Jejak Khilafah Di Tanah Abang

Share the idea

Relasi antara Khilafah dan negeri ini, tak sebatas Aceh. Tapi sampai juga ke wilayah lain, termasuk Batavia.

Hal itu dapat kita temukan melalui jejak para konsul ‘Utsmani yang membuka kantor di Batavia dan Singapura. Salah satunya adalah sosok Mehmet Kamil Bey (mulai bertugas pada 1897), yang dalam buku “Khilafah dan Ketakutan Penjajah” disebut sebagai “musuh bebuyutan Snouck Hurgronje” (perhatikan daftar nomor 7).

Daftar konsulat ‘Utsmaniyyah di Batavia. Sumber: Nicko Pandawa. 2021. Khilafah dan Ketakutan Penjajah Belanda. Komunitas Literasi Islam: Bogor.

Saat itu, para konsul ‘Utsmani juga dijadikan perantara oleh kaum muslimin di Hindia-Belanda untuk mengirim anak-anak mereka agar dapat bersekolah di ibukota Khilafah.

Salah satu yang menitipkan anak mereka kepada sang Mehmet Kamil Bey, adalah Sayyid ‘Abdullah bin ‘Alawi al-‘Attas (1840-1929). Ia merupakan pemuka Arab Hadrami di Batavia yang juga menantu dari Sayyid ‘Abd al-Aziz al-Musawi al-Bagdadi, konsul kehormatan pertama ‘Utsmaniyyah di Batavia yang bertugas dalam tempo singkat di tahun 1882.

Sayyid ‘Abdullah al-‘Attas inilah yang kelak akan mendirikan sekolah modern pertama yang memadukan pendidikan Islam dan pendidikan Barat di Batavia, Alatas School, yang beralamat di Tanah Abang.

Salah satu kegiatan murid-murid di Alatas School adalah belajar seni bela diri.

Sumber gambar: Alwi Alatas. Pan-Islamism and Islamic Resurgance in the Netherlands East Indies: The Role of ‘Abd Allāh b. ‘Alwī b. ‘Abd Allāh al-‘Aṭṭās (1840-1929), (Kuala Lumpur: International Islamic University of Malaysia, August 26-28), 29.

Dalam foto tersebut, kita juga dikenalkan pada sosok Muhammad al-Hasyimi (pria yang memakai fez di ujung kiri), Veteran Tunisia yang buron dari penjajah Prancis dan tinggal di Istanbul. Ia sedang mengajarkan seni bela diri di Alatas School, Tanah Abang, Batavia.

Fakta ini tentu menimbulkan beberapa pertanyaan lanjutan.

Pertama, mengapa Mehmet Kamil Bey disebut sebagai musuh bebuyutan Snouck Hurgronje?

Kedua, jika sebutan pada pertanyaan pertama benar, apakah artinya ada konfrontasi antara ‘Utsmani dan Belanda?

Ketiga, bagaimana mungkin ada veteran Tunisia yang tinggal di Istanbul dan mengajar di Tanah Abang?

Simak kisah lengkapnya dalam buku “Khilafah dan Ketakutan Penjajah Belanda” karya Nicko Pandawa

Share the idea

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *