Bagaimana Menyikapi Popularitas Gerakan Literasi?

Share the idea

Penulis: Ibnu Aghniya

Setidaknya, ada dua hal yang mesti dicermati oleh setiap elemen yang berkecimpung dalam gerakan literasi. Pertama, meninjau ulang tujuan dan orientasi dari gerakan literasi itu sendiri. Kedua, jenis bacaan yang dikonsumsi sebagai bekal menghadapi ghazwul fikr yang terbentang di depan.

Tentang orientasi gerakan literasi, hal ini tidak bisa dilepaskan dari yang namanya niat. Bagi seorang muslim, niat memiliki kedudukan yang sangat penting. Niat menentukan tujuan. Niat berfungsi untuk membedakan ibadah satu dengan ibadah yang lain, atau membedakan ibadah dengan kebiasaan semata-mata. Dengan niat pulalah sebuah kegiatan biasa dapat bernilai ibadah, jika memang diniatkan mencari keridhaan Allah, tak terkecuali dari aktivitas membaca.

 Dalam konteks tulisan ini, kita mesti meluruskan niat. Untuk apakah kita membaca? Apakah sekedar mengikuti tren? Apakah untuk mendapat label “intelektual”? Atau sekedar untuk berlomba-lomba siapa yang paling banyak membaca buku?

Jika memang dalam benak kita sempat terlintas tujuan-tujuan demikian, sungguh, segera buang jauh-jauh. Karena kesemuanya itu sama sekali tidak akan membawa keberkahan.

Syekh Az-Zarnuji dalam kitab masterpiece-nya yang berjudul “Ta’lim al-Muta’alim” mengingatkan tentang perkara ini, “Penuntut ilmu harus berniat mencari ridha Allah dan negeri akhirat ketika menuntut ilmu, berniat menghilangkan kebodohan, menghidupkan agama dan mempertahankan Islam, karena Islam itu bertahan dengan ilmu. Bukan dengan niat agar orang-orang datang menghampirinya. Bukan pula untuk meraih harta dunia, meraih kemuliaan di hadapan sultan, dan lainnya”.

Target ideal dari niat yang lurus ini adalah menggapai keridhaan Allah. Sedangkan indikator nyatanya adalah ketika ilmu yang didapat betul-betul diamalkan. Sebab, bukankah hakikat ilmu adalah amal?

Martir umat asal Mesir, yakni Sayyid Qutb dalam bukunya yang berjudul, “Ma’alim fi ath-Thariq”, mengulas rahasia di balik perubahan besar dan total generasi Qur’ani binaan Rasulullah, dari sekedar kaum badawi yang bersahaja menjadi agen perubahan umat manusia yang bervisi jauh ke depan, yang menyampaikan risalah Ilahi dengan prestasi yang mengagumkan.

Dikatakan, “Mereka, yaitu para sahabat Rasulullah di dalam generasi pertama itu tidak mendekatkan diri mereka dengan Al-Quran dengan tujuan mencari pelajaran dan bahan bacaan, bukan juga dengan tujuan mencari hiburan dan penglipur lara. Tiada seorang pun dari mereka yang belajar Al-Quran dengan tujuan menambah bekal dan bahan ilmu semata-mata untuk ilmu dan bukan juga dengan maksud menambah bahan ilmu dan akademi untuk mengisi dada mereka sahaja. Bahkan dia pelajari Al-Quran itu dengan maksud hendak belajar bagaimanakah arahan dan perintah Allah dalam urusan hidup peribadinya dan hidup bermasyarakat, juga urusan hidup mereka sendiri dari hidup masyarakat mereka. Dia belajar untuk dilaksanakan serta merta, seperti seorang prajurit menerima, “arahan harian” atau “surat pekeliling” bagi dilaksanakan serta merta!”.

Tesis Sayyid Qutb ini benar adanya. Dengan niat yang lurus, yaitu mengamalkan ilmu, sebuah generasi terbaik pun berhasil dilahirkan.

Selain niat, yang tak kalah penting bagi kita adalah senantiasa memilih dan memilah jenis bacaan yang dipilih bagi kita selaku generasi muda umat.

Bohonglah kita jika menginginkan kebangkitan umat, namun asupan bacaan utama yang kita gemari justru buku-buku filsafat Barat yang di dalamnya sarat dengan racun-racun pemikiran.

Betapa lebih betahnya kita membolak-balik lembar demi lembar karangan para pemikir liberalis-sekular maupun sosialis, ketimbang memperdalam pengetahuan agama kita sendiri.

Betapa Manifesto Komunis karangan Karl Marx atau Zarathustra karya Nietzsche lebih menarik bagi kita ketimbang misalnya kitab Hadits Arba’in karya Imam an-Nawawi. Padahal, mutu karangan para ulama tidak kalah mentereng dan penting dibanding tulisan para filsuf materialis nan atheis tersebut.

Jangan-jangan, masih terselip rasa inferioritas dalam diri kita yang jadi penyebabnya.

Jika memang demikian, maka sungguh, sekali lagi kita mesti membuang jauh-jauh perasaan yang demikian itu.

Lain halnya jika mempelajari karya-karya non-Islami tadi adalah untuk sekedar membanding dan menelanjangi kebobrokannya, tentu ini bisa dimaklumi. Tapi bukankah untuk membanding sekalipun kita mesti punya bekal yang memadai, yaitu pengetahuan agama itu sendiri sebagai hujjah bagi pemikiran asing tersebut?

Jika kita terlalu asyik dengan kajian atau bacaan filsafat tadi tanpa bekal yang mumpuni, ini sangat berbahaya. Sebab, jenis bacaan adalah faktor terpenting yang mempengaruhi konstruksi pemikiran seseorang. Bagi prospek kebangkitan umat, ini hanya akan menciptakan “kebangkitan semu”. Sebuah kebangkitan yang sebetulnya adalah rekayasa musuh-musuh Islam.

Tidakkah kita mengambil pelajaran dari para pendahulu kita yang lebih memilih ide-ide sosialisme, nasionalisme, dan sebagainya sebagai platform perjuangan, hingga kemudian gagal menghadirkan nahdhah (kebangkitan) yang sesungguhnya?

Mengenai hal ini, Syekh Taqiyuddin an-Nabhani mengingatkan kepada kaum terpelajar Islam tentang bagaimana kelompok-kelompok perjuangan di masa lalu mengalami kegagalan karena sebab yang sama. Dikatakan, “Pemikiran semacam ini – secara alami – tidak akan menghasilkan pemahaman yang benar tentang kondisi negeri Islam tersebut. Pemikiran ini juga tidak bisa menghasilkan pemahaman yang benar tentang sebuah thariqah kebangkitan umat. Sebab, pemikiran semacam ini merupakan pemikiran yang terpisah dari perasaan umat, walaupun tidak kosong sama sekali dari perasaan umat. Pengaruh tsaqafah asing ini tidak hanya terbatas pada kaum terpelajar itu saja, tetapi merata dalam masyarakat secara keseluruhan. Akibatnya, pemikiran-pemikiran masyarakat pun terpisah dari perasaannya”.

Akhirul kalam, penulis hanya mengingatkan bahwa tren gerakan literasi harus disikapi secara bijaksana bukannya sekedar euforia, bila memang kita menghendaki suatu kebangkitan yang hakiki.[]

Sumber:

An-Nabhani, Taqiyuddin. 2007. Pembentukan Partai Politik Islam. terj. Zakaria, Labib, dkk. HTI Press: Jakarta.

Al-Utsaimin, Muhammad bin Shalih. 2018. Syarah Al-Arba’in

An-Nawawiyah. Terj. Umar Mujtahid. Ummul Qura: Jakarta.

Az-Zarnuji, Burhanuddin. 2019. Syarh Ta’lim al-Muta’allim. Terj. Umar Mujtahid. Zamzam: Solo.

Qutb, Sayyid. 2009. Ma’alim fi Ath-Thariq. Darul Uswah: Yogyakarta.

Share the idea

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *