereja Katolik Prancis yang melegitimasi berbagai kedzaliman terhadap rakyat dengan mengatasnamakan agama. Sikap itu banyak dikritik oleh Voltaire, dan seringkali menutup berbagai tulisannya dengan kalimat, “Ecrasez l’inflame” yang bermakna “Hapus Barang Hina (Fanatisme) itu”.

Pada pertengahan abad ke-18, Voltaire akhirnya mengambil langkah nekat dengan mementaskan sebuah drama berjudul Le Fanatisme, ou Mahomet le Prophete (Fanatisme pada Nabi Muhammad).

Dalam karya seninya, ia menggambarkan Nabi Muhammad sebagai sosok penipu yang senantiasa mengatasnamakan agama demi mencapai tujuan politiknya. Sebenarnya, hal ini ia tujukan sebagai sebuah satire atas sikap gereja dan penguasa saat itu yang senantiasa mengatasnamakan agama demi melegitimasi kekuasaan dan kedzalimannya, yang ia kemas dalam label Islam agar bisa diterima dengan mudah oleh masyarakat dan tentu saja, menghindari kecaman pihak gereja dan penguasa.

Salah satu bagian paling terkenalnya adalah ketika Voltaire mengangkat sosok Abu Sufyan yang ia sebut dengan nama Zopire, Zaid bin Haritsah yang ia beri nama Séide, serta gabungan dari sosok Zainab binti Jahsy dan Ramlah binti Abu Sufyan (yang dicocok-cocokkan agar sesuai dengan jalan cerita) yang ditokohkan sebagai Palmire, anak dari Zopire sekaligus istri Séide.

Séide, anak angkat Mahomet yang juga mantan budak, diperintah oleh Mahomet untuk membunuh Zopire, seorang kepala suku di Mekah. Imbalannya, Séide boleh mengawini Palmire, sosok perempuan yang ia cintai. Termotivasi oleh imbalan serta rasa fanatik bahwa perkataan Mahomet adalah perintah ilahi, akhirnya Séide pergi ke Mekah dan berhasil membunuh Zopire.

Di bagian akhir naskah, kedua orang budak yang saling mencintai itu (Séide dan Palmire) mendapatkan informasi bahwa ternyata, mereka adalah dua kakak beradik yang hilang diculik untuk dijadikan budak oleh Mahomet. Sedangkan Zopire yang harus dibunuh oleh Séide, adalah ayah mereka yang sebenarnya.

Emosi Séide tentu saja membuncah, dan berusaha membunuh “sang nabi palsu bermuka dua” atas kejahatannya. Namun, usahanya gagal karena ia mati diracun oleh ayah angkatnya, yang berusaha menyingkirkan Séide karena juga mencintai Palmire. Maka, tinggallah Palmire yang terjebak dalam pernyataan cinta Mahomet. Palmire, tentu saja menolak mentah-mentah dan memilih bunuh diri. Mahomet pun akhirnya merana, karena kehilangan cinta sejatinya.

Meski didasarkan atas dalih bahwa drama tersebut merupakan satire terhadap perilaku gereja Katolik, namun penggunaan sosok Nabi Muhammad tentu menunjukkan bagaimana gambaran gereja dan masyarakat Eropa di abad ke-18 terhadap kepribadian Rasulullah. Bahwa, Nabi Muhammad merupakan penjahat tak bermoral yang rela melakukan segala cara demi kekuasaan. Poligami Nabi Muhammad, juga dijadikan bukti bahwa Rasulullah hanyalah seorang pria dengan hasrat tak terkendali. Menurut gereja, hal ini tentu saja sangat tidak bermoral jika dibandingkan dengan Yesus yang hidup membujang.

Hanya dalam waktu tiga hari, gereja kemudian menyadari satire Voltaire tersebut dan melarang pementasannya. Pada 1745, sosok yang sangat berpengaruh di masa Age of Enlightment itu kemudian menulis surat kepada Paus Benoit XIV di Italia sembari bermanis muka dan memuji sang Paus dengan sebutan “kepala agama sejati” dan kembali menghina Nabi Muhammad sebagai “pendiri sekte palsu dan barbar”. Meski Voltaire telah merendahkan sosok Nabi Muhammad dengan seburuk-buruknya pencitraan, namun pelarangan atas dramanya tidaklah dicabut hingga tahun 1751.

Pembacaan atas biografi Voltaire lebih lanjut kemudian berusaha membangkitkan simpati kita, bahwa di akhir hayatnya, tokoh yang menganut ajaran “deisme” itu banyak memuji keindahan konsep agama Islam serta kemuliaan sosok Nabi Muhammad. Namun tentu saja si kafir Voltaire terus menanggung “dosa jariyah” karena telah menginspirasi penghinaan-penghinaan serupa atas sosok Nabi Muhammad, yang bahkan masih terus berlangsung di abad ke-21 ini.

Pada tahun 2005, drama Voltaire tersebut dipentaskan kembali di Saint-Genis-Pouilly. Tentu saja hal ini memicu protes besar. Namun sang kepala daerah, Hubert Bertrand, tetap teguh mementaskannya dengan penjagaan polisi. Di tahun yang sama, kita pun akan disuguhkan memori penghinaan Nabi Muhammad dalam karikatur yang dimuat oleh surat kabar terbesar Denmark, Jyllands-Posten, yang bahkan juga memicu protes besar-besaran di Indonesia. Setahun setelahnya, Charlie Hebdo, surat kabar mingguan asal Prancis, dengan berani mencetak ulang karikatur karya tersebut.

Dan akhirnya, kita masih harus menghadapi kenyataan di tahun 2020. Bahwa Prancis, “top five” negara Eropa dengan penduduk muslim terbesar, masih mengizinkan terjadinya penghinaan itu dengan dalih kebebasan berpendapat. Dan lagi-lagi, OKI tak bisa diharapkan untuk mengangkat kemuliaan umat Islam. Yang OKI lakukan, hanyalah mengecam dan berkomentar, bahwa apa yang dilakukan Prancis akan merusak hubungannya dengan umat Islam di masa depan.

Berbagai kenyataan hari ini, tentu membangkitkan berbagai pertanyaan di benak kita. Jadi, institusi apa yang mampu mengangkat martabat dan kemuliaan umat Islam?[]

Momen ketika Charlie Hebdo ditampilkan di gedung pemerintah Prancis untuk mengenang kematian Samuel Paty. Sumber gambar: https://www.independent.co.uk/ dan https://www.arrahmah.com/
Headline Jyllands-Posten (kiri). Salah satu gambar yang menonjol penggambaran dengan sorban bersumbu (bom). Sindiran atas umat Islam yang mengekang kebebasan berpendapat (kanan). Sumber gambar: https://en.wikipedia.org/wiki/Jyllands-Posten_Muhammad_cartoons_controversy dan https://02varvara.wordpress.com/2010/01/21/12752/danish-cartoons/
Berbagai aksi protes oleh berbagai elemen umat Islam pada 2005 (kiri). Demo yang terjadi di Istanbul atas berbagai kasus Islamofobia yang mendapat legitimasi pemerintah Prancis (kanan). Sumber gambar: https://www.spiegel.de/international/europe/drawn-out-danish-caricaturist-of-muhammad-fame-now-homeless-a-536544.html , http://live.outlookindia.com/website/story/the-cartoon-controversy/230070/?next , dan https://iqna.ir/en/news/3472548/turkish-people-hold-rally-to-condemn-french-magazine%E2%80%99s-offensive-cartoons

Sumber:

https://dunia.tempo.co/read/1384246/5-poin-utama-dalam-teror-majalah-charlie-hebdo

https://parstoday.com/id/radio/programs-i78746-nabi_muhammad_saw_dalam_pandangan_orientalis_(4)

https://seleb.tempo.co/read/273294/voltaire-fanatisme-dan-islam

https://www.cnnindonesia.com/internasional/20201024162205-120-562347/oki-

sebut-kasus-charlie-hebdo-ancam-hubungan-muslim-prancis

https://www.dw.com/id/survei-populasi-muslim-di-eropa-akan-meningkat/a-41598756

https://www.goodreads.com/book/show/6631107-le-fanatisme-ou-mahomet-le-proph-te

https://www.pojokseni.com/2016/08/voltaire-dan-naskah-drama-yang-menghina.html

https://www.spiegel.de/international/europe/drawn-out-danish-caricaturist-of-muhammad-fame-now-homeless-a-536544.html

https://yaleglobal.yale.edu/content/blame-it-voltaire-muslims-ask-french-cancel-1741-play

Share the idea

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *