Rahasia Kekalahan Amerika Serikat dalam Tragedi Pearl Harbour

Share the idea

Ternyata, Presiden Franklin D. Roosevelt (FDR merupakan Presiden AS ke-32) telah memprovokasi Jepang untuk menyerang AS, dan telah mengetahui lebih dulu rencana penyerangan tersebut, namun dengan sengaja tidak memberikan peringatan kepada para panglimanya di kepulauan Hawaii.

Sebelum penyerangan, pesan rahasia Jepang telah berhasil dipecahkan. Bahkan, sebelumnya AS telah diperingatkan oleh pemerintah Inggris, Belanda, Australia, Peru, Korea, dan Uni Soviet, bahwa akan terjadi serangan dadakan atas Pearl Harbour.

Komandan OP-20-SG dari pasukan SIS, yaitu Safford dan Friedman, adalah 2 orang yang paling mengetahui isi pesan rahasia tersebut, dan mengatakan bahwa FDR telah mengetahui bahwa Pearl Harbour akan diserang. Namun, apa yang menyebabkan ia membiarkan serangan tersebut terjadi?

FDR melihat peluang besar bagi AS untuk menjadi negara adidaya dunia setelah PD ke-2 selesai. Untuk mendapat “harta rampasan perang”, AS yang saat itu belum ikut berperang, tentu harus terjun. Namun, publik AS dan Kongres sangat menentang keikutsertaan AS dalam perang di Eropa. Oleh karena itu, FDR membutuhkan serangan tersebut agar ia memiliki alasan untuk melibatkan diri dalam peperangan. Jadi, peristiwa tersebut berfungsi sebagai pintu belakang AS untuk ikut serta dalam Perang Dunia ke-2.

FDR benar-benar menjalankan apa yang pernah diungkapkan oleh Abraham Lincoln (Presiden AS ke-16), yaitu “Sentimen publik adalah segalanya. Dengan dukungan sentimen publik, tak satu pun upaya yang akan gagal. Sebaliknya, tanpa hal itu (sentimen publik) tak ada satu pun yang akan berhasil. Orang yang membentuk opini lebih berkuasa daripada orang yang membuat hukum.”

FDR memerintahkan direktur Red Cross Disaster Relief (Palang Merah Penolong Korban Bencana) untuk menyiapkan upaya pertolongan besar-besaran terhadap korban di Pearl Harbour secara rahasia, karena FDR akan membiarkan serangan itu terjadi. Ketika Direktur Palang Merah mengajukan protes kepada Presiden, FDR mengatakan, “rakyat Amerika tidak akan pernah menyetujui keterlibatan mereka dalam perang di Eropa, hingga mereka diserang di wilayah perbatasannya sendiri.”

Ambisi FDR untuk mengikutkan AS dalam perang juga diungkapkan oleh Perdana Menteri Inggris saat itu, Winston Churchill di dalam Konferensi Atlantik, “bahwa Roosevelt mempunyai keinginan yang sangat kuat untuk terlibat dalam peperangan.” Selanjutnya, Churchill mengirim pesan kawat (telegraf) kepada para anggota kabinetnya, “FDR telah bertekad bulat untuk memasuki perang ini.”

Apa keuntungan AS mengikuti PD ke-2?

Inilah salah satu bentuk kejelian Roosevelt. Ia mempelajari dampak Perang Dunia pertama, dan melakukan analisis terhadap dampak dari Perang Dunia ke-2. Keterlibatan AS akan memberikan mereka “rampasan perang” untuk menciptakan kekuasaan global. Hal ini termasuk dibentuknya organisasi-organisasi internasional yang dibentuk AS pasca Perang Dunia ke-2, seperti PBB, World Bank, IMF, yang berkonsolidasi penuh menjadi suatu imperium baru yang dikuasai sepenuhnya oleh AS.

Jika Perang Dunia pertama telah mengguncang perimbangan kekuatan di Eropa (terutama goyangnya kekuasaan Inggris dan Perancis), maka Perang Dunia ke-2 akan menghancurkan keseimbangan itu secara total, dan mengeluarkan pusat gravitasi dunia dari Eropa. Dengan demikian, perang ini telah menghancurkan tata dunia (world order) –dimana peperangan meletus diniatkan untuk menjaga tata dunia dan perimbangan kekuatan dunia, namun berakhir dengan menghancurkannya.

Dari sinilah, Amerika muncul sebagai negara adidaya baru dan menyampaikan pandangannya untuk membangun tata dunia baru (New World Order).

FDR telah mengorbankan setidaknya 3.000 nyawa di Pearl Harbour, berikut sejumlah pesawat terbang, dan 5 kapal perang. Pasca peristiwa Pearl Harbour, Mahkamah Agung AS memerintahkan penahanan 100.000 warga AS keturunan Jepang. Bagi FDR, korban ini merupakan harga yang murah untuk mendapatkan kekuasaan kolonialisme baru yang jauh lebih besar pasca peperangan. Sebuah kebrutalan pemerintah yang tidak memberikan perlindungan. 

Dari ulasan di atas, kita dapat memahami, mengapa banyak kalangan yang menyebut tragedi 11 September sebagai “tragedi Pearl Harbour kedua”, karena peristiwa Pearl Harbour telah berhasil mengubah opini publik tentang berbagai hal hanya dalam waktu semalam, persis seperti pengeboman World Trade Center. Sejarah berulang dengan pola yang sama, namun aktor yang berbeda.

Sumber:

Muhammad Musa. 2003. Hagemoni Barat terhadap Percaturan Politik Dunia. Wahyu Press. Jakarta.

Salim Fredericks. 2004. Invasi Politik dan Budaya. Pustaka Thariqul Izzah. Bogor.

Share the idea

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *