Nasib Para Abu Jahal Modern

Share the idea

Meski digelari Abu Jahal (Bapak kebodohan), Amr bin Hisyam (nama asli Abu Jahal) bukanlah orang bodoh. Ia sangat pintar, hingga mengantarkannya menjadi tokoh terpandang bagi orang-orang Quraisy.

Namun, kepintarannya justru ia gunakan untuk menentang Islam. Meski beberapa kali sempat tertangkap basah mendengarkan lantunan ayat suci al-Qur’an dengan sengaja (karena kagum), namun Abu Jahal tetap ngotot mempertahankan kekafirannya.

Perkenalkan juga, inilah Ghazi Mustafa Kemal Pasha Ataturk. Tingkahnya memang seperti anak-anak: lucu, imut, dan menggemaskan.

Nama lahirnya ialah Mustafa (hanya Mustafa), yang merupakan salah satu panggilan Nabi yang berarti “manusia pilihan”. Meski menyandang nama Mustafa, ia memiliki rasa iri dan benci yang demikian besar terhadap sosok baginda Nabi Muhammad.

Mustafa juga bukan orang yang bodoh. Sebaliknya, ia sangat pintar. Bahkan nama Kemal (yang berarti kesempurnaan) adalah nama yang diberikan oleh guru matematikanya karena berhasil meraih prestasi akademik yang bagus ketika menempuh sekolah militer setingkat SMP. Ia lulus dengan gelar kehormatan dan nilai tertinggi dalam ujian akhir.

Sayangnya, kepintarannya ia gunakan untuk menghancurkan Khilafah. Akibat berbagai perbuatannya, Syekh Abdul Qadim Zallum dalam buku “Kayfa Hudimat al-Khilafah?” (diterjemahkan oleh Pustaka al-Izzah dengan judul, “Konspirasi Barat Meruntuhkan Khilafah Islamiyah” dan Al-Azhar Press dengan judul, “Malapetaka Runtuhnya Khilafah”), bahkan menyatakan bahwa Mustafa Kemal sudah dapat digolongkan sebagai seorang murtad,

“Dengan demikian, tidaklah mengejutkan bila seorang Mustafa Kemal menyatakan perang melawan Islam yaitu murtad dari Islam, tanpa seorang pun yang menerapkan hukum syara’ kepadanya…”

Meski banyak rakyat Turki yang mengidolakannya, namun nasib hidupnya cukup tragis.

Menurut catatan Dhabith Tarki Sabiq dalam bukunya, “Ar-Rajul ash-Shanam, Kamal Attaturk” (diterjemahkan dan diterbitkan oleh Senayan Publishing dengan judul, “Kamal Attaturk: Pengusung Sekularisme dan Penghancur Khilafah Islamiah”), menjelang akhir hidupnya, Mustafa mengalami kompleksitas penyakit, seperti gagal hati (sirosis), sipilis (Raja Singa), dan gonorea (kencing nanah).

Saat meninggal (November 1938) berat Mustafa Kemal hanya 48 kg (foto kanan). Sangat berbeda jauh dengan perawakannya di tahun 1936 (foto kiri), meski hanya berselang 2 tahun.

Mustafa Kemal di tahun 1936 (kiri) dan ketika meninggal (kanan). Sumber gambar: https://isteataturk.com/Kronolojik

Sebelum dilanjutkan, mari kita mampir dan berkenalan juga dengan sosok manis yang satu ini. Meski berparodi sebagai Abu Janda, bukan berarti ia bodoh. Sebaliknya, track record nya di dunia internasional cukup epic.

Walhasil, sosoknya sering menjadi pusat kutukan. Jika sampai akhir hayatnya ia belum bertaubat, maka tentu saja kita dapat mengetahui bagaimana nasibnya di akhirat kelak.

Dan tibalah kita di sesi utama. Inilah “The Real Abu Janda” sekaligus “Abu Jahal”. Tak lain dan tak bukan, adalah Abdoel Rivai, salah satu sosok dalam cover buku “Khilafah dan Ketakutan Penjajah Belanda” karya Nicko Pandawa.

Abdoel Rivai, pendiri dan redaktur surat kabar Bintang Hindia. Sumber: Abdoel Rivai, arts en redacteur van Bintang Hindia en andere tijdschriften, op nieuwjaarsdag 1902, vermoedelijk te Amsterdam”, Universiteit Leiden, Digital Collection, KITLV, Image Code 122953

Ia adalah seorang pegiat media cetak di era kolonial. Dengan nama “Bintang Hindia” dan “Pewarta Wolanda”, media yang ia usung bertujuan untuk mendekatkan bangsa pribumi dengan “bangsa toewannja” (yakni para penguasa kolonial Belanda) dan tentu saja, untuk “mencoba mengurangi pengaruh Turki atas kaum muslim di Hindia-Belanda” (invloed te verminderen door Turkije op vele Mohamedanen in Indiё).

Layaknya Amr bin Hisyam, Mustafa Kemal, dan Abu Janda. Abdoel Rivai, bukan orang bodoh. Ia adalah seorang dokter lulusan School tot Opleiding van Inlandsche Artsen (STOVIA, Sekolah Pendidikan Dokter Hindia) di Batavia.

Setelah lulus pada 1894, ia tinggal di Medan dan membuka praktik kedokteran di sana. Ia kawin dengan seorang janda muda Belanda. Orangtua Rivai kemudian memutuskan hubungan dengannya, karena menganggap Rivai sudah menjadi kafir.

Simak sepak terjang dan pengaruh pemikirannya dalam buku “Khilafah dan Ketakutan Penjajah Belanda” karya Nicko Pandawa. Saking hebatnya, bahkan pemikirannya mampu mengalahkan pengaruh murid-murid Snouck Hurgronje. Selamat membaca!

Share the idea

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *