Perang Dunia Abad Ke-16: Benarkah Kolonialisme Eropa Disebabkan oleh Pembebasan Konstantinopel?
AWAL MASALAH: JATUHNYA ANDALUSIA, 1492
Kisah ini bermula ketika Andalusia, negeri muslim yang berada di paling ujung Barat, jatuh ke tangan Kristen. Iberia (Semenanjung Spanyol yang hari ini terdiri dari negara seperti Spanyol dan Portugal), itu pernah dikuasai oleh Khilafah semenjak dibebaskan Thariq bin Ziyad pada 711 di masa kekuasaan Bani Umayyah. Selama lebih dari 700 tahun kekuasannya itu, peradaban Islam menjadi mercusuar peradaban Eropa dengan banyak sekali jejak peradaban Islam di Spanyol melalui kota-kota besarnya seperti Cordoba (Qurtubah) dan Madrid (al-Majrit).
Meski demikian, di paling ujung utara Andalusia, masih ada sisa-sisa kekuatan Kristen yang mengonsolidasi kekuatannya dari tahun ke tahun, sehingga mampu membalikkan keadaan ketika kekuatan Islam di Andalusia berpecah belah.
Padahal, Andalusia di masa awal dikuasai oleh satu kekuatan yang sangat kuat di bawah naungan Khilafah Umayyah yang berpusat di Damaskus. Di masa Khilafah ‘Abbasiyyah, Andalusia kemudian menjadi negeri yang menyendiri yang dipimpin oleh Abdurrahman ad-Dakhil dan keturunannya.
Ratusan tahun berikutnya, Andalusia memasuki titik nadir ketika mereka berpecah belah. Dari satu penguasa, menjadi dikuasai oleh sultan-sultan yang saling berkelompok. Layaknya oligarki, ada puluhan keamiran yang mengklaim sebagai penguasa yang berdaulat atas wilayahnya masing-masing.
Era Muluk ath-Thawaif(reyes de taifas) itu, menjadi celah bagi orang-orang Kristen untuk melakukan penaklukan kembali (Reconquista) negeri-negeri di Andalusia untuk kembali ke tangan Kristen. Puncaknya terjadi pada 1492, ketika kota terakhir pertahanan Islam di Andalusia, yakni Granada, jatuh.
Ada dua pemimpin utama Reconquista. Ratu Isabella (Isabel I de Castilla) dan Raja Fernando (Ferdinand II of Aragon). Mereka adalah pasangan suami istri yang menyatukan kerajaannya untuk menyerang Islam.
Seiring semakin kokohnya kekuatan, mereka mampu menguasai konstelasi politik di Andalusia dan memaksa penguasa terakhir Andalusia di Granada, yaitu Sultan Abu Abdullah, untuk menyerahkan kekuasannya. Kita bisa melihat, dalam lukisan ini, Sultan Abu Abdullah memegang kunci kota Granada.
Mengapa Sultan menyerahkan kunci Granada kepada Raja Fernando dan Ratu Isabella? Karena ia dipaksa oleh para fuqoha dan menterinya. Para fuqoha dan wazirnya, justru sangat loyal dan oportunis dengan menganggap penaklukan Kristen terhadap Andalusia itu dapat menjadikan derajat hidup mereka.
Diserahkannya kunci kota menjadi simbol atas jatuhnya Granada berikut seluruh Andalusia. Lebih buruknya, Raja Fernando dan Ratu Isabella juga melancarkan psycho-war dengan tidak hanya menaklukkan kembali, tapi turut memaksa kaum muslimin yang awalnya merupakan penduduk mayoritas di Andalusia, untuk masuk Kristen secara paksa. Naasnya, pemaksaan itu dilakukan dengan pilihan-pilihan yang tidak manusiawi.
- Murtad
- Atau pergi dari andalusia tanpa boleh membawa anak-anaknya
- Atau Dibunuh
Namun ternyata, menguasai Iberia saja tidak cukup. Raja Fernando dan Ratu Isabella ingin menguasai dunia. Maka, antara Raja Spanyol dan Portugal saling bersaing untuk mencari rute-rute baru di luar Andalusia untuk mencari kekayaan dan kedigdayaan Kristen di luar Eropa. Inilah yang menjadi cikal bakal aksi politik Paus Alexander VI melalui Perjanjian Tordesillas 1494.
Apa itu Perjanjian Tordesillas? Ini adalah perjanjian antara Spanyol dan Portugal yang dimediasi oleh Paus Alexander VI.
Spanyol dan Portugal diberi fatwa (papal bull) untuk keluar dari Andalusia dan mencari 3G: Gold (kekayaan), Gospel (injil – penyebaran agama), dan Glory (kejayaan). Tujuan utama mereka adalah India, yang tidak hanya dikenal sebagai pusat rempah-rempah, namun juga menjadi tempat diaspora salah satu dari 12 murid Yesus. Salah satu perintah gereja kepada mereka, adalah untuk mencari keturunan murid Yesus yang ada di India.
Melalui perjanjian ini, Paus membagi dunia menjadi dua, yakni milik Spanyol dan Portugis. Spanyol meliputi dunia Barat: Amerika Utara dan Selatan kecuali sebagian Brazil. Adapun Portugis, menguasai dunia Timur yang meliputi seluruh Asia dan Afrika.
Portugis kemudian mengirim Vasco da Gama ke India. Sesampainya di sana, mereka melihat banyak patung dan candi. Salah satu patung perempuannya, kemudian disangka sebagai patung Bunda Maria.
Adapun Ratu Isabella mengirim Kristoforus Kolumbus, pelaut Italia yang kegirangan karena sangat bergairah untuk menemukan India. Nyatanya, ia nyasar ke Amerika yang masyarakatnya ia sebut sebagai Indian.
Portugis pada dasarnya adalah negara kecil. Namun daya maritimnya sangat kuat, karena itulah yang mereka kembangkan pasca melihat potensi kekayaan di luar Andalusia.
Portugis menaklukkan sepanjang pesisir Barat Afrika, kemudian memutar di bawah Tanjung Harapan di Afrika Selatan, baru mereka menjejajahi Samudra Hindia. Mereka menaklukkan Afrika Barat, lalu naik terus dan menguasai pelabuhan sekitar Yaman, pelabuhan di pesisir India, dan puncaknya mereka menemukan Selat Malaka yang ternyata inilah yang menjadi pusat komersial perdagangan rempah yang menghubungkan Timur dan Barat dunia Islam.
Ketika mereka mengirim armada ke Asia dan Afrika, di wilayah ini sudah ada kekuasaan Islam dan sangat familiar dengan kaum muslimin yang kapal-kapalnya sering berlalu-lalang di sini. Hal ini tentu menjadi ancaman bagi orang-orang Portugis, sebagaimana yang diungkap oleh Alfonso de Albuquerque ketika berhasil menaklukkan Malaka (1511) yang sebelumnya dilindungi oleh Kesultanan Malaka,
“Jasa yang akan kita berikan pada Tuhan kita dengan mengusir orang-orang Moor (penyebutan kaum Kristen Andalusia pada orang Islam) keluar dari negeri ini, adalah memadamkan api dari agama Muhammad, sehingga api itu tidak akan pernah menyebar lagi.
Saya yakin benar, jika kita rampas perdagangan Malaka ini dari mereka (umat Islam), Kairo dan Mekkah akan hancur, dan Venesia tidak akan menerima rempah-rempah kecuali pedagang mereka pergi ke Portugal!”
Terlihat salah satu tujuan Portugis ketika mengusir umat Islam: monopoli perdagangan. Sasarannya, yakni dua kota utama Islam yang disebut, yakni Kairo dan Mekkah. Saat itu, Kairo merupakan ibukota Khilafah ‘Abbasiyyah pasca runtuhnya Baghdad pada 1258, sedangkan Mekkah sendiri adalah pusat Islam. Adapun Venesia, dipandang sebagai mitra dagang spesial orang-orang Portugis.
Akhir-akhir ini, ada pemahaman yang baru populer. Dikatakan, bahwa penjajahan di Nusantara secara tidak langsung disebabkan oleh pembebasan Konstantinopel. Konon akibatnya, al-Fatih menutup jalur dagang dan akses rempah terhadap orang-orang Eropa, sehingga mereka tidak bisa mendapat stok rempah dari Laut Tengah yang menyebabkan mereka harus mencari jalan memutari Afrika sehingga mengantarkan mereka menemukan Nusantara.
Pemahaman ini jelas tidak tepat. Sebab, meski Konstantinopel sudah dalam kekuasaan Islam, mereka tetap boleh berdagang bahkan juga mendapat akses rempah dari pelabuhan-pelabuhan umat Islam, seperti Iskandariyah (Alexandria), Aleppo (Suriah), termasuk dari Istanbul itu sendiri.
Lalu mengapa mereka mencari jalur lain, memutari Afrika, ketemu Tanjung Harapan, dan bertemu Nusantara? Ini tidak lain karena kedengkian, nafsu memonopoli, serta misi agama yang sudah disebutkan di awal. Misi agama tersebut dijadikan legitimasi mereka untuk menaklukkan India, Samudra Hindia, dan Nusantara…
[BERSAMBUNG KE BAGIAN DUA: PEMBENTUKAN ALIANSI JIHAD KAUM MUSLIMIN DI SAMUDRA HINDIA]
SUMBER DAN REKOMENDASI BACAAN:
Abdul Qadir Djaelani, Perang Sabil Versus Perang Salib: Ummat Islam Melawan Penjajah Kristen Portugis dan Belanda, (Jakarta: Yayasan Pengkajian Islam Madinah al-Munawwarah, 1999)
Armando Cortesao (ed.), Suma Oriental Karya Tome Pires: Perjalanan dari Laut Merah ke Cina dan Buku Fransisco Rodrigues, Penerjemah Adrian Perkasa dkk, (Yogyakarta: Ombak, 2015)
Fernao Mendes Pinto, The Travels of Mendes Pinto, (University of Chicago Press, 1989)
Giancarlo Casale, “Tordesillas and the Ottoman Caliphate: Early Modern Frontiers and the Renaissance of an Ancient Islamic Institution”, Journal of Early Modern History, 19 (2015): 485-511
Jack Turner, Sejarah Rempah: Dari Erotisme sampai Imperialisme, Penerjemah Julia Absari, (Depok: Komunitas Bambu, 2011)
Leonard Y. Andaya, The World of Maluku: Eastern Indonesia in the Early Modern Period, (Honolulu: University of Hawaii Press, 1993)
Raghib as-Sirjani, Bangkit dan Runtuhnya Andalusia, Penerjemah Muhammad Ihsan & Abdul Arsyad Shiddiq, (Jakarta: Pustaka al-Kautsar, 2013)
