Ketika Anak Jawi Bersekolah di Konstantinopel

Share the idea

Barangkali konsul Utsmani yang paling menjengkelkan bagi Belanda di Batavia adalah Mehmed Kamil Bey, yang bertugas menggantikan Galib Bey sebagai Konsul pertama Utsmani di Batavia. Meski hanya bertugas selama setahun (November 1897-Desember 1898), aktivitasnya selama di Batavia menyiratkan kesungguhan dalam menanam perasaan anti-Belanda dan memotivasi kaum Muslimin Hindia Belanda untuk berjihad melawan penjajah.

Koran berbahasa Inggris yang terbit di Singapura tertanggal 29 Desember 1898 merangkum sepak terjang perlawanan Kamil Bey, “Dia dengan mencolok tidak hadir dalam upacara penobatan Ratu (Belanda), seolah ingin menunjukkan kepada penduduk pribumi bahwa dia bisa bertindak merendahkan pemerintah Belanda”. Dia juga “Diketahui menggoyahkan kesetiaan dua raja pribumi di Jawa Tengah dan mengirim surat kepada seorang raja di bawah kekuasaan Belanda di Borneo atau Sumatera (Deli) untuk mencoba memengaruhi raja agar mengurangi kesetiaannya (kepada Belanda)…”

Mehmed Kamil Bey yang masih berusia 24 tahun ketika menjadi konsul Utsmani di Batavia ini juga berhasil menyekolahkan beberapa murid Jawi (Turki: Cavalı) di Konstantinopel. Bagi Belanda ini adalah suatu hal yang sangat mengerikan. Orang-orang Muslim Jawa dan Melayu yang belajar di Makkah saja sudah mengerikan, apalagi jika mereka belajar di Konstantinopel yang merupakan pusat gravitasi politik Khalifah. Tentu hal ini jauh lebih menyeramkan lagi.

Seorang wartawan berhasil mewawancarai beberapa murid Jawi ketika mereka sampai di Port Said pada tanggal 13 Juli 1898, “Mereka tahu… bahwa Sultan lebih berkuasa dan lebih kaya dari pada ratu kita. Jika mereka pandai membawa diri, mereka bisa diangkat menjadi penghulu di istana Sultan dan kelak bisa kembali ke tanah air dengan kedudukan itu” (Nieuwe Rotterdamsche Courant, terbitan 5 Agustus 1898).

Pelajar Jawi di Konstantinopel, dua bersaudara Ahmad dan Sa’id bin Abdurrahman bin Abdullah Ba Junayd dari Buitenzorg (Bogor) menggunakan pakaian khas Utsmani seperti tarbus, fez, dan lainnya.

(Sumber foto: Laman Facebook Ottoman Imperial Archives, 19 Februari 2017.)

Dalam koran yang sama diberitakan bahwa orang tua mereka telah menyampaikan terima kasih kepada Khalifah untuk kemurahan hatinya dan bahwa lebih banyak orang Melayu dan Jawa mengajukan permohonan agar anak-anak mereka bisa belajar di Konstantinopel.

Ketika murid-murid Jawi pulang dari Konstantinopel dan berlabuh di pelabuhan Tanjung Priok, kedatangan mereka disambut oleh para pejabat tinggi Utsmani yang ada di Batavia. Para pemuda tersebut memakai pakaian khas Utsmani seperti tarbus, fez, dan lainnya.

Para polisi kolonial yang sudah mengawasi kegiatan penjemputan mereka segera menciduk dan memaksa para pemuda tersebut untuk menanggalkan pakaian mereka “yang tidak sah” ini, bahkan mereka diancam dengan hukuman penjara.

Di mata penduduk Nusantara, Khilafah diletakkan pada posisi yang sangat istimewa. Hal ini sebagaimana yang diungkap oleh Sultan Ibrahim Mansyur Syah sebagai penguasa Aceh, bahwa Khilafah merupakan“tempat perlindungan bagi para pencari kebaikan dan tempat kemurahan yang tidak akan kecewa orang yang mendatanginya.” [] 

Sumber :

Nieuwe Rotterdamsche Courant, terbitan 5 Agustus 1898. Dikutip oleh Jan Schmidt, Pan-Islamisme Antara Porte, Den Haag, dan Buitenzorg, dalam Kekacauan dan Kehancuran: tiga tulisan tentang pan-Islamisme di Hindia-Belanda Timur pada akhir abad kesembilan belas dan awal abad kedua puluh, (Jakarta: INIS, 2003)

Share the idea

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *