Ketika Seruan Khilafah Bergema di Barat, Timur Tengah, dan Asia

Share the idea

Kondisi dunia tidak lagi sama ketika memasuki abad XXI. Pada 11 September 2001, menara kembar WTC di New York runtuh diakibatkan tabrakan dua pesawat yang sebelumnya “dibajak”. Inilah titik awal strategi besar yang disebut pihak Barat sebagai perang melawan terorisme (War on Terrorism).

Semenjak berakhirnya era Perang Dingin yang ditandai runtuhnya Tembok Berlin di Jerman dan bubarnya Uni Soviet, Barat yang berideologi Kapitalisme berusaha menghancurkan Islam (sebagai satu satunya musuh yang tersisa) untuk melanggengkan kekuasaannya atas dunia. Islam, sebagai agama dengan penganut mayoritas di wilayah Afrika Utara hingga Asia Tenggara, telah mengalami indikasi kebangkitan (sejak keruntuhannya pada 3 Maret 1924), sehingga menjadi ancaman paling nyata bagi mereka. Islam dan peradabannya yang dua abad silam masih menjadi sebuah negara super power, saat ini layaknya raksasa tidur (the sleeping giant) yang dapat bangun kapan saja.

War on terrorism menjadi wacana besar di paruh awal abad ke-21. Strategi perang yang meliputi operasi militer hingga perang pemikiran ini diharapkan minimal mampu mengerem upaya-upaya untuk membangkitkan Islam. Tapi bukannya berhenti, gerakan untuk kembali kepada Islam justru “berlari semakin kencang” di negeri-negeri Islam. Mereka semakin merasakan kebutuhan akan adanya institusi yang melindungi kaum muslimin dari terkaman ganas Barat, seperti yang terjadi di Afghanistan, Iraq, dan Palestina.

Di sisi lain, berbagai operasi intelejen untuk mencitraburukkan Islam melalui berbagai serangan teroris di Amerika Utara dan Eropa Barat justru menjadikan masyarakat Barat sangat penasaran tentang Islam. Kajian-kajian Islam di Barat semakin semarak, yang berpengaruh pada semakin banyaknya jumlah muallaf di sana. Islam di Barat tidak hanya sekedar identitas yang melindungi kaum minoritas atau sekadar lambang perlawanan terhadap hegemoni mayoritas, namun telah menjadi sebuah identitas yang ingin disamakan dengan identitas-identitas lain. Entitas Islam di Barat semakin berani menyatakan kepada publik terkait berbagai problematika hidup di kalangan masyarakat Barat dan solusinya menurut Islam. Maka, Islam telah menjadi sebuah identitas intelektual baru di Barat, yang sedikit demi sedikit menghapus mitos intelektual Judeo-Kristian yang perlahan semakin terlihat jelas kelemahannya.

Di negeri-negeri Islam yang notabene merupakan tempat tinggal asli kaum muslimin, wacana-wacana “kembali kepada Islam” semakin mengemuka, baik di wilayah Arab maupun Non Arab. Mulai dari Maroko hingga Iraq, wacana ini semakin menghangat seiring munculnya serangan-serangan pasukan Barat di wilayah tersebut. Pendudukan Israel dan kepemimpinan para diktator militeristik, juga faktor kemiskinan dan kesejahteraan, tidak menyurutkan semangat para pendakwah, intelektual, dan para pemuda untuk mengkaji Islam dan melakukan perlawanan.

Puncaknya adalah pada 20 Desember 2010, ketika aksi bakar diri seorang pemuda di Tunis Tunisia memicu protes besar lintas wilayah, dari satu negara ke negara di Timur Tengah, layaknya sebuah efek domino. Sepanjang 2011, tak kurang 3 penguasa diktator telah digulingkan oleh massa rakyat di Tunisia, Libya, dan Mesir. Sepanjang tahun-tahun itu, khotbah-khotbah di seluruh masjid-masjid di Timur Tengah mengangkat topik tegaknya Khilafah pasca digulingkannya penguasa-penguasa diktator.

Barat sempat kelimpungan menghadapi kondisi Timur Tengah, namun dengan jebakan pemilu demokrasi, mereka dapat kembali menguasai keadaan khususnya di Tunisia dan Mesir. Di lain pihak, revolusi “Musim Semi Arab – Arab Spring” terhenti di Syria, ketika rakyat muak dan menolak solusi demokrasi Barat, sehingga menyerukan tegaknya Khilafah. Barat tak kehilangan akal, sehingga berkonspirasi dengan melahirkan ISIS.

Konflik di Syria menjadi konflik paling berdarah di abad ini. Hingga tulisan ini dibuat, kondisi di Timur Tengah masih suram. Libya terlibat perang sipil, penguasa diktator kembali ke tampuk kekuasaan di Mesir dengan didukung Amerika Serikat, kondisi Syria semakin porak poranda, sedangkan Amerika mampu mengadu domba antara Saudi Arabia dengan Iran dan Qatar di sisi lain, sehingga kedudukan Israel di Palestina semakin kokoh. Kebangkitan Islam di Timur Tengah masih jauh dari harapan.

Namun, kaum muslimin juga meliputi wilayah non Arab. NIC menyampaikan dalam laporan tahunannya, agar Barat juga mewaspadai Turki, Pakistan, Malaysia, dan Indonesia sebagai kantong-kantong besar Islam Sunni yang diperkirakan akan menjadi tempat kebangkitan Islam di masa yang akan datang.

Turki dengan sejarah panjangnya sebagai pemimpin Islam di masa Utsmani, saat ini tengah dibangkitkan oleh Recep Tayeb Erdogan. Di sisi lain, Pakistan merupakan negeri muslim pertama yang melakukan uji coba senjata nuklir, yang hari ini kekuatannya terus-menerus dilemahkan oleh Barat. Malaysia, sebagai satelit Inggris di Asia Tenggara adalah negeri yang kuat secara ekonomi dan politik, stabil dan mampu melewati krisis ekonomi Asia pada tahun 1996. Malaysia juga mampu menjadi mercusuar pendidikan Islam di kawasan Asia Timur. Penguasa Malaysia juga secara cerdas memainkan opini-opini anti Barat, sehingga mendapat kedudukan istimewa di kalangan kaum muslimin.

Khusus wilayah Asia Timur yang menjadi tempat Malaysia dan Indonesia, Al-‘Allamah Syekh Taqiyuddin An-Nabhani menyoroti wilayah ini sebagai wilayah dimana kaum muslimin memiliki semangat untuk melawan penjajahan dan diktatorisme yang lebih tinggi dibandingkan negeri muslim yang lain. Hal ini dibuktikan dengan penjajahan secara fisik yang telah hilang dan pempimpin diktator seperti Suharto telah lama tumbang. Permasalahan utama umat Islam wilayah Asia Timur adalah rendahnya pemikiran politik Islam, sehingga umat Islam dapat dengan mudah dikuasai oleh penjajah melalui berbagai strategi politik dan ekonomi.

Di Indonesia misalnya, negeri ini telah memasuki era keterbukaan sejak reformasi melanda pada tahun 1998. Namun, politik Indonesia yang bercorak demokrasi terbuka justru melahirkan partai politik dan pemimpin-pemimpin yang tidak cakap dan cenderung korup. Partisipasi publik pada gelaran politik semakin tahun semakin rendah karena ketidakpercayaan pada partai politik, termasuk partai politik Islam yang banyak politikusnya terlibat skandal-skandal politik. Sebagaimana uraian Greg Fealy, umat Islam Indonesianis dari Australia juga mulai tidak percaya kepada ormas-ormas besar seperti NU dan Muhammadiyah yang hanya sibuk menempatkan dirinya sebagai pendukung penguasa dan meninggalkan edukasi terhadap umat.[]

Sumber:

A. C. S. Peacock, dkk. 2015. From Anatolia to Aceh: Ottomans, Turks, and Southeast Asia (Proceeding of the British Academy).

British Academy Publication: London.

Ahmad Mansur Suryanegara. 2009. Api Sejarah jilid 1-2. Salamadani Pustaka Semesta: Jakarta.

A. H. Nasution. 2013. Pokok-Pokok Gerilya. Narasi: Yogyakarta.

Azyumardi Azra. 2004. Jaringan Ulama Timur Tengah dan Kepulauan Nusantara Abad XVII dan XVIII: Akar Pembaruan Islam Indonesia. Kencana: Jakarta.

Beggy Rizkiansyah, dkk. 2017. Dari Kata Menjadi Senjata. Jurnalis Islam Bersatu: Jakarta.

Editor Kompas. 2018. Kita Hari Ini 20 Tahun yang Lalu. Kepustakaan Populer Gramedia: Jakarta.

Eugene Rogan. 2016. The Fall of Khilafah. Serambi: Jakarta.

Eugene Rogan. 2017. Dari Puncak Khilafah. Serambi: Jakarta.

Frial Ramadhan Supratman. Makalah, “Rafet Bey, The Last Ottoman Consul in Batavia The First During World War 1911-1924”.

Frial Ramadhan Supratman. Makalah, “Makam Sayyid Husein bin Abu Bakar al-Aydarus: Jaringan Spiritual Usmani di Indonesia akhir abad ke-19.”

Frial Ramadhan Supratman. Makalah, “Before the Ethical Policy: The Ottoman State, Pan-Islamism and Modernisation in Indonesia 1898-1901.”

Madawi Al Rasheed, dkk. 2012. Demystifying the Caliphate: Historical Memory and Contemporary Contexts. Oxford University Press: Oxford.

Majalah Tempo (edisi khusus) H. Agus Salim.

Majalah Tempo (edisi khusus) Panglima Sudirman.

Majalah National Geographic Indonesia edisi Islam di Indonesia.

Majalah National Geographic Indonesia edisi Menjadi Muslim Di Amerika.

M. C. Ricklefs. 2013. Mengislamkan Jawa: Sejarah Islamisasi di Jawa dan Penentangnya dari 1930 sampai Sekarang. Serambi: Jakarta.

M. C. Ricklefs. 2005. Sejarah Indonesia Modern: 1200 – 2004. Serambi: Jakarta.

M. C. Ricklefs. 2002. Yogyakarta di Bawah Sultan Mangkubumi, 1742 – 1749: Sejarah Pembagian Jawa. Mata Bangsa: Yogyakarta.

Moeflich Hasbullah. 2017. Islam dan Transformasi Masyarakat Nusantara. Kencana: Jakarta.

MR Kurnia, dkk. 2013. Menjadi Pemikir dan Politisi Islam. Al Azhar Press: Bogor

Peter Carey. 2011. Kuasa Ramalan: Pangeran Diponegoro dan Akhir Tatanan Lama di Jawa 1785 –

1855. Kepustakaan Populer Gramedia: Jakarta.

Reza Pankhurst. 2013. The Inevitable Caliphate?: The History of The Struggle for Global Islamic Union, 1924 to the present. Oxford University Press: Oxford.

Rizki Lesus. 2017. Perjuangan yang Dilupakan. Pro-U Media: Yogyakarta.

Septian AW. 2013. Peran Surat Kabar Bendera Islam Dalam Perjuangan Khilafah 1924 [Skripsi]. Universitas Indonesia: Depok.

Taqiyuddin An Nabhani. 2009. Konsepsi Politik Hizbut Tahrir. HTI Press: Jakarta.

Taqiyuddin An Nabhani. 2009. Mafahim Hizbut Tahrir. HTI Press: Jakarta.

Taqiyuddin An Nabhani. 2009. Pembentukan Partai Politik Islam. HTI Press: Jakarta.

Taqiyuddin An Nabhani. 2014. Terjun ke Masyarakat. Khilafah Press: Jakarta

Widji Saksono. 1995. Mengislamkan Tanah Jawa: Telaah atas Metode Dakwah Walisongo. Mizan: Bandung.

Share the idea

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *