Bagaimana Kapitalisme Menghancurkan Lingkungan Kita?

Share the idea

Dalam grafik yang dirilis oleh NASA (cek gambar atau cek https://climate.nasa.gov/evidence/), bisa dilihat fluktuasi tingkat karbondioksida dalam satuan ppm yang mengacu pada masa 800 ribu tahun yang lalu, yakni di zaman Pleistosen yang belum dipengaruhi oleh manusia.
Fluktuasi ini menunjukkan bahwa pemanasan global awalnya terjadi secara alamiah tanpa campur tangan manusia, melalui bumi yang punya siklus tersendiri untuk mendingin dan menghangat.

Tapi setelah Revolusi Industri, yang diinisasi oleh penemuan mesin uap di akhir abad ke-18 yang memicu eksploitasi bahan bakar fosil secara masif, terjadilah lonjakan level CO2 yang sangat tinggi.Pasca Perang Dunia ke-2, tepatnya pada 1950, jumlah karbondioksida itu akhirnya melewati level tertingginya, yang belum pernah dicapai sepanjang 800 ribu tahun sebelumnya.

Jika bumi memiliki masa “Jurassic” yang didominasi oleh reptil raksasa, atau masa Pleistosen yang menjadi setting waktu dalam film “Ice Age”, maka apa yang terjadi pasca 1950 disebut oleh para ahli sebagai masa “Antroposen”: sebuah masa di mana manusia mendominasi bumi secara penuh. Bukan hanya dominan dalam hal jumlah, tapi juga atas berbagai perubahan yang terjadi di dalamnya. Pada masa inilah, industri secara besar-besaran terbentuk dan mampu mengubah kondisi bumi secara masif.

Perubahan iklim, nyatanya hanya salah satu fenomena yang terjadi di masa Antroposen. Kerusakan akibat ulah tangan manusia ini juga memicu perubahan biodiversitas (keanekaragaman hayati) maupun biogeografi dan nokturnalitas hewan. Manusia, meski tubuhnya kecil, nyatanya memiliki tingkat intelejensia berlebih melalui akalnya. Manusia mampu menaklukkan hewan yang berkali-kali lipat dari tubuhnya hanya dengan ilmunya. Itulah mengapa, manusia disebut sebagai super predator: memangsa semua jenis pemangsa, dan menempati posisi paling atas dalam rantai makanan.
Hal ini jugalah yang mempercepat proses evolusi. Jika evolusi dapat terjadi secara alamiah melalui aktivitas mangsa-memangsa dan ketidakmampuan suatu spesies untuk beradaptasi terhadap perubahan lingkungan, maka Antroposen menunjukkan bahwa proses evolusi itu dapat terjadi akibat pengaruh perilaku manusia.

Ketika manusia ingin membuka lahan, maka mereka masuk ke hutan yang merupakan lingkungan asal hewan. Dengan kemampuannya sebagai super predator, hewan dan lingkungan pun kalah. Akhirnya, pola kehidupan hewan pun berubah.

Jika selama ini hewan-hewan seperti gajah dan harimau cenderung aktif hanya di siang hari, maka untuk mencegah kontak dengan manusia, mereka mulai hidup juga di malam hari.

Walhasil, keanekaragaman hayati berkurang. Ketimpangan pun tak hanya terjadi dari sisi ekonomi, melainkan juga terjadi pada populasi hewan.
Hewan ternak misalnya, telah menyumbang 60% biomasa dari total mamalia yang ada di muka bumi. Lebih banyak dari manusia (36%) dan mamalia liar (4%) seperti rusa, harimau, dll.

Ketidakseimbangan deforestisasi, yang diperparah dengan sumber-sumber lain seperti industri minyak, gas, bahkan juga produksi semen melalui akselerasi pembangunan, pada akhirnya turut berkontribusi atas penumpukan gas rumah kaca. Hal ini diperparah dengan berkurangnya tumbuhan yang seharusnya berfotosintesis dan menyerap CO2. Padahal, pelepasan CO2 dari hari ke hari semakin tinggi.

Melalui grafik perubahan iklim yang ditunjukkan di awal, kita bisa melihat bahwa sebelum masa Antroposen, perubahan iklim adalah hal yang wajar terjadi, tapi masanya panjang. Untuk melihat adanya peningkatan signifikan, rentang periode yang digunakan pun bahkan sampai selisih 100 ribu tahun. Tapi dalam kurun 50 tahun terakhir, peningkatannya melebihi akumulasi ratusan ribu tahun periode-periode sebelumnya.

Tak hanya biodiversitas. Anomali juga terjadi pada perubahan geomorfologi (bentuk permukaan bumi). Contohnya bencana banjir.
Melalui ketimpangan ekonomi, manusia yang seharusnya tinggal di lahan yang lebih tinggi, terpaksa tinggal di lahan yang sesungguhnya merupakan dataran yang, secara alami, pasti akan banjir. Dengan frekuensi hujan yang melebihi biasanya, sudah cukup membuat daerah rawan tersebut tergenang.

Sebabnya, daerah itu adalah tempat di mana air sungai meluap. Salahnya adalah, manusia, yang didominasi oleh kalangan menengah ke bawah dan tentu saja tak tahu menahu mengenai kelayakan kondisi lahan, terpaksa mengambil tempat itu untuk tinggal. Hal ini kemudian diperparah dengan kebijakan alih fungsi lahan, AMDAL, maupun minimnya penyediaan fasilitas penyelesaian banjir yang memang perizinan dan regulasinya terpusat pada kebijakan pemerintah.

Dan semua ini, pada akhirnya menggiring kita pada sisa peradaban yang akan datang. Ketika sisa-sisa kehidupan masa kini sudah terendapkan, maka fosil-fosil terkubur yang ditemukan oleh manusia di masa depan bukan lagi candi atau prasasti. Tapi tumpukan sampah plastik, sampah elektronik, hingga otomotif. Hal inilah yang jamak disebut dengan “technofossil”.

Apa penyebab semua ini?

Utamanya adalah kapitalisme. Bahkan ada yang mengusulkan, bahwa zaman ini tidaklah bernama Antroposen, tapi Capitalosen: karena yang merusak itu bukan semua manusia, melainkan para kapitalis.

Kapitalisme, secara sistemik berhasil memfasilitasi pemenuhan kerakusan manusia. Sebagai peradaban yang tidak kompatibel dengan isu lingkungan, indeks keberhasilan suatu negara semata-mata diukur melalui pertumbuhan ekonomi. Bagi kapitalisme, pertumbuhan ekonomi adalah harga mati. Ekonomi harus terus bertumbuh dan mempromosikan gaya konsumsi yang melebihi kebutuhan manusia.Tak heran, jika kampanye berbagai produk, handphone misalnya, terus menerus mengajak kita untuk membeli meskipun kita sudah punya handphone sebelumnya. Bagaimana caranya? Tentu saja dengan mempromosikan fitur-fitur baru. Padahal, kita ‘ga butuh-butuh amat’ fitur itu.

Di sisi lain, kapitalisme juga mengabaikan sumberdaya alam yang tidak bisa diperbaharui. Barang tambang butuh jutaan tahun untuk terbentuk, namun mampu dihabiskan dalam tempo yang sesingkat-singkatnya.

Sebagai sistem yang mendorong individualisme, keegoisan, dan memfasilitasi kerakusan, kapitalisme juga mendukung filosofi Après moi, le déluge: bodo amat dengan generasi setelahnya. Contohnya, urusan sampah dan utang negara.

Ibaratnya, itu masalah yang harus ditanggung oleh generasi selanjutnya. Adapun kewajiban para kapitalis sekarang, adalah menghabiskan dan mengeksploitasi yang ada.

Hasilnya, tentu saja kesenjangan ekonomi yang terus melebar (cek https://www.reddit.com/r/dataisbeautiful/comments/f8f938/oc_gini_coefficient_by_country_2020_year/). Siklus peradaban ini akan terus terjadi, dari generasi ke generasi, hingga manusia beralih pada sistem alternatif yang tentu saja, jauh dari nilai-nilai kapitalisme maupun sosialisme.[]

Share the idea

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *