Konflik Muslim Dan Non-Muslim Di Masa Khilafah: Benarkah ‘Utsmaniyyah Terlibat Genosida Armenia?

Share the idea

Bangsat,

Kalau engkau masih meneruskan tulisan jahanammu di koran lokal tentang orang Armenia, aku akan menembakkan peluru ke dalam kepala brengsekmu.

Aku tidak peduli kalau itu akan menghabisi nyawaku. Seluruh dunia tahu betapa keparatnya kalian orang Turki, sehingga kalian (merasa) perlu (untuk) mengiklankan diri sebagai domba yang tak berdosa.

Akan tiba saatnya bagi orang Armenia untuk membalas dendam, dan mengutuk bangsa yang tidak beragama dan fanatik seperti kalian, karena mereka akan meledak ke udara akibat kemarahan semua orang Armenia yang berani.

Sekarang, aku sebagai seorang pria (bukan pengecut jahannam seperti engkau) memperingatkanmu, apabila aku melihat kembali artikel-artikel sampah darimu yang menyinggung tentang orang Armenia, kau harus meyakini bahwa itu akan menghabisi nyawamu.

Jadi, WASPADALAH dan hentikan kebohongan-kebohongan babimu, dan jangan lagi menulis sampah apapun ke dalam koran.”

Demikianlah, sebuah surat ancaman brutal yang dilayangkan kepada sang konsul Khilafah di Hindia-Belanda (Indonesia), Refet Bey.

Surat yang ditulis pada 1915 sebagai anonim dengan gambar senjata api di akhir suratnya, menunjukkan dahsyatnya konfrontasi antara orang-orang Armenia dengan pemerintahan ‘Utsmani. Ketegangan itu, bahkan turut meninggalkan jejaknya di negeri ini.

Surat ancaman tersebut sebenarnya adalah sebuah respon atas pernyataan dari Refet Bey yang mengklarifikasi isu-isu miring melalui koran lokal dan membela Pemerintahan ‘Utsmaniyyah terkait permasalahan Armenia dan sikap negaranya terhadap warga non-Muslim.

“Semenjak lahirnya negara ‘Utsmaniyyah tujuh abad yang lalu sampai hari ini, Pemerintah Turki tidak pernah mengganggu kebebasan beragama kaum Kristen dan Yahudi, baik secara tersirat maupun tersurat….”

Isi surat ancaman yang disebut di awal, tak ayal memberikan kita berbagai pertanyaan lanjutan:

Mengapa konfrontasi yang terjadi bisa sedahsyat itu? Bukankah Armenia pernah masuk ke dalam wilayah Khilafah? Siapa yang sebenarnya bertanggung jawab atas tragedi yang menimpa orang-orang Armenia?

Sebelum benang merah atas peliknya masalah ini dijelaskan, izinkan kami menceritakan sebuah kisah menarik di Eropa sana.

Tahun 1714, Royal Society (sebuah perkumpulan ilmuwan Eropa) mendapat kiriman surat dari Emanuel Timoni tentang teknik variolasi yang ia saksikan di Istanbul (Ibu Kota Khilafah ‘Utsmaniyyah). Selang dua tahun, pada 1716, seorang yang bernama Giacomo Pylarini juga mengirimi surat serupa kepada Royal Society tentang teknik variolasi. Namun, dua surat itu tidak menarik minat Royal Society terhadap teknik variolasi yang dikembangkan Khilafah.

Adalah Lady Mary Wortley Montagu (1689-1762) yang berhasil mengubah kondisi itu. Ia adalah bangsawan keturunan Kerajaan Inggris yang hidup kala wabah penyakit mengerikan, smallpox (cacar), menjamur. Meski ia mengalami sendiri ganasnya penyakit ini dan berhasil sembuh pada 1715, kakak laki-laki yang ia sayangi tak terselamatkan setelah berjuang 18 bulan melawan penyakit mengerikan yang sama.

Mendengar teknik variolasi yang sedang berkembang, pada tahun 1717, ia dan suaminya melakukan kunjungan kerajaan ke Istanbul. Setelah beberapa pekan hidup di ibukota Khilafah, ia berkirim surat kepada seorang kawannya, yang berisi kekaguman atas pengobatan yang dilakukan oleh dokter-dokter Khilafah ‘Utsmaniyyah.

Melihat teknik itu, lantas ia pun bertekad untuk mencobanya. Setelah uji coba sukses terhadap anaknya sukses, mulai dari bangsawan, anak yatim piatu, hingga tahanan, Kerajaan Inggris secara masif memutuskan menggunakan teknik variolasi itu.

Meski kisah Lady Montagu cukup dikenal di kalangan bangsawan, namun uniknya, program ini tak lantas langsung digunakan di seluruh Eropa.

Di Rusia misalnya, meski pada 1762 memiliki ratusan orang yang sekarat akibat wabah cacar ini, mereka tak langsung melakukan variolasi dengan alasan efek samping yang saat itu masih belum jelas. Dalam kasus Prancis, prosedur ini dilarang karena dianggap bertentangan dengan ajaran agama.

Namun karena jumlah korban terus meningkat, akhirnya Catherine II sebagai penguasa Rusia, menginisiasi variolasi yang dimulai dari diri dan keluarganya. Karena programnya sukses, karaguan itu hilang dan dengan cepat menurunkan tingkat penyebaran wabah akibat meningkatnya jumlah penduduk yang divariolasi. Inisiatif ini dipuji Friedrich II dari Prusia (Jerman), yang menyamakannya dengan tindakan mulia Lady Montagu di masa lalu.

Lain Rusia, lain Prancis. Nasib naas justru menimpa Raja Louis XV, yang meninggal pada 10 Mei 1774 akibat cacar. Catherine II, kemudian menyombongkan prestasinya dalam suratnya tertanggal 19 Juni 1774 yang ia kirimkan kepada koleganya, Friedrich Melchior. Ia menulis, “Raja Prancis seharusnya malu akibat meninggal karena cacar di abad ke-18 (The French King ought to be ashamed of dying from smallpox in the 18th century).”

Menariknya, Catherine II tersebut adalah Catherine yang sama dengan penguasa Rusia yang menggencarkan perlawanan akbar melawan Khilafah.

Sebagai awalan, inilah yang dituliskan dalam buku “Khilafah dan Ketakutan Penjajah Belanda”,

“Ironisnya, millet-millet ini dijadikan celah oleh Barat untuk memecah belah antara warga Muslim dan non-Muslim di tengah-tengah rakyat ‘Usmāniyyah. Rival Khilāfah ‘Usmāniyyah, Kekaisaran Rusia yang memeluk Kristen Ortodoks, menganggap dirinya sebagai reinkarnasi dari Kerajaan Suci Romawi (Holy Roman Empire). Moskow bisa saja bernasib sama dengan Konstantinopel yang ditaklukan Islam jika Kekaisaran Rusia mengabaikan agama Kristen Ortodoks. Oleh karena itu, Ratu Rusia, Catherine II (1729-1796) menggencarkan identitas Kristen Ortodoks sebagai identitas negaranya dan berniat untuk menjadi pelindung para pemeluk Kristen Ortodoks di seluruh dunia. Catherine mengundang warga ‘Usmāniyyah yang beragama Kristen Ortodoks di Yunani dan Armenia untuk tinggal di wilayah Rusia. Banyak dari mereka yang akhirnya memenuhi undangan Ratu Catherine ini. Para pencetus nasionalisme Armenia dan Yunani kelak, seperti Mikayel Nalbandian misalnya, banyak berasal dari warga ‘Usmāniyyah pemeluk Kristen Ortodoks yang pindah ke Rusia.”

Beberapa fakta terpisah itu, hanyalah sebuah pembuka atas konflik panjang yang hari ini kita kenal dengan peristiwa genosida Armenia.

Berbagai hal tersebut, tak ayal juga memberikan kita rentetan pertanyaan lanjutan: Mengapa konfrontasi yang terjadi bisa sedahsyat itu? Bukankah Armenia pernah masuk ke dalam wilayah Khilafah? Siapa yang sebenarnya bertanggung jawab atas tragedi yang menimpa orang-orang Armenia?

Dan tentu saja, termasuk pertanyaan utama yang termuat dalam judul, “Benarkah ‘Utsmaniyyah terlibat Genosida Armenia?”

Simak jawabannya di buku “Khilafah dan Ketakutan Penjajah Belanda” yang ditulis oleh Nicko Pandawa.

Share the idea

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *