Sejarah

Apa Jadinya Jika India Ikut Memperjuangkan Khilafah?

Share the idea

Boleen Amma Mohammad Ali se, “Jaan beta Khilafat pe de do!” [1]

Ibu Muhammad Ali berkata, “Anakku! Berikan hidupmu untuk Khilafah!”

Begitulah cara Bi Amman (Abadi Bano Begum) mendidik anak-anaknya yang kelak menjadi pejuang bagi kaum muslimin India. Ya, kedua anaknya, Muhammad Ali Jauhar dan Maulana Shaukat Ali, adalah 2 tokoh penting dari Gerakan Khilafah/Khilafat Movement (1919-1924), sebuah gerakan kepedulian dan dukungan dari kaum muslimin India untuk menolong Khilafah ‘Utsmaniyyah yang babak-belur pasca kekalahannya dalam Perang Dunia pertama.

Alasannya sangat sederhana: bagi kaum muslimin India yang memang punya sejarah ketaatan yang mengakar pada institusi politik umat Islam itu, Khilafah merupakan simbol pelaksana syari’ah dan persatuan kaum muslimin yang keberadaannya tak boleh hilang.[2] Inisiatif atas munculnya gerakan tersebut juga menjadi bukti, bahwa keterikatan India dengan Khilafah bersifat alami, bukan diciptakan atau dikendalikan Khilafah.[3]

Namun masalah terbesarnya adalah, India sedang berada di bawah penjajahan Inggris. Hal ini menyebabkan kaum musliminin yang hidup di anak benua tersebut tidak dapat mengikuti Islam atau Khilafah dengan optimal, karena India tidak berdaulat. Maka, tujuan lain dari Khilafat Movement adalah meraih kemerdekaan India.[3]

Shaukat Ali (kiri), Muhammad Ali Jauhar (kanan)
Ibu Ali bersaudara
Ali bersaudara bersama ibunya

Sebagai gerakan yang muncul pasca Perang Dunia pertama, seruan-seruan pembelaan Khilafat Movement terhadap Khilafah ‘Utsmaniyyah meliputi pemulihan wilayah dan kekuatan Khilafah, melindungi tempat suci umat Islam, dan memastikan bahwa Jazirah Arab, Mesopotamia, serta Palestina harus selalu berada di bawah kekuasan langsung Khilafah.[4] Maka selain untuk menekan Inggris, agitasi-agitasi yang mereka lancarkan juga diharapkan mampu memengaruhi hasil perjanjian pasca perang.[5]

Untuk mengoptimalkan tujuan-tujuan tersebut, Khilafat Movement tidak hanya menggalang dana dan massa dari tiga aliran teologis berbeda (yakni Sunni, Syi’ah, dan Ahmadiyah), namun juga membentuk kerjasama dengan Kongres Nasional India (Indian National Congress/INC), partai nasionalis yang (secara tak langsung) dikomandoi oleh Mahatma Gandhi dengan mayoritas anggotanya beragama Hindu.[6]

Pada Desember 1919, Khilafat Movement dan INC mengadakan pertemuan di Amritsar demi menyiapkan delegasi yang dikirim ke London di bawah kepemimpinan Maulana Muhammad Ali Jauhar. Di Inggris, mereka berencana menemui Perdana Menteri, Anggota Kabinet, dan Anggota Parlemen untuk menjelaskan sudut pandang India tentang Khilafah.[7]

Bagi INC, mendukung perjuangan Khilafah adalah satu-satunya cara mengumpulkan dukungan kaum muslimin untuk memperkuat gerakan nasionalis mereka, yang saat itu sedang memperjuangkan kemerdekaan India melalui gerakan non-kerjasama (non-cooperation movement). Dan bagi umat Islam, bekerjasama dengan kalangan Hindu memudahkan mereka untuk menggalang dukungan massa dalam membela keutuhan ‘Utsmaniyyah. Kerjasama dengan Hindu itu ditegaskan dalam fatwa dibolehkannya membentuk aliansi politik dengan non-muslim yang tidak memusuhi Islam, dengan catatan bahwa kepemimpinan orang kafir atas muslim tidak pernah diizinkan.[2]

Delegasi tiba di Inggris pada tahun 1920. Para pemimpin utusan berpidato di depan House of Commons dan menyaksikan bahwa sang Perdana Menteri, Lloyd George, tidak menghiraukan permintaan mereka.[7] Bahkan bagi Inggris, Khilafat Movement justru dianggap sebagai duri dalam daging yang wajib diwaspadai, karena berpotensi memicu kerusuhan di wilayah jajahan mereka.[3] Meski selama 8 bulan di sana mereka banyak memenangkan banyak hati masyarakat, namun delegasi harus kembali ke India dengan kegagalan pada Oktober 1920.

Emosi kaum muslimin semakin meledak pasca diputuskannya Perjanjian Sèvres yang membagi-bagikan beberapa wilayah ‘Utsmaniyyah kepada negara-negara Eropa. Meski Inggris notabene adalah sang pemenang perang, namun kaum muslimin India merasa terkhianati dengan janji-janji Inggris pada mereka, seperti ‘Utsmaniyyah yang tak akan kehilangan wilayahnya dan jaminan Inggris atas keamanan tempat-tempat suci Khilafah.[7]

Bagaimana Perjuangan Khilafat Movement Berakhir?

Pembacaan lebih lanjut atas akhir perjuangan Khilafat Movement, akan mengaitkan kita pada peristiwa Hijrat Movement (1920), Pemberontakan Malabar/Mappila (1921), dan Insiden Chauri Chaura (1922).

Hijrah Movement, yakni gerakan hijrahnya puluhan ribu kaum muslimin ke Afghanistan karena fatwa bahwa India merupakan darul harb sehingga umat harus hijrah ke wilayah lain yang dianggap sebagai darul Islam, justru menurunkan tingkat kepercayaan kaum muslimin kepada Gerakan Khilafat akibat perencanaan hijrah yang kurang matang.[7]

Adapun Pemberontakan Malabar/Mappila, adalah perlawanan para petani muslim melawan kedzaliman tuan tanah Inggris yang bersekutu dengan elit Hindu. Akibat bentrokan kedua pihak yang tak tertahankan, persatuan kaum muslimin dan Hindu yang sebelumnya telah dipupuk, kembali merenggang.[8] Puncaknya adalah Insiden Chauri Chaura, yang dimulai ketika seorang petugas polisi menyerang beberapa sipil yang sedang berjaga di toko minuman keras. Massa yang bergejolak dalam aksi balasan, membakar kantor polisi yang menyebabkan 21 polisi meninggal dunia. Akibat peristiwa ini, Mahatma Gandhi menghentikan gerakan non-kerjasama.[7]

Namun, peristiwa-peristiwa tersebut seharusnya tidak berdampak serius bagi Khilafat Movement. Pasca dihentikannya gerakan non-kerjasama, eksistensi mereka masih nampak, bahkan mampu memberi dukungan atas ulah Mustafa Kemal yang mendirikan pemerintahan baru di Ankara dan menghapus kesultanan. Mereka menganggap bahwa apa yang dilakukan Mustafa Kemal adalah langkah bagus yang akan menjadikan Khilafah “lebih Islami” dari sebelumnya. Dalam Konferensi Khilafat yang dihelat di Gaya pada 27 Desember 1922, mereka menyematkan gelar Seyfu’l-Islam (Pedang Islam) dan Mujahid-i Khilafat (Pejuang Khilafah) kepada Kemal.

Tokoh-tokoh Khilafat Movement yang berhasil ditipu oleh Kemal ini, sebenarnya bernasib sama dengan ulama-ulama lain di seluruh dunia yang mengalami paradoks serupa, termasuk Indonesia (Hindia-Belanda). Muslihat Mustafa Kemal terungkap setelah ia dengan berani dan terangan-terangan membubarkan Khilafah pada 3 Maret 1924. Ulama-ulama India yang marah besar segera memberi ultimatum keras kepada Kemal, agar ia segera menegakkan kembali Khilafah kalau tidak ingin terjadi sebuah “revolusi berdarah” yang menentang keputusan Ankara itu.[9]

Pembubaran Khilafah itulah yang menjadi pukulan terakhir bagi Khilafat Movement. Sederhananya, jika Khilafah yang selama ini mereka perjuangkan eksistensinya sudah dibubarkan, lantas untuk apa Khilafat Movement ada? Minat dan semangat untuk kembali berdiri sudah hilang, dan tujuan organisasi otomatis juga tidak tercapai.

Namun, bukan berarti perjuangan Khilafat Movement menjadi percuma. Para ulama India terus mengupayakan tegaknya kembali Khilafah, sebagaimana partisipasi mereka dalam Kongres yang diadakan di Mekkah pada Juni 1926.

Uniknya, Ibn Sa’ud –yang dirinya sendiri tidak menghadiri kongres Mekkah dan hanya mengutus perwakilannya– dicecar habis-habisan oleh mereka.

Selain mempermasalahkan kebebasan bermazhab yang terkekang di Tanah Suci di bawah Pemerintahan Wahhabi, para ulama India menggugat bahwa di belakang Ibn Sa’ud adalah Inggris. Kalau bukan Inggris yang bermain, bagaimana akan semudah itu Ibn Sa’ud menjatuhkan Syarif Husayn?[9]

Perjuangan Khilafah yang diusung oleh kaum muslimin India, kemudian meredup dan tertutupi oleh perjuangan kemerdekaan berbasis nasionalisme, sebagaimana yang juga terjadi pada kaum muslimin di belahan dunia lainnya. Bagi kaum sebagian muslimin India, pengalaman yang terjadi selama Khilafat Movement membuka mata mereka atas kebutuhan negara sendiri. Maulana Shaukat Ali, salah satu tokoh sentral Khilafat Movement yang disebutkan di awal, kemudian bergabung dengan Liga Muslim Seluruh India dan menjadi rekan politik sekaligus juru kampanye Muhammad Ali Jinnah, bapak pendiri Pakistan: negeri berpenduduk muslim terbesar kedua di dunia setelah Indonesia.[10]

Wallahu a’lam.[]

Sumber:

[1] https://www.indiatimes.com/news/india/here-s-the-story-bi-amma-a-woman-who-became-one-of-freedom-struggle-s-most-powerful-voices-351239.html

[2] http://www.khilafah.com/lessons-for-the-ummah-on-the-centenary-anniversary-of-the-indian-khilafat-movement-1919-1924-to-protect-the-khilafah/

[3] Reza Pankhurst. 2019. The Inevitable Caliphate? Sejarah Perjuangan Penegakan Khilafah Pemersatu Islam Global Sejak 1924. Penerbit Quwwah: Yogyakarta.

[4] M. Naeem Qureshi. 1999. Pan Islam In British Indian Politics: A Study of Khilafat Movement, 1918-1924.

[5] https://encyclopedia.1914-1918-online.net/article/khilafat_movement

[6] Agus Cahyo Nugroho. 2008. Gerakan Khilafat di India Tahun 1919-1924 M [Skripsi]. Universitas Islam Negeri Sunan Kalijaga: Yogyakarta.

[7] https://historypak.com/khilafat-movement-1919-1922/

[8] Rai Farhatullah. 2015. The Khilafat Movement.

[9] Nicko Pandawa. 2021. Khilafah dan Ketakutan Penjajah Belanda. Komunitas Literasi Islam: Bogor.

[10] https://historypak.com/mualana-shaukat-ali-1873-1938/

Share the idea

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *