BudayaEvent KLISejarah

Mengungkap Peradaban yang Hilang di Negeri Kita dan Kontribusinya Bagi Dunia

Share the idea

Mencari “One Piece”, sejatinya adalah mencari peradaban yang hilang. Sebab untuk menemukan “One Piece” yang diyakini berada di Pulau Laugh Tale, siapapun harus menjawab misteri dari peradaban yang hilang di abad kekosongan (void century).

Pencarian peradaban yang hilang dalam serial “One Piece”

Berbicara tentang peradaban yang hilang, sebenarnya negeri kita juga punya hal serupa. Tentu, kita tak sedang berbicara kontroversi Atlantis, melainkan peradaban negeri kita yang jarang dibahas, sudah ada sebelum era Hindu Buddha dan Islam, namun memberikan kontribusi besar bagi dunia.

Sayangnya, kita jarang mau membahas peradaban ini.

Pertama, karena sering terselubung mitos yang bertentangan dengan aqidah kita. Kedua, bangsa kita lebih menyukai provokasi dan kurang semangat berliterasi. Ketiga, karena kita nyaman dengan status quo, merasa penulisan sejarah di negeri kita sudah kokoh, dan tak bisa dan tak perlu diubah. Sehingga, kita relatif menutup diri atas penemuan-penemuan baru. Keempat, status quo tersebut menjadikan kita merasa layak punya peradaban nan adiluhung. Bangsa kita adalah bangsa lemah, terbukti bahwa kita pernah dijajah hingga 350 tahun lamanya.

Padahal, 350 tahun masa penjajahan negeri kita, adalah sebuah kebohongan besar.

Kenapa?

Jika masa penjajahan Belanda selesai pada 1942 M, maka 350 tahun sebelumnya adalah tahun 1592 M. Di tahun tersebut, Cornelis de Houtman baru diutus Amsterdam untuk mencari informasi tentang Kepulauan Rempah-Rempah. Rombongannya sendiri baru tiba di Banten pada 1596 M. Namun pada masa itu, kedatangannya pun tak tepat disebut sebagai penjajahan. Sebab, perjalanan de Houtman hanya bersifat eksplorasi, bukan ekspansi.

Petualangan Cornelis de Houtman sendiri harus berakhir pada 1599 M di Aceh. Sebab, ia mati ketika berduel melawan seorang ksatria muslimah yang kita kenal sebagai Laksamana Malahayati.

Bahkan s.d 1904 M, beberapa wilayah seperti Aceh, Bone, maupun Bali masih merdeka dan berdaulat penuh tanpa intervensi Belanda. Dalam berbagai arsip kesultanannya, Aceh sendiri justru berulang kali menyatakan ketundukannya kepada Khilafah ‘Utsmaniyyah yang berjarak ribuan kilometer jauhnya.

Gambaran sosok Laksamana Malahayati dan peringatan perjuangannya

Penjajahan Belanda atas batas-batas wilayah Indonesia yang kita kenal hari ini, justru baru terjadi pada 1904 M, tepatnya setelah Perang Aceh yang berhasil menaklukkan kesultanan terakhir sekaligus terkuat di negeri kita, yakni Kesultanan Aceh. Pasca 1904 M, Joannes Benedictus van Heutsz selaku Gubernur Jenderal Belanda saat itu, kemudian menetapkan batas-batas wilayah kolonial Belanda yang mencakup mayoritas wilayah Indonesia saat ini.  

J, B, van Heutsz (kiri) dan ilustrasi bentangan kepulauan Hindia Timur (kanan) sebagai “perhiasan Belanda yang paling berharga” (Nederland’s kostbaarst sieraad). Garis batas teritorial kekuasaan Belanda inilah yang menjadi objek “tanah air” dalam propaganda nasionalisme Hindia-Belanda.  

Maka wajar jika dalam buku “Munculnya Elite Modern Indonesia”, Robert van Niel menyampaikan, bahwa “Indonesia yang batas-batasnya kita kenal sekarang baru dijajah Belanda secara total dari tahun 1904…”

Artinya, semua wilayah Indonesia sebenarnya cuma dijajah Belanda selama 38 tahun (1904-1942), bukan 350 tahun. Pun jika hanya menghitung masa penjajahan salah satu wilayah, maka tak ada satu wilayah pun yang dijajah hingga 350 tahun lamanya.

Di masa lalu, ungkapan “dijajah 350 tahun” atau ungkapan lain seperti “melawan dengan bambu runcing” mungkin digunakan dalam menggelorakan semangat perlawanan anak negeri yang baru merdeka. Namun, narasi tersebut ternyata justru memunculkan rasa bahwa kita adalah bangsa yang inferior, lemah, tidak tangguh, dan “legowo” atas penjajahan selama itu dan hanya melakukan perlawanan dengan persenjataan seadanya dan teknologi militer yang tak kunjung berkembang.

Penjajahan 350 tahun hanyalah mitos yang seharusnya sudah usang. Sayangnya, narasi serupa masih diajarkan dalam pendidikan sejarah kita.

Padahal, sebenarnya kita adalah bangsa yang hebat dan pernah memiliki peradaban yang berdampak besar bagi dunia: jauh sebelum berkuasanya Romawi, Persia, Babilonia, maupun Mesir.

Dahulu, negeri kita disebut Sundaland (kiri) vs sekarang (kanan)

PERTANYAANNYA, BAGAIMANA SIH KEDIGDAYAAN PERADABAN KITA SEBELUM ERA HINDU-BUDDHA DAN ISLAM?

Saksikan di KLI Lite Talk

Share the idea

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *