Ketika Khilafah Membuka Kantor di Batavia

Share the idea

Setelah mengalami kegagalan dalam pengepungan Kota Vienna pada 1683, Khilafah Utsmani mengalami kemunduran. Kekalahan demi kekalahan terus menimpanya, sementara Eropa semakin bangkit baik dari segi ekonomi, militer dan tentunya teknologi. Bangsa Eropa yang melihat realita musuh abadinya pun akhirnya tertawa terbahak-bahak dan menyematkan gelar ejekan untuk Khilafah Utsmani, yakni “orang sakit Eropa (Sick Man of Europe – de zieke man van Europa)”.

Para sultan Utsmani yang terusik dengan ejekan itu, mencoba mengejar ketertinggalan. Namun bukan dengan jalan Islam mereka mencoba bangkit, melainkan dengan cara Eropa. Perlahan-lahan Khilafah Utsmani mulai mengganti gaya hidup mereka dengan gaya hidup Eropa, sampai mencapai puncaknya ketika Sultan Abdülmecid I mendeklarasikan era Tanzimat pada tahun 1839. Di era tersebut Khilafah Utsmani mulai memberlakukan sejumlah undang-undang Barat di sistem hukumnya. Utsmani telah mengambil “obat” yang akan meracuni tubuhnya sendiri.

Namun, kebangkitan yang diidam-idamkan tak kunjung terlihat. Posisi Khilafah Utsmani semakin terjepit, wilayahnya di berbagai belahan bumi dijajah. Di Nusantara misalnya, Kesultanan Temasek (sekarang Singapura) yang merupakan bagian dari Kekhilafahan akhirnya dicaplok penjajah Inggris, sedangkan Jayakarta (sekarang Jakarta) yang sebelumnya merupakan bagian Kesultanan Banten sudah dicengkeram Belanda dan namanya diganti menjadi Batavia. Sehingga terpaksalah Khilafah membuka kantor konsulat di Singapura pada 1864 dan di Batavia pada 1883.

Semenjak 1619, kota pelabuhan Jayakarta (sekarang Jakarta) di pesisir Jawa sudah dijajah Belanda yang diwakili oleh organisasi VOC. Orang-orang Eropa ini mengganti nama wilayah yang tadinya bagian dari Kesultanan Banten itu menjadi Batavia, merujuk kepada nama nenek moyang bangsa Belanda, Bataaf.

Pembukaan Kantor Konsulat ini semakin masif pada era Sultan Abdülhamid II (1876-1909) yang berkomitmen penuh untuk menjadi pelindung kaum Muslim di mana pun mereka berada. Kebijakan terbaru Khilafah ini berpengaruh kepada umat Islam di seluruh dunia dan membangkitkan perlawanan terhadap penjajah, sehingga menimbulkan kesewotan di kalangan Eropa. Kelak, kebijakan Sultan Abdülhamid II ini disebut sebagai Pan-Islamisme oleh orang Eropa.

Walau dijajah VOC, tidak semua penduduk pribumi terusir dari Batavia. Sebagian dari mereka tetap bermukim di sana, tentu dengan perjuangan untuk bertahan hidup yang besar. Pribumi yang tetap di Batavia lama kelamaan disebut kaum Betawi, pelafalan bahasa Arab untuk menyebut nama ‘Batavia’. 

Sultan Abdülhamid II berusaha berpaling dari pangkuan Barat dan mengakhiri era Tanzimat serta memegang kepercayaan kepada agama Islam sebagai jalan kebangkitan yang hakiki.

Baik Inggris maupun Belanda sebenarnya amat keberatan dengan pembukaan konsulat Khilafah di wilayah jajahan mereka, karena dikhawatirkan para konsul Utsmani (Syahbandarhane) akan membangkitkan – seperti yang dinyatakan Perdana Menteri Belanda Van de Putte kepada Menteri Luar Negeri Belanda, Cremers –“fanatisme yang penuh dendam dan mudah terbakar” di kalangan penduduk terjajah.

Namun karena pihak Inggris dan Belanda sendiri juga ingin membuka kantor konsulat di Iskandariyah, Tunisia, Aleppo, dan Damaskus yang merupakan wilayah Khilafah, maka mau tak mau kedua negara penjajah ini juga mengizinkan Khilafah untuk membuka kantor konsulat di Singapura dan Batavia.

Benar saja, para konsul Utsmani di Singapura dan Batavia sangat membuat mendidih emosi para pejabat Belanda dan Inggris. Menurut Penasihat Urusan Pribumi dan Arab untuk Pemerintah Hindia Belanda Snouck Hurgronje, Pan-Islamisme yang disebar di negeri-negeri kaum Muslim yang berada di bawah kekuasaan Eropa sering merintangi hubungan bersahabat antara si penjajah dan yang dijajah. Jadilah, Pax-Neerlandica-nya Belanda (ketundukan serta ketaatan total dari penduduk tanah jajahan hanya untuk Raja Belanda) terintangi Pan-Islamisme-nya Sultan Abdülhamid II.

Peran para konsul pun tak sebatas melaporkan kondisi jihad melawan penjajah. Galib Bey, konsul Utsmani pertama di Batavia, begitu peduli kepada para jamaah haji Jawa yang baru pulang dari Makkah dan menanyai mereka tentang perlakuan konsul Belanda di Jeddah, akomodasi di kapal, dan sebagainya. Galib Bey dan konsul-konsul setelahnya juga membagi-bagikan Alquran kepada penduduk setempat atas nama Khalifah dan mencetak buku-buku akidah berbahasa Melayu yang dicetak langsung di Konstantinopel.

Salah satu kegiatan Galib Bey yang sering menimbulkan keresahan pejabat Batavia adalah provokasi Galib Bey kepada penduduk Pribumi dan Arab untuk melawan peraturan diskriminatif Belanda yang disebut Orang Timur Asing (vreemde oosterlingen); karena Belanda membagi ‘kasta’ penduduk Jawa menjadi tiga: kelas Eropa (Europeanen); kelas Timur Asing (vreemde oosterlingen) yakni orang-orang Arab, India, Cina; serta pribumi (inlander). Bahkan Galib Bey pernah mengunjungi Aceh dan melaksanakan salat Jumat di Masjid Agung Baiturrahman.

Kelak, peran serta para Konsul Khilafah tidak terbatas hanya dalam urusan-urusan diplomasi, namun juga menyentuh bidang dakwah dan pendidikan. Sebuah hubungan yang sangat istimewa, mengingat keduanya adalah wilayah yang terpisah hingga ribuan kilometer, tanpa dibantu internet, pesawat, dan berbagai teknologi modern lainnya. []

Sumber :

Anthony Reid, The Ottomans in Southeast Asia, (Singapore: Asia Research Institute No. 36, 2005).

Frial Ramadhan Supratman, Before The Etichal Policy, (Al-Jāmi‘ah, Vol. 54, No. 2, 2016); İsmail Hakkı Göksöy, Acehnese Appeals for Ottoman Protection in the Late Nineteenth Century, dalam From Anatolia to Aceh: Ottomans, Turks and Southeast Asia, ed. by A.C… Peacock and Annabel The Gallop (London: British Academy, 2015)

Jan Schmidt, Pan-Islamisme Antara Porte, Den Haag, dan Buitenzorg, dalam Kekacauan dan Kehancuran: tiga tulisan tentang pan-Islamisme di Hindia-Belanda Timur pada akhir abad kesembilan belas dan awal abad kedua puluh, (Jakarta: INIS, 2003)

Snouck Hurgronje, Perang Suci Buatan Jerman (Helige Oorlog Made in Germany) dalam Kumpulan Karangan Snouck Hurgronje, (Jakarta: INIS, 1996)

Surat Van de Putte kepada Cremers, 4 Januari 1866; juga surat Read kepada Cremers, 31 Juli 1865; ARA, B.Z. Dossier 3076, dalam Reid, The Ottomans in Southeast Asia.

Share the idea

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *