Bagaimana Negara Melakukan Terorisme?

Share the idea

Terorisme bukanlah fenomena modern, bahkan telah ada jauh sebelum peristiwa 11 September di New York. Di abad pertama masehi, orang-orang Zelot (kaum Yahudi yang menentang pendudukan Roma atas Palestina) membunuh orang-orang Roma di siang hari di hadapan umum dalam rangka menakut-nakuti pemimpin Romawi di wilayah tersebut.

Di dunia Muslim, terorisme pertama kali dipraktikkan oleh kelompok yang disebut Assassins (Hasyasyin) atau “pemakan ganja”, Syiah militan abad ke-11 yang membunuh orang-orang yang menolak mengadopsi Islam versi mereka. Praktik terorisme terbesar dilakukan oleh bangsa Eropa di masa kolonialisme, saat menginvasi dunia-dunia baru dan merampok sumber daya di dalamnya. Ratusan juta manusia terbunuh karena keserakahan tersebut, terutama di benua Amerika dimana banyak suku asli di sana yang terbunuh karena invasi Eropa.

Pada abad ke-19, kaum anarkis yang menentang bentuk pemerintahan apapun, banyak menggunakan praktik-praktik terorisme, meski ada juga penganut anarkisme yang memperjuangkan cita-citanya dengan cara damai. Beberapa pemimpin dunia pun menjadi korban pembunuhan yang disebut “propaganda perbuatan” oleh kaum anarkis, antara tahun 1881-1901, termasuk Presiden Amerika Serikat William H. McKinley (1843-1901), Presiden Prancis Marie-Francois Sadi Carnot (1837-1894), dan Raja Italia Umberto I (1844-1900).

Pembunuhan-pembunuhan ini dipengaruhi oleh sebuah kelompok Rusia bernama “Kehendak Rakyat,” yang mencoba tetapi gagal untuk membunuh Tsar Alexander Ulyanov (1866-1887), kakak Vladimir Lenin Illich (Lenin).

Lenin (1870-1924), pemimpin revolusi Rusia, menggunakan terorisme sendiri setelah Revolusi Bolshevik Rusia tahun 1917 dan bertanggungjawab untuk melancarkan Teror Merah melawan musuh-musuhnya pada musim panas 1918. Dipimpin oleh Felix Dzerzhinsky (1877-1926), pendiri polisi rahasia Bolshevik, Cheka, metode-metode teroris digunakan terhadap semua kelas sosial, terutama terhadap petani yang menolak menyerahkan padi mereka kepada pemerintah Soviet.

Tetapi penggunaan teror negara oleh Lenin tidak ada apa-apanya jika dibandingkan dengan yang dipraktikkan oleh penggantinya, Josef Stalin (1878-1953). Selama upaya Soviet melakukan kolektivisasi peternakan dan industrialisasi masyarakat, Stalin telah membunuh jutaan warga Soviet. Pada 1934, Gulag (sistem kamp penjara untuk tahanan politik Soviet) menahan jutaan orang yang dituduh melakukan segala macam kejahatan yang dibuat-buat. Gulag, yang kemudian hari menjadi terkenal melalui novel Alexander Solzhenitsyn, The Gulag Archipelago, terdiri atas kamp-kamp kerja yang membentang melintasi Siberia dan jauh di Soviet utara dimana lebih dari satu juta orang meninggal.

Praktik terorisme juga dilakukan oleh rezim Mao Zedong (Komunis Tiongkok). Frank Dikotter, seorang sejarawan Hong Kong yang dikutip melalui The Independent.co.uk, menemukan bahwa saat Mao menerapkan “Great Leap,” atau lompatan besar di tahun 1958-1962 untuk mengejar ketertinggalan ekonomi Tiongkok dari Dunia Barat, sedikitnya 45 juta penduduk Tiongkok telah terbunuh karena dipaksa bekerja, kelaparan atau dipukul dalam kurun waktu tersebut (empat tahun). Peristiwa ini disebut-sebut sebagai pembantaian terbesar ketiga pada bad ke-20 setelah Gulag di Soviet dan Holocaust.

Tak ketinggalan, pemimpin bangsa kita sendiri pun melakukan praktik keji tersebut. Kedutaan besar Amerika Serikat di Jakarta, menyediakan daftar orang yang diduga komunis kepada angkatan bersenjata Indonesia di masa pemerintahan Soeharto (Friend, 2003: 117).

Peristiwa ini terjadi tatkala kelompok komunis Indonesia gagal dalam melancarkan aksi kudeta pada 30 September 1965 yang kemudian diikuti dengan lengsernya Soekarno dari puncak kekuasaan dengan tuduhan mendalangi aksi kudeta tersebut. Kekuasaan Indonesia, kemudian dipegang oleh Soeharto atas pilihan MPRS yang berisi orang-orang pro Soeharto setelah pemecatan para Soekarnois di MPRS.

Jumlah pasti korban genosida terbesar abad ke 20 di Indonesia tersebut sangat sulit untuk diketahui, hanya sedikit akademisi dan wartawan di Indonesia pada saat itu. Sebelum pembantaian usai, angkatan bersenjata Indonesia memperkirakan sekitar 78.500 orang telah meninggal, sedangkan menurut orang-orang komunis, diperkirakan 2 juta orang meninggal. Di kemudian hari angkatan bersenjata memperkirakan 1 juta orang telah dibantai (Vickers, 2005: 159). Sebagian besar sejarawan sepakat bahwa sedikitnya setengah juta orang dibantai dengan cara ditembak, dipenggal, dicekik, dan digorok oleh kelompok militer dan warga sipil.

Dan sekarang, praktik terorisme banyak juga dilakukan oleh negara seperti Israel yang banyak membunuh warga Palestina, Myanmar dengan etnis Rohingya-nya, Suriah dibawa pimpinan Bashar Al Assad yang banyak membantai warganya sendiri, dan tak ketinggalan, tentu saja apa yang pernah dilakukan oleh D3nsus 88 serta penembakan 6 laskar FP1. Hal tersebut menunjukkan, bahwa kecenderungan terorisme bukan hanya dipraktikkan oleh segolongan kaum yang dianggap “radikal”, namun juga oleh negara atau yang lazim juga disebut dengan “State Sponsored Terrorism”.

Sumber:

Friend, T. (2003). Indonesia Destinies. Harvard University Press

Mansbacah, Richard W. & Refferty, Kirsten L. (2008). Introduction to Global Politics. London & New York: Routledge

Mao’s Great Leap Forward ‘Killed 45 Million in Four Years’. www.independent.co.uk/arts-enetertainment/books/news/maos-great-leap-forward-killed-45-million-in-four-years-2081630.html. Diakses pada 1 Juni 2016

Sihbudi, M. Rizal. (1994). Bara Timur Tengah: Islam, Dunia Arab, Iran. Bandung: Mizan

Share the idea

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *