Sejarah

Surat Cinta Sang Sultan yang Baru Terbalas Setelah 46 Tahun

Share the idea

Tidak sedikit penguasa kita di Nusantara dulu yang di dadanya tersemat Orde van Oranje-Nassau, sebuah medali yang disangkutkan oleh Ratu Belanda di Eropa sana. Dengan tersematnya medali itu, biasanya tak terlalu sulit bagi kita untuk menilai orientasi politik dan loyalitasnya. Biasanya yah.. buat penjajah.

Tapi ketika ada beberapa sultan di negeri ini yang mendapat kehormatan dari Khilafah ‘Utsmaniyyah untuk dianugerahkan Mecidiye nişanı, medali Majidi; sudah barang tentu mereka adalah sultan yang luar biasa.

Gayret, Sadakat, Hamiyet. Terukirlah 3 kata tersebut di medali Mecidiye yang memiliki makna bahwa sang penerima medali telah menunjukkan semangat juangnya (gayret), terbukti benar (sadakat), dan mendapat perlindungan dari Khalifah (hamiyet).

Sultan Muhammad Fakhruddin (Sultan Jambi), mengirim anaknya, Pangeran Thaha Djayaningrat “Saifuddin” (yang naik takhta pada 1855), untuk dididik di Aceh, yang saat itu berada di bawah pemerintahan Sultan Manshur Syah, penguasa Aceh yang tunduk dan bahkan juga mengirim surat serta utusan ke Istanbul.

Beruntunglah Sultan Thaha Saifuddin – seorang sultan dari Jambi yang menyatakan loyalitasnya kepada Khilafah ‘Utsmaniyyah dan berbaiat padanya mendapat kemuliaan dari khalifah berupa anugerah medali ini.

Pemberian medali itu jelas bukan kebetulan. Pada awal tahun 1904, Sultan Thaha Saifuddin mengirim utusan ke Istanbul, yakni Tumenggung Perdana Menteri Kemas Haji Abdul Karim, untuk meminta bantuan kepada Sultan Abdul Hamid II dalam melawan Belanda. Tanpa diduga, ketika utusannya sedang dalam perjalanan ke Istanbul pada April 1904, pasukan Belanda berhasil menyergap Sultan Thaha dan membunuhnya di pedalaman Jambi. Sultan Thaha pun syahid di usia 88 tahun.

Sementara itu, Kemas Haji Abdul Karim berhasil menyampaikan suratnya ke hadapan Sultan Abdul Hamid II. Kepada sang Khalifah, dengan penuh haru ia menyampaikan, bahwa sebelum wafatnya, Sultan Thaha senantiasa menyampaikan kepada rakyatnya, bahwa,

“Kita semua berada di bawah lindungan pemimpin kaum Muslim, Paduka Khalifah, Amirul Mukminin. Insyaallah, kita akan segera mendapat kabar bagus dari Paduka kita Yang Mulia, Sang Amirul Mukminin”

Sultan Abdul Hamid sangat tersentuh, ketika mendengar betapa Sultan Thaha itu begitu teguh dan husnudzon kepada Khilafah ‘Utsmaniyyah.

Khalifah umat Islam itu kemudian memberikan medali kepada Sultan Thaha, yang dititipkan kepada sang utusan dari Jambi, yakni Kemas Haji Abdul Karim.

Tentu saja, medali Mecidiye dari Sultan Abdul Hamid II ini tidak pernah sampai kepada Sultan Thaha yang telah syahid sebelumnya.

Adapun Kemas Haji Abdul Karim, dalam perjalanan pulangnya mendapat kabar bahwa Jambi sudah dikuasai Belanda. Akhirnya, beliau memutuskan untuk menetap di Johor Bahru, tentu bersama medali Mecidiye yang dibawanya. Setelah wafatnya, medali tersebut terus dijaga oleh keturunannya yang tinggal di Johor, Malaysia.

Kini, medali Khilafah untuk Sultan Jambi itu, tersimpan di Museum Siginjai, Jambi. Ketika Lembaga Adat Batanghari menemui keturunan Kemas Haji Abdul Karim yang menyimpan medali itu dan meminta izin atasnya, akhirnya mereka melepasnya dengan berurai air mata.[]

___

Uniknya, Sultan Thaha dari Jambi juga pernah mengirimkan surat kepada Sultan Abdul Majid I pada 1858 – hanya 3 tahun setelah ia naik takhta. Dan pada 1904, ia pun kembali mengirim surat kepada khilafah, yang saat itu sedang dipimpin oleh

Sultan Abdul Hamid II.

Fakta ini, jelas membuat kita membisu. Manusia mana yang begitu setia dan senantiasa berhusnudzon kepada khilafah hingga 46 tahun lamanya???

Nicko Pandawa dan kru film “Jejak Khilafah di Nusantara” mengamati Medali kehormatan dari Khalifah Abdul Hamid II. “Bintang Turkidi Museum Siginjai, Jambi.

Sumber:

Nicko Pandawa. 2021. Khilafah dan Ketakutan Penjajah Belanda. Komunitas Literasi Islam: Bogor.

Share the idea

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *