Mengapa Komunisme Gagal Memerdekakan Manusia?

Share the idea

Tanah Eropa bergejolak tatkala kekuasaan kapitalis para raja digoyang-goyang oleh pemikiran-pemikiran radikal yang anti-kapitalis. Orang-orang seperti Claude Henri Saint Simon (1760), Robert Owen (1771-1858), Charles Fourier (1772-1837), maupun Wilhelm Wailting (1808-1871) terus menyerukan keadilan yang sama rasa sama rata dan keharusan memberontak terhadap kaum kapitalis. Namun karena ketidakjelasan analisis yang mereka lakukan atas penderitaan yang dialami kaum buruh, menjadikan konsep sosialisme mereka hanya sekedar mengawang-awang alias utopia. Inilah yang lebih kita kenal sebagai “sosialisme utopis”.

Menanggapi problema itu, muncullah Karl Marx (1818-1883) yang menelurkan “sosialisme ilmiah” di mana ia memberikan pokok perhatian lebih pada konsep tentang relasi-relasi antar-manusia dalam proses produksi, yang kemudian kita sebut dengan “Marxist Humanism”.

Pemaparan Marx yang menyeluruh tentang manusia, alam semesta, dan kehidupan serta hubungan antara ketiga hal itu dengan apa-apa yang terjadi sebelum dan sesudahnya, selalu ia kembalikan kepada materi.

Materi! Materi! Materi! Jika orang Islam mengucapkan “inna lillahi wa inna ilaihi raaji’uun”  (sungguh kita ini berasal dari Allah dan kepada-Nya jua kita akan kembali), maka Marx serta pengikutnya akan berkata “inna lil-maddah wa inna ilaiha raaji’uun” (sungguh kita ini berasal dari materi dan kepada materi jua kita akan kembali).

Untuk memunculkan perubahan, maka materi-materi yang ada akan saling bertentangan (dialektika), yang kemudian konsep ini dinamakan materialisme dialektis. Proses pertentangan yang terus berlangsung sepanjang hayat peradaban manusia, oleh Marx dinamakan dengan materialisme historis.

Ramalan “materialisme historis” yang disabdakan Marx, seolah menemukan pembenarannya tatkala Vladimir Ilyich Ulyanov alias Lenin (1870-1924) mengadopsi pemikiran Karl Marx dan sedikit memodifikasinya dalam dogma politik. Pertentangan sosialisme Lenin dengan kapitalisme Pemerintahan Tsar Rusia dan pemerintahan transisi setelahnya, pada puncaknya memunculkan apa yang kemudian dikenal sejarah sebagai Revolusi Bolshevik di tahun 1917.

Setelah revolusi besar itu, untuk pertama kalinya Lenin melembagakan Marxisme dalam bentuk negara yang mengembangkan kepemimpinan “diktator ploretariat”. Kenyataan ini sangat kontradiktif. Erich Fromm mempertanyakan, apa bedanya pembangunan di dunia sosialis-komunis dengan pembangunan di dunia kapitalis, jika negara sama-sama digunakan untuk membangun monopoli industri yang dipimpin oleh suatu organisasi manajerial (negara) dengan metode sentralis dan industri birokratis?

Keresahan atas diktator ploretariat ala Lenin di kalangan kaum sosialis lain memunculkan “firqah” komunis baru bernama New Left (Kiri Baru). Aliran ini menekankan pada faktor kesadaran. Mereka juga menggagahkan diri sebagai “Marxis garis lurus” yang hendak mengembalikan ajaran Marx ke jalan yang lurus setelah dibengkokkan oleh Lenin dengan diktator ploretariat-nya. Walau begitu, angan-angan mereka kandas tatkala kaum Kiri Baru yang diwakili kelompok Brigade Merah di Italia tak tahan dengan syahwat untuk menggelar aksi-aksi kekerasan, aktivitas yang jelas berlawanan dengan manifesto mereka sendiri.

Di negeri ini Marxisme juga menjalani sepak terjangnya, bahkan dengan penuh kelucuan tatkala mereka mencoba merevisi pandangan mereka menjadi “sosialisme-religius”. Ketika Hendricus Josephus Franciscus Marie (H.J.F.M) Sneevliet, seorang Komunis Belanda, tampil ke muka dengan wajah imutnya untuk melawan Kapitalisme Pemerintah Kolonial, banyak orang-orang Jawa yang kagum padanya. Bisa-bisanya ada orang Belanda dengan teori-teori Marxisme-nya membela mati-matian kaum pribumi dan rela melepaskan pekerjaannya yang bergaji sangat besar.

Di antara yang kagum kepada sosok Sneevliet itu adalah beberapa aktivis Sarekat Islam seperti Semaun, Alimin, Darsono, Haji Misbach, Mas Marco, dan lain-lain. Mereka pun ‘ngaji’ komunisme kepada Sneevliet, dan kemudian mendirikan ISDV (Indische Sociaal Democratische Vereniging) yang nantinya menjelma sebagai PKI.

Haji Misbach misalnya, dengan serampangan menyamakan konsep masyarakat tanpa kelas ala Marx dengan baldatun thayyibatun wa rabbun ghafur”, di mana di dalamnya kaum mustadh’afin lah yang akan berkuasa. Ia berkata, “seharoesnjalah orang Islam jang sedjati menjokong kepada maksoednja komoenisme.”

Pemikiran Haji Misbach yang menggado-gado Komunisme dengan Islam sering kali dikutip oleh para aktivis kekiri-kirian zaman now. Padahal, mereka sering menyindir kaum Islamis yang merambah pada persoalan politik dan pemerintahan  dengan tuduhan “jualan agama”. Tapi dalam kenyataannya, kita menemukan mereka yang mengklaim diri sebagai sosialis-religius lebih terang-terangan menjual agama mereka kepada doktrin materialisme-dialektika-historis yang menihilkan keberadaan Sang Pencipta. Absurd!

Barang tentu kaum sosialis-marxis-religius ini akan galau tujuh turunan untuk men-sintesis-kan pandangan agama dari Marx dengan agama itu sendiri, yang pada kasus kita tentu saja adalah Islam. Secara tegas, Marx yang sering dianggap nabi yang telat turun itu, bersabda dalamContribution to the Critique of Hegel’s Philosophy of Law,

“Kesengsaraan agamis mengekspresikan kesengsaraan riil sekaligus merupakan protes terhadap kesengsaraan itu. Agama adalah keluhan para makhluk tertindas, jantung-hati sebuah dunia tanpa hati, jiwa untuk keadaan tak berjiwa. Agama menjadi candu rakyat. Menghapuskan agama sebagai kebahagiaan ilusioner untuk rakyat, berarti menuntut agar rakyat dibahagiakan dalam kenyataan. Maka tuntutan agar kita melepaskan ilusi tentang keadaan yang ada, menjadi tuntunan agar kita melepaskan keadaan di mana ilusi itu diperlukan.”

Baiklah jika para aktivis kiri itu benar- benar kaffah dalam ke-marxis-an mereka. Benar-benar menafikkan keberadaan Allah dalam kehidupan mereka. Juga begitu sungguh-sungguh untuk merealisasikan “cita-cita luhur” mereka dalam membangkitkan sebuah masyarakat tanpa kelas. Namun kawan, sungguh kenyataan hari ini berkata lain.

Apa yang kita dapati hari ini pada kalangan sosialis, sungguh suara perjuangan membela kaum proletar mereka kini telah redup, diganti dengan suara dengkuran pulas karena kini mereka sudah tertidur nyenyak di bawah kekuasaan rezim yang jelas-jelas kapitalis dan neo-liberalis. Meminjam pendeskripsian Isaiah Berlin, mereka telah membentuk sebuah persenyawaan sok ilmiah dengan keangkuhan, penuh paradoks dari hal-hal yang tak jelas ujung pangkalnya, dan sok prasasti yang dibungkus dengan prosa aliteratif dari permainan kata.

Kaum kiri di Indonesia telah mati dalam metodenya yang kebingungan. Gerakan ekstra-parlementernya yang berkiblat pada sosialisme otoritarian sudah tak relevan dengan kondisi kekinian. Mari kita lihat kaum buruh, yang dilegendakan sebagai kekuatan inti revolusi. Seiring perjalanan waktu, toh mereka tidak lagi menampakkan keciriannya sebagai ploretariat miskin, melainkan ploretariat yang semakin bersosok “karyawan” dan borjuasi.

Kita dapati pula kaum kiri yang menjadikan parlemen sebagai wadah tempatnya berjuang, yang dikenal dengan aliran “sosialis-demokrasi” (sosdem), tidak menampakkan sesuatu kecuali pengkhianatan ideologi.

Mari kita tengok Uni-Eropa. Pada awal milenium kedua, banyak negaranya yang mengadopsi sosialisme-demokrasi, termasuk tiga negara utama: Inggris (Tony Blair – Partai Buruh); Prancis (Lionel Jospin – Partai Sosialis Prancis); dan Jerman (Gerhard Schroeder – Partai Demokratik Sosial Jerman). Namun semua orang bisa melihat dengan mata telanjang, tidak ada bedanya karakter negara-negara itu dengan negara kapitalis.

Kejadian serupa juga terjadi di Indonesia. Partai yang berhaluan marhaen dan sedikit banyak memiliki irisan dengan sosialisme begitu getol menjargonkan dirinya sebagai partainya wong cilik. Namun ketika sudah berkuasa, tanpa tahu malu mereka memainkan sebuah serial sinetron yang berjudul “Perselingkuhan Penguasa dan Pengusaha”.

Sampai hari ini masih bisa kita saksikan drama itu di layar kaca dan layar smartphone masing-masing, tentu dengan membayar listrik dan membeli kuota terlebih dahulu![]

Sumber:

Dipa Nusantara Aidit. 1963. Tentang Marxisme. Akademi Sosial Aliarcham: Jakarta.

Hadji Oemar Said Tjokroaminoto. 2008. Islam dan Sosialisme. Sega Arsy: Bandung.

Vier A. Leventa. 2017. Kejamnya Kapitalisme dan Cengengnya Sosialis-Komunis Batu! [Internet]. Tersedia pada: http://www.pojok-aktivis.com/2017/07/kejamnya-kapitalisme-dan-cengengnya.html?m=1

Share the idea

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.